Sudahkah Menjadi Pendengar yang Baik untuk Anak? Begini Caranya

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi anak laki-laki bercerita pada ibunya. cdn.com

    Ilustrasi anak laki-laki bercerita pada ibunya. cdn.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Alih-alih curhat kepada orang tua, kebanyakan remaja memilih menceritakan persoalan pribadi kepada teman. Menurut Psikolog anak Vera Itabiliana Hadiwidjojo, S.Psi., Psi. , hal ini wajar, karena tidak semua hal bisa diceritakan anak kepada orang tua.

    “Namun pastikan anak curhat pada teman yang membawa pengaruh positif. Sementara itu, teruslah berusaha menjadi teman bicara yang menyenangkan bagi anak agar mereka tetap mengkomunikasikan jika ada hal penting yang perlu diketahui orang tua,” ujar Vera.

    Masalahnya, orang tua kadang tak tahu caranya menjadi pendengar yang baik. “Menjadi pendengar yang baik artinya mau mendengarkan tanpa menyela, menilai, atau memojokkan dan menyalahkan anak. Posisikan diri sebagai pendengar, coba pahami apa yang anak sampaikan, tunjukkan minat atau keingintahuan orang tua pada apa yang ia sampaikan,” ujar Vera.

    Ketika anak membicarakan hal yang dianggap tabu seperti soal pacar atau pengalaman melihat gambar porno, Vera mengingatkan orang tua agar jangan mudah terpancing emosi. “Ambil jeda waktu jika orang tua merasa butuh meredakan emosi dan tenangkan pikiran. Lalu kembali bicara pada anak, diskusikan pilihan-pilihan yang dapat ia lakukan serta jelaskan konsekuensinya. Posisikan diri sebagai orang tua yang ingin melindungi anak, bukan hanya melarang anak tanpa alasan yang jelas,” kata Vera.

    ADVERTISEMENT

    Bagaimana dengan anak yang sifat dasarnya introver atau tertutup? Menurut Vera orang tua tidak bisa memaksakan. Anak yang tertutup lambat laun akan terbuka jika sudah merasa nyaman. Oleh karena itu, fokus utamanya adalah membuat anak nyaman dengan keberadaan orang tua di sampingnya, bukan berfokus pada mengorek informasi sehingga membuat anak tidak nyaman.

    Orang tua juga harus lebih sensitif terhadap waktu paling efektif dan nyaman untuk mengajak anak curhat. Vera mengatakan ketika anak sedang relaks dan bersantai, biasanya mereka bisa lebih banyak bercerita. “Setiap anak punya preferensi waktu berbeda-beda. Misalnya ada anak yang lebih senang bercerita sebelum tidur, ada pula yang suka bercerita sepulang sekolah,” ujarnya.

    TABLOIDBINTANG

    Baca juga:
    Ibu dan Anak Kompak, Hubungan Anak dengan Pasangan Harmonis
    2 Pelajaran Cindy Crawford buat Putrinya
    Anak Tengah Konon Ambisius, Anak Bungsu?


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PPKM Darurat vs PPKM Level 4: Beda Istilah Sama Rasa

    Instruksi Mendagri bahwa PPKM Level 4 adalah pemberlakukan pembatasan kegiatan di Jawa dan Bali yang disesuaikan dengan level situasi pandemi.