Kasus Bayi Debora, Deteksi Gangguan Kesehatan pada Bayi Prematur  

Reporter

Editor

Ilustrasi bayi prematur. shutterstock.com

TEMPO.CO, Jakarta - Kasus bayi Debora mencuat karena diduga tidak mendapatkan perawatan maksimal di Rumah Sakit Mitra Keluarga Kalideres, Jakarta Barat. Saat dibawa ke rumah sakit, bayi Debora mengalami sesak napas dan batuk berdahak. Baca: Ayah Bayi Debora Serahkan Rp 5 Juta, Admin RS Mitra Bilang Kurang

Ibu bayi Debora, Henny Silalahi, memutuskan membawa putrinya ke rumah sakit karena berkeringat banyak, dan sudah seminggu terserang flu. Tiara Debora, bayi berusia empat bulan ini lahir prematur dan memiliki masalah jantung yang sedang dalam proses pengobatan.

Peristiwa ini membuat publik mencari referensi tentang perawatan bayi prematur, khususnya gangguan kesehatan yang rentan terjadi. Mengutip Mayo Clinic, bayi yang lahir prematur tidak selalu mengalami komplikasi, namun kemungkinan punya masalah kesehatan jangka pendek dan jangka panjang. Gangguan kesehatan tersebut dapat dilihat dari sejak lahir, namun beberapa di antaranya tidak berlangsung sampai dewasa.

Gangguan kesehatan jangka pendek yang kerap dialami oleh bayi yang lahir prematur adalah masalah pernapasan. Bayi prematur mengalami kesulitan bernapas karena sistem pernapasan yang belum sempurna. Berangkat dari masalah pernapasan ini, bayi prematur rentan terkena penyakit paru kronis atau displasia bronkopulmoner. Baca jug: Tragedi Bayi Debora: Pasien Gawat Darurat Harus Diutamakan

Selain masalah pernapasan, bayi prematur juga mengalami kesulitan dalam beradaptasi terhadap suhu lingkungan di sekitarnya. Bayi prematur bisa kehilangan panas tubuh dengan cepat karena mereka tidak banyak memiliki lemak. Tubuh bayi prematur tidak bisa melindungi diri dari suhu dingin dan melawan apa yang terjadi di permukaan kulitnya. Jika suhu tubuh turun terlalu rendah, bayi prematur berpotensi mengalami hipotermia yang mengakibatkan masalah pernapasan dan rendahnya kadar gula darah.

Bayi prematur bisa menghabiskan seluruh energi yang didapat dari menyusui hanya untuk menjaga tubuh tetap hangat, namun tidak membantu pertumbuhannya atau badannya sulit bertumbuh besar. Itu sebabnya kebanyakan bobot bayi prematur lebih rendah dan seringkali membutuhkan panas tambahan dari inkubator sampai mereka lebih besar dan mampu mempertahankan suhu tubuh tanpa bantuan.

Untuk komplikasi jangka panjang, beberapa masalah kesehatan yang kerap dialami bayi prematur adalah asma dan gangguan makan. Bayi prematur juga berisiko tinggi mengalami sindrom kematian bayi mendadak atau SIDS. SIDS seringkali tidak terduga dan rawan terjadi pada bayi di bawah usia 1 tahun. Artikel lainnya: Soal Bayi Debora, Puan Maharani Evaluasi SOP Rumah Sakit Non-BPJS

ASTARI PINASTHIKA SAROSA

Baca juga:
Aturan Memandikan Bayi Prematur
Ibu Bertubuh Pendek Lebih Mungkin Lahirkan Bayi Prematur








Polda Duga Ada Ritual Tertentu di Kasus Satu Keluarga Tewas di Kalideres, Ada Mantra dan Kemenyan

8 menit lalu

Polda Duga Ada Ritual Tertentu di Kasus Satu Keluarga Tewas di Kalideres, Ada Mantra dan Kemenyan

Polda Metro Jaya menduga ada ritual tertentu perihal satu keluarga tewas yang beranggotakan empat orang di Kalideres, Jakarta Barat.


Belum Teken Izin Impor Beras, Mendag Masih Beri Waktu Bulog dan Kementan Cukupi Stok

16 menit lalu

Belum Teken Izin Impor Beras, Mendag Masih Beri Waktu Bulog dan Kementan Cukupi Stok

Zulhas menampik keputusan untuk impor beras dan belum mengeluarkan perizinan untuk kebijakan ini.


Majelis Hakim PTUN Ambon Dianggap tak Utuh Memahami Legal Standing Gugatan Pembekuan LPM Lintas

19 menit lalu

Majelis Hakim PTUN Ambon Dianggap tak Utuh Memahami Legal Standing Gugatan Pembekuan LPM Lintas

LBH Pers memandang, majelis hakim PTUN Ambon dianggap tidak membaca AD ART LPM Lintas secara keseluruhan mengenai masa kepengurusan


160 Jenderal Rusia Tewas di Perang Ukraina Selama 9 Bulan Perang

21 menit lalu

160 Jenderal Rusia Tewas di Perang Ukraina Selama 9 Bulan Perang

Perang Rusia Ukraina menyebabkan ribuan orang tentara tewas. Rusia menderita kerugian terbesar, sebanyak 160 orang yang tewas adalah jenderal.


Emoh Ikut Campur soal UMP 2023, Ketua Kadin: Tidak Boleh Cawe-cawe

24 menit lalu

Emoh Ikut Campur soal UMP 2023, Ketua Kadin: Tidak Boleh Cawe-cawe

Arsjad mengatakan Kadin menghormati proses kenaikan UMP 2023.


Yoon Suk-yeol Siap Bertindak Tegas Jika Korea Utara Ngotot Uji Coba Lagi Senjata

26 menit lalu

Yoon Suk-yeol Siap Bertindak Tegas Jika Korea Utara Ngotot Uji Coba Lagi Senjata

Yoon Suk-yeol mengungkap dia dan mitra-mitra Korea Selatan siap merespon Korea Utara dengan tindakan yang belum pernah terjadi sebelumnya.


Takhta Panglima TNI untuk Angkatan Laut

26 menit lalu

Takhta Panglima TNI untuk Angkatan Laut

Jokowi mengajukan calon tunggal Panglima TNI, yakni Laksaman Yudo Margono. Pimpinan TNI Angkatan Laut ini lebih dipilih oleh Presiden ketimbang KSAD.


Kepala BIN Budi Gunawan: Kerutan Pemimpin Versi Jokowi 100 Persen Identik dengan Prabowo

26 menit lalu

Kepala BIN Budi Gunawan: Kerutan Pemimpin Versi Jokowi 100 Persen Identik dengan Prabowo

Kepala BIN Budi Gunawan ikut angkat suara menanggapi omongan Presiden Jokowi soal calon presiden yang keningnya berkerut dan rambut putih.


China Percepat Upaya Vaksinasi COVID-19 terhadap Lansia

33 menit lalu

China Percepat Upaya Vaksinasi COVID-19 terhadap Lansia

Tingkat vaksinasi yang rendah di China, terutama di antara populasi yang lebih tua, dianggap memperpanjang pendekatan keras nol-COVID-19


PLN dan Masyarakat Ketenagalistrikan Indonesia Dorong Percepatan Transisi Energi

36 menit lalu

PLN dan Masyarakat Ketenagalistrikan Indonesia Dorong Percepatan Transisi Energi

PLN menargetkan 51,6 persen tambahan pembangkit berbasis EBT atau sekitar 20,9 GW hingga 2030.