Menjadi Istri yang Baik Ternyata Buruk untuk Kesehatan Wanita

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi pasangan makan bersama. Shutterstock.com

    Ilustrasi pasangan makan bersama. Shutterstock.com

    TEMPO.CO, Jakarta -Setiap wanita pasti ingin berusaha menjadi istri yang baik bagi suaminya. Namun, menjadi istri yang baik ternyata malah buruk untuk kesehatan wanita.

    Menurut penelitian dari SUNY Binghamton, ditemukan fakta bahwa wanita yang bereaksi positif kepada suaminya sebagai dukungan emosional ternyata lebih stres dibanding wanita yang tidak melakukannya.

    “Katakanlah sang suami memberikan saran kepada istrinya ketika mengalami masalah. Namun, ternyata saran tersebut tidak membantu karena istri sebenarnya hanya ingin didengar,” kata Nicole Cameron, asisten psikolog di Binghamton University sekaligus peneliti studi ini.

    Para peneliti bertanya kepada 65 pasangan yang sudah menikah untuk membicarakan penyebab stres mereka dalam hubungan. Sebelum dan sesudah diskusi, mereka diminta untuk mengisi kuesioner dan diuji air liurnya untuk melihat jumlah hormon kortisol (hormon penyebab stres) dalam tubuh.

    ADVERTISEMENT

    Dari hasil tersebut, diketahui bahwa istri yang bereaksi negatif terhadap suaminya, memiliki kadar hormon kortisol yang lebih rendah dibanding wanita yang merespons pasangannya secara positif--padahal bisa jadi di dalam hati tidak mau melakukannya. Studi ini juga menemukan fakta bahwa level kortisol hanya berubah pada wanita--dan bukan pria--tidak peduli apa pun tingkah lakunya.

    TABLOIDBINTANG

    Berita lainnya:
    Sebab Jangan Kurung Anak di Rumah
    Saling Memberi Pijatan Kian Harmoniskan Pernikahan
    Berapa Lama dan Seperti Apa Nifas yang Normal


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Gonta-ganti Istilah Kebijakan Pemerintah Atasi Covid-19, dari PSBB sampai PPKM

    Simak sejumlah istilah kebijakan penanganan pandemi Covid-19, mulai dari PSBB hingga PPKM, yang diciptakan pemerintah sejak 20 April 2020.