Sarapan Tak Cuma Makan Pagi, Khasiatnya Langsing dan Gigi Sehat

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • sxc.hu

    sxc.hu

    TEMPO.CO, Jakarta - Tak pernah sarapan gara-gara takut gemuk? Mungkin persepsi itu harus segera diubah. Sebuah penelitian dari Departemen Psikologi Universitas Texas yang dirilis Journal of Nutrition beberapa waktu lalu, mengungkapkan bahwa asupan pangan di pagi hari ternyata berkorelasi negatif dengan asupan pangan total selama satu hari. Artinya, sarapan akan mengurangi porsi makanan yang dimakan pada siang dan malam hari.

    Salah seorang peneliti, John M de Castro, menyebutkan bahwa melewati pagi hari tanpa sarapan mengakibatkan perubahan pada ritme, pola, dan siklus waktu makan. Karena itu, tanpa sarapan, orang cenderung lebih banyak makan pada siang dan malam hari. Castro juga menyebutkan bahwa makanan pada pagi hari lebih mengenyangkan dibandingkan makan pada siang dan malam hari. (baca: Ada 9 Jenis Minyak untuk Memasak, Mana yang Baik untuk Kesehatan)

    Sarapan juga merupakan energi yang sangat dibutuhkan tubuh untuk memulai aktivitas kesehariannya. Bayangkan saja, jarak waktu antara makan malam dan makan pagi sekitar delapan hingga 12 jam. Selama itu, bahkan saat kita tidur, tubuh tetap membutuhkan energi untuk aktivitas organ-organnya.

    Beberapa jam setelah bangun, energi yang tersisa masih bisa digunakan. Dan, energi yang dibutuhkan biasanya adalah jenis yang berasal dari hasil istirahat dan pikiran segar setelah tidur malam. Namun, energi tipe ini biasanya juga menguras cadangan sehingga tubuh menjadi stres. Pasalnya, saat itu kadar gula darah sedang turun, sehingga tubuh terasa lemah, konsentrasi terganggu, cepat marah. Anda pun terlihat lesu dan lelah. Nah, apa jadinya bila tubuh tak segera disuplai energi pagi itu?

    ADVERTISEMENT

    Makan pagi yang dilakukan secara rutin dan teratur, ternyata terbukti juga bisa menjadi kunci sehat dan berumur panjang. Menurut Mark Pereira, salah seorang peneliti dari Harvard Medical School, sarapan bisa mengurangi risiko obesitas, diabetes dan serangan jantung.

    Sarapan juga sangat berguna  mencegah masalah kesehatan gigi dan mulut pada anak-anak. Journal of the American Dental Association mengungkapkan bahwa anak-anak usia 2-5 tahun yang tidak sarapan, berisiko kena masalah kesehatan gigi dan mulut empat kali lipat lebih besar dibandingkan anak-anak yang selalu sarapan teratur. Mengapa bisa begitu? Anak-anak yang teratur sarapan, cenderung lebih sedikit ngemil, dibanding anak-anak yang tidak sarapan. Nah, dampak ngemil inilah yang menyebabkan munculnya masalah dengan gigi. (baca: Pekerja Wanita Harus Deteksi Dini Kanker, Ini Kata Ganjar Pranowo)

    Meski sarapan begitu penting, tapi jenis sarapan pun ternyata menentukan fungsinya. Sebab, pada kasus tertentu, meski sarapan teratur, tapi badan tetap merasa lelah. Coba perhatikan lagi menu sarapan yang Anda makan pagi itu. Jenis sarapan yang terlalu banyak lemak dan kalori justru akan meningkatkan produksi serotonin dalam otak. Akibatnya Anda justru akan merasa lemas dan mengantuk.

    Para peneliti dari Universitas Sydney, Australia melakukan riset tentang perbandingan pengaruh antara sarapan pagi yang berlemak tinggi dengan sarapan pagi yang lebih banyak karbohidratnya. Kandungan nutrisi dan kalori kedua jenis sarapan itu sama dan seimbang.

    Hasilnya? Mereka yang sarapan dengan santapan tinggi lemak, ternyata lebih cepat lapar. Sedangkan, kelompok ”berlemak” mulai ngemil di antara waktu sarapan dan makan siang. Sehingga tak heran kalau total asupan kalorinya terus meningkat. Sebaliknya, kelompok tinggi karbohidrat bisa menahan lapar lebih lama. Yang menarik, kelompok ini rupanya lebih smart dan lebih waspada selama riset dilakukan.

    Para ahli makanan menganjurkan beberapa jenis makanan sehat untuk sarapan. Antara lain sereal, roti, dan susu.  Sereal dan roti mengandung serat yang tak larut, sehingga selain bisa menahan lapar lebih lama,  zat gizi itu pun diyakini bisa menjaga berat badan dan mengurangi risiko penyakit kanker usus.

    Sementara susu, merupakan minuman yang sarat dengan gizi. Selain vitamin-vitamin, mineral,  lemak dan protein, susu juga mengandung laktose yang mampu menekan pembusukan protein dalam usus dan menghalangi pertumbuhan organisme patogen penyebab penyakit. (baca: Diabetes: Cara Mudah Turunkan Gula Darah)

    Dengan adanya laktose tersebut,  maka anak-anak yang dibiasakan minum susu pada usia pertumbuhannya akan lebih cerdas, karena laktosa pun berperan penting dalam  metabolisme otak.

    SUSAN


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PPKM Level 4 dan 3 di Jawa dan Bali, Ada 33 Wilayah Turun Tingkat

    Penerapan PPKM Level 4 terjadi di 95 Kabupaten/Kota di Jawa-Bali dan level 3 berlaku di 33 wilayah sisanya. Simak aturan lengkap dua level tadi...