Anak Ikut Berbagai Kursus, Pertimbangkan Plus Minusnya

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah balita berusaha mengikuti gerakan instruktur balet saat mengikuti kursus balet di sekolah balet Susan studio Malang, Jawa Timur, 20 Februari 2015. TEMPO/Aris Novia Hidayat

    Sejumlah balita berusaha mengikuti gerakan instruktur balet saat mengikuti kursus balet di sekolah balet Susan studio Malang, Jawa Timur, 20 Februari 2015. TEMPO/Aris Novia Hidayat

    TEMPO.CO, Jakarta - Orang tua ingin anak memiliki kemampuan di luar ilmu yang diperoleh dari sekolah. Sebab itu, banyak anak yang diikutsertakan dalam beragam kursus, misalnya menyanyi, menari, menggunakan alat musik tertentu, bahasa asing, dan lainnya.

    Dengan mencoba berbagai kursus, anak memang mendapat pengalaman baru.
    Pengalaman ini membuat dia merasakan dan mengukur kemampuannya dalam kegiatan itu. Jika anak sukses dalam kegiatan di luar sekolah, maka rasa percaya dirinya juga terdongkrak. "Ada sesuatu yang bisa ia banggakan," kata psikolog anak dari Universitas Indonesia, Wuri Prasetyawati.

    Ketika anak memiliki beberapa kegiatan, dia bertemu dengan berbagai macam tipe orang, baik yang sebaya maupun yang berusia lebih muda atau tua darinya, dengan kondisi sosial ekonomi serta budaya yang berbeda. Situasi ini akan membantu anak lebih fleksibel ketika bertemu dan berhadapan dengan banyak orang.

    Meski kegiatan-kegiatan itu memberi banyak manfaat, ada beberapa hal yang harus diperhatikan, di antaranya keseimbangan antara berkegiatan dan istirahat. Pada anak usia sekolah, jumlah waktu yang dibutuhkan untuk beristirahat sekitar 8-10 jam per hari. Jika waktu istirahat kurang, kondisi anak akan kurang fit dan mengganggu kesehatannya.

    ADVERTISEMENT

    Berikut ini beberapa hal yang harus diperhatikan orang tua jika anak mengikuti berbagai kursus:

    1. Bimbing anak selama mengikuti kegiatan
    Ada baiknya jika orang tua selalu memandu anak dan menghindarkannya dari kegiatan negatif.

    2. Dukung kegiatan anak
    Lihat sisi positif kegiatan pilihan anak. Saat anak menghadapi masalah, patah semangat, atau jenuh pada kegiatannya, orang tua hendaknya memotivasi anak.

    3. Ajari anak skala prioritas
    memahami hal yang penting dan tidak penting agar bisa belajar menentukan skala prioritas. Orang tua dapat membantu anak menyusun jadwal berdasarkan kepentingannya.

    4. Pahami kebutuhan anak
    Orang tua biasanya lebih tahu kegemaran, bakat, kondisi fisik, dan kemampuan anak. Ada baiknya kegiatan yang dipilih disesuaikan dengan kebutuhan anak sehingga tidak membuatnya tertekan.

    KORAN TEMPO

    Berita lainnya:
    Kerja Tim, Kenapa Selalu Amburadul? Ada 5 Rahasianya


    Rehat Sejenak Saat Bekerja, Lakukan 7 Kegiatan Berikut
    Heboh Posting Foto Seksi, Pengaruh Sexting Tak Banyak yang Tahu


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PPKM Level 4 dan 3 di Jawa dan Bali, Ada 33 Wilayah Turun Tingkat

    Penerapan PPKM Level 4 terjadi di 95 Kabupaten/Kota di Jawa-Bali dan level 3 berlaku di 33 wilayah sisanya. Simak aturan lengkap dua level tadi...