Kembali Bekerja Setelah Cuti Panjang, Awas Diskriminasi

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi wanita bekerja. shutterstock.com

    Ilustrasi wanita bekerja. shutterstock.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Lembaga konsultan sumber daya manusia global, Robert Walters, baru-baru ini merilis hasil survei yang menyebutkan 65 persen perempuan berkarier di Asia berhenti bekerja. Di Indonesia sendiri, ada 66 persen perempuan berkarier yang menyatakan suatu saat akan berhenti bekerja dengan berbagai alasan, yang tak melulu terkait dengan keluarga dan perannya sebagai ibu.

    Bagi perempuan yang sempat cuti panjang seperti ini, kembali bekerja butuh perjuangan. "Memasuki dunia kerja lagi setelah setahun-dua tahun rehat bukan hal mudah. Ada berbagai tantangan, termasuk dari perusahaan yang ragu-ragu mempekerjakan kembali perempuan yang sempat rehat," kata Manajer Robert Walters Indonesia, Glorya Tay.

    Dia menjelaskan, perusahaan umumnya belum memprioritaskan perempuan dari kelompok ini karena kemungkinan adanya jurang pengetahuan atas kondisi saat itu. Kekhawatiran lainnya, mereka dipandang tidak akan berkomitmen penuh pada pekerjaan. Sementara pengalaman dan keterampilan yang spesifik tidak dipertimbangkan.

    Berhasil berkantor lagi bukan berarti masalah selesai. Glorya mengungkapkan, ada tiga diskriminasi yang sering dihadapi perempuan yang kembali bekerja, baik di perusahaan yang sama maupun di perusahaan berbeda. Upah yang tidak adil adalah salah satunya. "Kebanyakan diupah dengan jumlah yang sama atau bahkan lebih rendah dari sebelumnya," ucap dia.

    ADVERTISEMENT

    Glorya menyebutkan, sebanyak 53 persen perempuan yang kembali aktif bekerja tidak diberi pelatihan apa pun. Padahal, kata dia, program orientasi karyawan adalah salah satu solusi yang menjembatani antara perusahaan dan karyawan.

    Lia Susetio, Kepala Komunikasi Korporat BNI Life Insurance, adalah contoh perempuan yang sukses kembali ke dunia kerja setelah dua tahun cuti. Alasannya rehat kala itu adalah mengelola bisnis. Ketika memutuskan kembali bekerja, dia hanya butuh waktu empat bulan hingga akhirnya menginjakkan kaki di gedung perkantoran lagi.

    Dia termasuk cepat kembali karena menjaga koneksi. "Saya menghubungi lagi koneksi yang mungkin bisa membantu saya kembali bekerja," ujar dia. Selain itu, selama rehat, Lia tetap memantau dunia komunikasi pemasaran. Setelah diterima pun, dia terus belajar. "Jangan malu bertanya dan jangan berhenti belajar."

    DINI PRAMITA

    Berita lainnya: 
    7 Keuntungan Bekerja di Perusahaan Kecil
    Tips Karier: Strategi agar Kian Produktif Saat Puasa
    10 Tanda Perusahaan yang Tak Layak Jadi Tempat Bekerja


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jangan Terlalu Cepat Makan, Bisa Berbahaya

    PPKM level4 mulai diberlakukan. Pemerintah memberikan kelonggaran untuk Makan di tempat selama 20 menit.