Sindrom Ratu Lebah di Tempat Kerja, Apa Penyebabnya?

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi wawancara kerja. Shutterstock.com

    Ilustrasi wawancara kerja. Shutterstock.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Pada 2011, tim psikolog yang dipimpin Profesor Belle Derks dari Unversitas Leiden, Belanda melakukan penelitian terhadap 63 wanita pekerja. Dari penelitian tersebut disimpulkan bahwa kemungkinan terjadinya sindrom Ratu Lebah bergantung pada lingkungan kerja.

    Sindrom ini jarang terjadi jika isu gender tidak menjadi masalah di lingkungan kerja. Namun jika para pekerja wanita meraih posisi atas di dunia kerja yang didominasi pria, kecenderungan seseorang mengalami sindrom Ratu Lebah lebih tinggi.

    Profesor Derks mengungkapkan, “Perilaku ratu lebah mungkin merupakan respons dari lingkungan kerja yang sulit, yang didominasi pria,” ucapnya.

    “Jika sebuah organisasi menempatkan wanita di posisi lebih tinggi tanpa melakukan apa pun untuk menyesuaikan isu bias gender, para wanita ini akan dipaksa menjauh dari kelompok (wanitanya),” tutur Derks.

    Mungkin segelintir pemimpin wanita di perusahaan memang mengalami sindrom Ratu Lebah. Bisa jadi Anda sendiri pernah menemui atasan seperti itu. Namun mereka tidak bisa begitu saja dijadikan kambing hitam atas dominasi pria di dunia kerja.

    Berdasarkan hasil penelitian pada 2015, Sekolah Bisnis di Universitas Columbia, New York, mengklaim, kurangnya wanita di berbagai jabatan atas merupakan akibat keinginan para pria untuk mempertahankan kendali. Teori ini membantah teori soal sindrom Ratu Lebah dan menyebutnya mitos.

    Dalam studi mereka, yang melibatkan tim manajemen di 1.500 perusahaan selama lebih dari 20 tahun, diketahui, ketika seorang pekerja wanita ditempatkan di posisi kepala eksekutif, pekerja wanita lainnya akan mendapat kemungkinan lebih besar untuk menempati posisi senior.

    Namun ketika seorang wanita diberikan peran sebagai posisi senior saja – bukan jabatan kepala – kemungkinan wanita lain akan mencapai posisi tinggi menurun hingga 50 persen. Ini menunjukkan keberadaan wanita di posisi strategis perusahaan justru membantu wanita lainnya memperoleh karier lebih baik.

    TABLOIDBINTANG

    Berita lainnya:
    Produk Kesehatan Mengandung Perak, Apa Manfaatnya?
    Daftar Buah-buahan Super Pelawan Penyakit
    Serum Kulit Perlukah? Bagaimana Memilihnya?


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.