Jumat, 23 Februari 2018

Kasus Bayi Debora, Deteksi Gangguan Kesehatan pada Bayi Prematur  

Oleh :

Tempo.co

Kamis, 14 September 2017 08:38 WIB
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kasus Bayi Debora, Deteksi Gangguan Kesehatan pada Bayi Prematur  

    Ilustrasi bayi prematur. shutterstock.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Kasus bayi Debora mencuat karena diduga tidak mendapatkan perawatan maksimal di Rumah Sakit Mitra Keluarga Kalideres, Jakarta Barat. Saat dibawa ke rumah sakit, bayi Debora mengalami sesak napas dan batuk berdahak. Baca: Ayah Bayi Debora Serahkan Rp 5 Juta, Admin RS Mitra Bilang Kurang

    Ibu bayi Debora, Henny Silalahi, memutuskan membawa putrinya ke rumah sakit karena berkeringat banyak, dan sudah seminggu terserang flu. Tiara Debora, bayi berusia empat bulan ini lahir prematur dan memiliki masalah jantung yang sedang dalam proses pengobatan.

    Peristiwa ini membuat publik mencari referensi tentang perawatan bayi prematur, khususnya gangguan kesehatan yang rentan terjadi. Mengutip Mayo Clinic, bayi yang lahir prematur tidak selalu mengalami komplikasi, namun kemungkinan punya masalah kesehatan jangka pendek dan jangka panjang. Gangguan kesehatan tersebut dapat dilihat dari sejak lahir, namun beberapa di antaranya tidak berlangsung sampai dewasa.

    Gangguan kesehatan jangka pendek yang kerap dialami oleh bayi yang lahir prematur adalah masalah pernapasan. Bayi prematur mengalami kesulitan bernapas karena sistem pernapasan yang belum sempurna. Berangkat dari masalah pernapasan ini, bayi prematur rentan terkena penyakit paru kronis atau displasia bronkopulmoner. Baca jug: Tragedi Bayi Debora: Pasien Gawat Darurat Harus Diutamakan

    Selain masalah pernapasan, bayi prematur juga mengalami kesulitan dalam beradaptasi terhadap suhu lingkungan di sekitarnya. Bayi prematur bisa kehilangan panas tubuh dengan cepat karena mereka tidak banyak memiliki lemak. Tubuh bayi prematur tidak bisa melindungi diri dari suhu dingin dan melawan apa yang terjadi di permukaan kulitnya. Jika suhu tubuh turun terlalu rendah, bayi prematur berpotensi mengalami hipotermia yang mengakibatkan masalah pernapasan dan rendahnya kadar gula darah.

    Bayi prematur bisa menghabiskan seluruh energi yang didapat dari menyusui hanya untuk menjaga tubuh tetap hangat, namun tidak membantu pertumbuhannya atau badannya sulit bertumbuh besar. Itu sebabnya kebanyakan bobot bayi prematur lebih rendah dan seringkali membutuhkan panas tambahan dari inkubator sampai mereka lebih besar dan mampu mempertahankan suhu tubuh tanpa bantuan.

    Untuk komplikasi jangka panjang, beberapa masalah kesehatan yang kerap dialami bayi prematur adalah asma dan gangguan makan. Bayi prematur juga berisiko tinggi mengalami sindrom kematian bayi mendadak atau SIDS. SIDS seringkali tidak terduga dan rawan terjadi pada bayi di bawah usia 1 tahun. Artikel lainnya: Soal Bayi Debora, Puan Maharani Evaluasi SOP Rumah Sakit Non-BPJS

    ASTARI PINASTHIKA SAROSA

    Baca juga:
    Aturan Memandikan Bayi Prematur
    Ibu Bertubuh Pendek Lebih Mungkin Lahirkan Bayi Prematur




     

     

    Selengkapnya
    Grafis

    Deretan Kasus Rizieq Shihab, 11 Tuntutan dalam 9 Bulan

    Kabar kepulangan Rizieq Shihab pada 21 Februari 2018 membuat banyak pihak heboh karena sejak 2016, tercatat Rizieq sudah 11 kali dilaporkanke polisi.