Tak Pede Berkarier, Impostor Syndrome Bisa Jadi Penyebabnya

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi kerjaan menumpuk. Shutterstock

    Ilustrasi kerjaan menumpuk. Shutterstock

    TEMPO.CO, Jakarta - Apakah Anda pernah merasa panik sebelum memulai rapat yang membahas soal pekerjaan? Atau, Anda merasa pencapaian yang didapat bukan karena kerja keras, melainkan karena keberuntungan semata?

    Jika iya, kemungkinan besar Anda mengalami impostor syndrome atau sindrom tidak percaya diri.

    Pada dasarnya, sindrom tidak percaya diri adalah kondisi di mana seseorang merasa tidak memiliki kekuatan untuk melakukan atau mengerjakan sesuatu.

    Dalam dunia kerja, menurut Dr. Valerie Young, penulis buku The Secret Thoughts of Successful Women: Why Capable People Suffer From the Impostor Syndrome and How to Thrive In Spite of It (Crown Business, Random House), sindrom tidak percaya diri banyak dialami oleh pekerja baru.

    ADVERTISEMENT

    Mereka beranggapan kinerjanya belum mumpuni.

    “Selain itu, wanita yang berkarier di bidang ilmu pengetahuan, teknologi, statistik/matematika, dan teknik terkadang juga mengalami sindrom tidak percaya diri karena lingkungan kerja yang didominasi kaum laki-laki. Kondisi itu membuat mereka mudah menyerah terhadap tekanan dalam lingkungan kerja tersebut.”, kata Dr. Valerie.

    Meski umumnya dialami oleh pekerja baru, sindrom tidak percaya diri juga bisa menyerang pekerja yang bahkan sudah senior.

    Hasil riset Mirjam Neureiter dan Eva Traut Mattausch dari Universitas Salzburg, Austria, yang dituangkan dalam jurnal bertajuk Inspecting the Dangers of Feeling like a Fake: An Empirical Investigation of the Impostor Phenomenon in the World of Work menunjukkan, sebagian besar pekerja (70 persen) ternyata merasakan sindrom ini.

    “Kebanyakan meragukan kemampuan mereka sendiri, bahkan ketika telah mencapai keberhasilan. Mereka menganggap kesuksesan tersebut hanyalah keberuntungan saja,” ujar Mirjam dan Eva dalam jurnal tersebut.

    Impostor syndrome punya dampak buruk bagi seorang pekerja. Orang yang terkena sindrom ini bakal merasa tidak akan mampu beradaptasi dengan pekerjaannya.

    Selain itu, mereka bersikap pesimistis mengenai perkembangan kariernya. Inilah alasan mengapa seseorang yang mempunyai tidak percaya diri enggan berusaha mendapatkan posisi atau jabatan yang lebih tinggi dalam kariernya. Akibatnya, kariernya jalan di tempat.

    TABLOIDBINTANG


    Berita lainnya:
    Jordana Brewster Menyesal Anaknya jadi Sering Mengumpat
    Jurus Optimalkan Daya Tahan Tubuh Anak
    Sering Melarang Anak Bermain, Simak Apa Dampaknya


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aturan Makan di Warteg saat PPKM Level 4 dan 3 di Jawa - Bali

    Pemerintah membuat aturan yang terkesan lucu pada penerapan PPKM Level 4 dan 3 soal makan di warteg. Mendagri Tito Karnavian ikut memberikan pendapat.