Anak Jatuh Lalu Menangis, Bagaimana Orang Tua Harus Bersikap?

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Anak menangis. Ilustrasi

    Anak menangis. Ilustrasi

    TEMPO.CO, Jakarta - Saat si kecil jatuh lalu menangis, reaksi setiap orang tua biasanya berbeda-beda. Ada yang langsung menyalahkan orang lain, atau bahkan benda mati, agar si kecil lekas berhenti menangis, ada yang langsung menggendong si kecil lalu menjauhkannya dari tempat ia terjatuh, dan tidak jarang juga ada yang justru memarahi si kecil, terutama anak laki-laki, dengan kata-kata seperti, "jangan cengeng" atau "begitu saja nangis, ah".

    Tepatkah sikap orang tua seperti itu?

    Anggia Chrisanti, konselor dan terapis dari Biro Konsultasi Psikologi Westaria, mengatakan bahwa sikap seperti yang dicontohkan di atas tidak ada yang tepat. Namun ketiganya memiliki efek yang sama, yakni menjauhkan anak dari rasa empati.

    "Tidak memberi kesempatan anak menceritakan apa yang dirasakan membuat anak sulit memiliki rasa empati ke depannya," ungkap Anggia Chrisanti. "Mengapa, karena rasa empati hanya bisa diajarkan dengan lebih dulu mencontohkan empati," ujarnya.

    Anggia Chrisanti menjelaskan, ketika anak terjatuh, anak akan mengalami sedikitnya dua rasa, yaitu sakit dan perih. Jadi saat mengetahui anak terjatuh dan terluka, segera tanyakan bagian tubuh mana yang sakit. Biarkan anak menunjukkannya. Setelah itu, tanyakan, apakah perih?

    "Karena penting untuk anak mengetahui ada level sakit yang lebih tinggi, yaitu perih. Ajarkan anak untuk bisa membedakannya dengan cara memberikan pertanyaan seperti ini ketika mereka jatuh," kata Anggia Chrisanti.

    Setelah itu, beri anak kesempatan untuk memutuskan apa yang mau ia lakukan. Tanyakan apakah anak mau diobati dan dengan cara seperti apa. Tanyakan pula apakah anak masih bisa jalan sendiri atau mau digendong.

    "Jangan memutuskan sendiri menggendong anak. Untuk anak yang sudah agak besar atau laki-laki, digendong orang tua akan terlihat memalukan, terlebih jika dilakukan di hadapan teman-temannya," kata Anggia Chrisanti. "Hargai perasaannya, tidak cuma rasa sakitnya, tapi juga rasa malunya," pungkas Anggia Chrisanti.

    Dengan konsisten melakukan hal tersebut setiap kali anak terjatuh, kompak juga antara ibu dan ayah, maka anak akan lebih mudah untuk tumbuh menjadi individu yang bisa berempati saat ia dewasa kelak.

    TABLOIDBINTANG

    Berita lainnya:
    Bahan Kosmetik Ini Tak Boleh Dipakai Bersamaan
    Berita Hari Ini: Asuransi Hewan Peliharaan, Seberapa Penting?
    Perhiasan Nusantara, Siluet Pending Karya Samuel Wattimena


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ketahui, Syarat Sebelum Melakukan Perjalanan atau Traveling Saat PPKM

    Pemerintah menyesuaikan sejumlah aturan PPKM berlevel, termasuk syarat traveling baik domestik maupun internasional.