Loemongga Haoemasan: Tiada RTH, Anak-anak Larinya ke Mall

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Loemongga Haoemasan. tabloidbintang.com

    Loemongga Haoemasan. tabloidbintang.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Masa kini, orang-orang cenderung individualistis. Lebih asyik dengan dirinya sendiri, atau sekalinya berinteraksi dengan orang lain dilakukan melalui perangkat komunikasi, ketimbang bertemu tatap muka meski jaraknya dekat.

    Demikian juga anak-anak. Mereka lebih betah berada di rumah sambil bermain gadget ketimbang bermain bareng teman-temannya di luar rumah. Alasannya bermacam-macam, cuaca panas, tidak ada tempat bermain, dan sebagainya.

    Tak heran bila akhirnya mal menjadi tujuan utama untuk tempat bermain dan bersosialisasi. Memang tidak ada yang salah dengan itu. Namun, lama-lama akan membosankan bila berkegiatan terus-menerus di dalam ruangan dan kurang berinteraksi dengan alam.

    Selain itu, jika keuangan lagi menipis, tentu akan sulit bersenang-senang di mal. “Di luar rumah dan sekolah, ujung-ujungnya mereka ke mal lagi. Mal lagi,” ujar Loemongga Haoemasan, Presiden Direktur Asiana Group, di Jakarta.

    Hal tersebut membuat wanita 43 tahun ini merasa resah. Ia juga percaya, keresahannya mewakili keresahan para ibu lainnya, yakni minimnya jumlah Ruang Terbuka Hijau atau RTH dan sulitnya berinteraksi tatap muka dengan sesama masyarakat Jakarta.

    Keresahan Loemongga bermula dari data Dinas Pertamanan dan Pemakaman DKI Jakarta yang menyatakan bahwa wilayah Jakarta Selatan masih butuh 20 persen lagi untuk mencapai target RTH sesuai peraturan pemerintah.

    Selain data, Loemongga Haoemasan terkenang masa kecilnya. “Ketika kecil, saya masih bisa main sepeda setelah pulang sekolah. Zaman itu belum ada ponsel. Sekarang, anak-anak keluar rumah saja malas. Mereka lebih suka main Play Station. Alasannya macam-macam. Di luar rumah panas, tidak banyak taman, dan seterusnya,” ujar Loemongga.

    Loemongga kemudian berkaca kepada diri sendiri. Ia memiliki tiga anak laki-laki. Jelas. aktivitas fisik di luar rumah menjadi sangat penting untuk ketiga buah hatinya. Anak-anak Loemongga suka sepak bola, olah raga yang mustahil dilakukan di rumah. Mau tak mau, untuk menyalurkan bakat dan minat terhadap bola, mereka bermain bola di sekolah.

    Loemongga pun tergerak dengan menggandeng arsitek Yori Antar, yang menjadi perancang RTH Kalijodo, untuk membuat desain RTH TBS Park di kawasan Simatupang, Jakarta Selatan. RTH ini nantinya menjelma menjadi Ruang Publik Terpadu Ramah Anak  atau RPTRA.

    Di dalam RTH itu, terdapat beragam fasilitas. Di antaranya, bike park, skate park, climbing wall, jogging track, tempat pertunjukan semi terbuka, ruang laktasi, zona duduk, zona permainan tradisional seperti engklek maupun kasti, hingga ruang ibadah. Loemongga berharap, RTH TBS Park bisa menjadi wadah interaksi yang efektif sehingga sesama warga bisa saling mengobrol. Lalu, terbentuk komunitas yang hangat dan solid.

    “Kami ada proyek di sekitar situ dan di sebelahnya ada lahan untuk ruang hijau terbuka. Kemudian, Pemerintah DKI Jakarta memberi kepercayaan kepada kami untuk membangun dan merawatnya,” kata Loemongga.

    Membangun dan merawat. Itulah dua kata kuncinya. “Kalau hanya membangun kemudian didiamkan dan tidak dirawat, manfaatnya tidak akan maksimal. Tidak akan bertahan lama. Adalah penting untuk menjaga keamanannya, kebersihannya, termasuk merawat fasilitas-fasilitas yang ada di dalamnya. Kalau tahu-tahu dirusak oleh pihak tidak bertanggung jawab kan sayang,” ujar Loemongga.

    Ia menambahkan, Jakarta butuh lebih banyak RTH untuk melunturkan citranya sebagai “hutan beton”. Ia kemudian mengingatkan bahwa pada dasarnya manusia makhluk sosial. Mereka butuh bersosialisasi dengan sesama. Bersosialisasi di rumah teman dan mal tidak ada salahnya. Tapi, kalau melulu di rumah teman dan mal akan terasa membosankan. Lagipula, tidak semua orang punya uang melimpah untuk menjadi anggota di pusat kebugaran di mal papan atas.

    Karenanya, RTH menjadi jawaban. “RTH ini akan mulai dibangun setelah Lebaran. Insya Allah, mulai bisa digunakan dan dinikmati warga tahun depan. Kami membangun fasilitas di atasnya sebagai bagian dari program Corporate Social Responsibility,” tuturnya.

    TABLOIDBINTANG

    Berita lainnya:
    Makanan Rendah Lemak Justru Bisa Bikin Gemuk


    Serangan Pada Tubuh Saat Puasa Pertama Ramadhan

    Trik Memperkuat Otot dengan Bola Besar di Pusat Kebugaran


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.