3 Alasan Tak Boleh Membawa Ponsel ke Toilet

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi menggunakan ponsel di toilet. dailymail.co.uk

    Ilustrasi menggunakan ponsel di toilet. dailymail.co.uk

    TEMPO.CO, JakartaAnda yang mempunyai kebiasaan membawa smartphone atau gawai saat melakukan "ritual" dalam toilet sebaiknya menghentikan kebiasaan ini. 

    1. Membuat cuci tangan sia-sia
    Saat Anda membawa smartphone ke dalam toilet, sama artinya Anda mengeksposnya pada berbagai kuman dan salmonella seperti bakteri. Ahli kesehatan mengatakan, kalangan milenial bahkan membawa tablet mereka ke dalam kamar mandi. 

    Baca juga:
    Trik Kanaya Tabitha Belajar dari Kasus Anniesa Hasibuan
    Koleksi Tas Anniesa Hasibuan, Paling Murah Seharga Ongkos Umrah
    Orang Bermata Coklat Ciri Pemimpin, Mata Hijau Sensual

    Saat Anda sesekali membersihkan bokong dengan tangan kemudian menggenggam gawai ini bahkan menjadikan cuci tangan yang Anda lakukan tak berarti. Pada saat itu kuman dan bakteri telah menempel ke gawai Anda. 

    ADVERTISEMENT

    2. Kontaminasi bakteri lebih banyak di toilet umum
    Kadar kontaminasi bakteri dan kuman lebih banyak di dalam toilet umum. Ingat, tak hanya Anda yang mengakses toilet umum. Toilet di dalam kantor, restoran atau hotel juga berisiko terkontaminasi banyak bakteri. 

    3. Gawai tempat bakteri berkembangbiak
    Peluang pembiakan bakteri lebih tinggi pada smartphone karena alat ini sering memanas, dengan demikian, memberikan lingkungan yang hangat bagi bakteri untuk bertahan dan tumbuh. 

    Anda mungkin menggenggam smartphone di tangan yang sama setelah Anda mengenggam makanan. Dalam prosesnya, Anda mungkin menyediakan bakteri dengan minyak yang menempel di tangan setelah makan dan menempel di smartphone.  Demikian seperti dilansir laman Times of India.

    ANTARA


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PPKM Darurat vs PPKM Level 4: Beda Istilah Sama Rasa

    Instruksi Mendagri bahwa PPKM Level 4 adalah pemberlakukan pembatasan kegiatan di Jawa dan Bali yang disesuaikan dengan level situasi pandemi.