Sebab Obat Antibiotik Harus Dihabiskan  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi obat-obatan/vitamin/suplemen. REUTERS/Srdjan Zivulovic

    Ilustrasi obat-obatan/vitamin/suplemen. REUTERS/Srdjan Zivulovic

    TEMPO.CO, Jakarta - Salah satu masalah kesehatan serius dalam dua tahun terakhir adalah Resistensi Antimikroba (AMR). AMR salah satu tantangan kesehatan terbesar di berbagai negara termasuk Indonesia.

    AMR terjadi ketika mikroorganisme seperti bakteri, virus, jamur, dan parasit mengalami perubahan sehingga obat-obatan yang dikonsumsi pasien untuk menyembuhkan infeksi yang ditimbulkan mikroorganisme tersebut tidak efektif. Akibatnya, mikroorganisme makin sulit ditangani.

    Fenomena itu terungkap dalam Pertemuan Ilmiah Tahunan yang diselenggarakan Pengurus Pusat Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) bersama Pengurus Daerah IAI Banten, di ICE BSD Tangerang. Salah satu contoh pemicu munculnya resistensi antimikroba adalah penggunan antibiotik yang tak sesuai anjuran. Jika seseorang yang sakit mendapat obat antibiotik, maka obat tersebut harus dihabiskan dan jangan sampai tersisa apalagi masih disimpan.

    Pengidap Tuberculosis atau TB misalnya wajib berobat sampai tuntas. Jika pengobatannya tidak selesai, risiko yang dihadapi adalah pemicu penyakit ini yang dinamakan mycobacterium tuberculosis akan semakin resisten terhadap berbagai obat yang diberikan atau menjadi Multi-Drugs Resistance (MDR). Apabila kondisinya seperti ini, maka kondisi pasien akan semakin sulit dipulihkan.

    "AMR yang terjadi pada manusia, hewan, dan tanaman dapat menyebar antara satu dengan yang lain bahkan menyebar lintas negara. Sehingga penyakit infeksi makin susah disembuhkan. Dari tahun ke tahun, temuan AMR meningkat sementara di sisi lain temuan antimikroba baru malah semakin menurun," terang Direktorat Jenderal Farmasi dan Alat Kesehatan, Dra Maura Linda Sitanggang, PhD, Apt.

    Apabila kondisi ini dibiarkan, sepak terjang mikroorganisme di dalam tubuh anggota keluarga tidak dapat diatasi dengan obat sesuai dosis. Dibutuhkan antimikroba tingkat dua dan tiga yang notabene memiliki efek samping lebih banyak. Proses pengobatannya juga lebih lama dan biaya biayanya lebih mahal.

    "Ini menyebabkan angka kesakitan dan angka kematian akibat AMR tahun 2014 mencapai 700 ribu jiwa. Dengan makin cepatnya penyebaran mikroorganisme, diperkirakan pada tahun 2050 angka kematian akan mencapai 10 juta jiwa per tahun. Angka itu akan lebih besar dari angka kematian akibat kanker," ujar Maura.

    Asia, termasuk Indonesia, akan merasakan dampak paling besar. Jika tidak segera diantisipasi akan berdampak pada merosotnya kesehatan masyarakat, ekologi, ketahanan pangan, pembangunan secara global, dan membebani anggaran kesehatan pemerintah.

    TABLOIDBINTANG

    Baca juga:

    Pakai Minyak Kelapa Buat Diet, Cek Dulu Penelitiannya
    Usia Muda tapi Jantung Bisa Lebih Tua, Apa Saja Penyebabnya
    Mata Kedutan Jangan Pikir Macam-macam, Ada Penjelasan Ilmiahnya


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Cara Memberlakukan Kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar

    Presiden Joko Widodo telah menandatangai PP No 21 Tahun 2020 yang mengatur pelaksanaan Pembatasan Sosial Berskala Besar menghadapi virus corona.