Lari Maraton Bikin Sehat Jiwa dan Raga, Asalkan...

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi laki-laki dan wanita berlari bersama. shutterstock.com

    Ilustrasi laki-laki dan wanita berlari bersama. shutterstock.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Lari maraton sejauh 42 kilometer adalah sasaran para penggemar olahraga lari. Mereka menekuni hobi itu secara bertahap, termasuk saat mengikuti lomba, mulai dari 5 kilometer, 10 kilometer, setengah maraton, sampai akhirnya maraton penuh. Baca: Panduan Bagi Pemula Sebelum Ikut Lari Maraton

    Untuk bisa berlari maraton penuh tentu perlu latihan khusus. Sebelum melakukannya, pahami dulu manfaat dan bahaya yang ditimbulkan. Pelajari juga bagaimana menghindari cedera pada lari jarak jauh ini.

    Salah satu manfaat dari lari jarak jauh adalah aspek mental, terutama kebanggaan ketika tujuannya tercapai. “Buat saya, menyelesaikan sebuah maraton adalah pengalaman paling luar biasa yang pernah dirasakan,” kata pelari maraton berusia lanjut, Eve Pell, di laman askdrmanny. Baca juga: Berenang Vs Lari, Mana yang Lebih Oke

    Tentu saja, manfaat lari maraton tak hanya berhubungan dengan mental dan semangat. Latihan yang rutin dan intens juga akan memperkuat jantung dan membakar kalori. Selain itu, berlatih maraton juga akan membuat orang lebih disiplin, termasuk dalam pilihan gaya hidup dan pola makan.

    “Orang menganggap latihan maraton sangat menantang. Mereka cenderung untuk melakukan apa saja untuk meningkatkan peluang sukses,” ujar pelatih dan pelari maraton Cheryl Sheremeta.

    Kendati banyak manfaatnya, waspadai juga bahayanya. Jangan memaksa bila dokter melarang kita maraton karena masih banyak olahraga lain yang bisa dilakukan. Salah satu risiko terbesar adalah cedera, terutama di lutut. Hampir 70 persen pelari terpaksa menepi karena cedera tapi sebagian besar bisa segera kembali ke lintasan lari, meski ada juga yang harus beristirahat selama bertahun-tahun. Artikel terkait: Mau Ikut Lomba Lari? Simak Dulu Saran Pakarnya

    PIPIT


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Arti Bilangan R(0) dan R(t) untuk Menerapkan New Normal

    Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Suharso Monoarfa mengatakan bahwa suatu daerah dapat melaksanakan New Normal bila memenuhi indikator R(0).