Perfeksionisme, Bekerja Sempurna atau Menyiksa Diri?

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi karyawati sedang sibuk bekerja. shutterstock.com

    Ilustrasi karyawati sedang sibuk bekerja. shutterstock.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Setiap karyawan ingin hasil kerjanya sempurna. Tapi, apakah penilaian kesempurnaan itu benar-benar ada atau selama ini kamu hanya menyiksa diri demi mencapai derajat kesempurnaan?

    Bagi wanita karier, perfeksionisme adalah salah satu daya tawar tertinggi karena dia harus berkompetisi dengan laki-laki. Perempuan pekerja ini berpegang teguh pada standar kinerja yang lebih tinggi daripada karyawan lain, sehingga mereka terlihat menarik, cerdas, dan berbakat.

    Baca: Satu Kebiasaan Positif yang Bisa Merusak Kariermu

    Tapi, jujur saja, perfeksionisme itu, kalaupun ada, akan sangat sulit diraih. Ketika berhadapan dengan orang yang mengharapkan kesempurnaan, orang lain akan keder duluan dan mungkin memilih mundur ketimbang berurusan dengan si perfeksionis.

    Musababnya, si perfeksionis kerap memutuskan bahwa hasil akhir yang akan dicapai orang lain tak akan pernah sesuai dengan yang diharapkan. Alhasil, orang lain enggan mengembangkan kreativitasnya karena bakal tahu seperti apa penilaian akhirnya.

    Soal percintaan, wanita dan pria perfeksionis kerap menetapkan standar tinggi bagi calon pasangannya. Perfeksionisme menjadi pertanda selera yang tinggi dan bagus. Tapi, harus diakui, tak ada manusia yang sempurna, kan?

    SELF | LUCIANA

    Berita lainnya:
    Karier Mentok? Simak 4 Jurus Kilat Raih Promosi
    Bergelar Magister Hukum, Tina Toon Malah Balik Kejar S1 Hukum



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.