Selalu Merasa Tak Bahagia? Simak 8 Penyebabnya  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi wanita bahagia. shutterstock.com

    Ilustrasi wanita bahagia. shutterstock.com

    TEMPO.COJakarta - Menjadi bahagia itu sebuah pilihan. Beberapa orang selalu merasa senang dalam segala situasi. Namun, di sisi lain, kita juga menemukan orang-orang yang selalu mengutuk nasib buruk atau ketidakberuntungannya. 

    Paling tidak ada delapan kebiasaan yang harus Anda hentikan untuk bisa bahagia. Berikut ini kebiasaan tersebut.

    1. Berusaha menjadi yang terbaik
    Cobalah menerima dan mencintai keterbatasan Anda. Jika Anda telah mencoba yang terbaik untuk menyelesaikan pekerjaan tapi hal itu tidak terjadi, sebaiknya lepaskan saja. Terkadang Anda harus berhenti dari usaha karena ini hanyalah pemborosan waktu dan energi. Jika Anda tidak bisa menjadi dokter, tidak apa-apa menjadi guru dan berbahagia dengan apa yang Anda lakukan. Jika Anda memiliki keterampilan dan menikmati apa yang Anda lakukan, mengapa tidak menerimanya?

    2. Membandingkan diri sendiri
    Selalu membandingkan diri dengan orang lain akan membuat Anda kesal. Kita semua unik dengan cara kita sendiri dan seharusnya tidak ada perbandingan di antara manusia.

    ADVERTISEMENT

    3. Teman negatif
    Ada beberapa orang yang tampak seperti teman, tapi hobinya mengkritik Anda. Hati-hati, ada garis tipis antara menjadi kritikus dan menjadi orang yang membuat orang lain jatuh. Sadarilah, orang-orang seperti itu yang memberi komentar tidak sehat tentang Anda dan membuat Anda merasa rendah. Jangan memberi seseorang wewenang atau kuasa untuk meremehkan atau mempermalukan Anda. Anda adalah hakim terbaik dari diri Anda sendiri.

    4. Selalu katakan "Ya"
    Membantu orang lain boleh saja. Tapi ingat, jika Anda mengatakan “ya” kepada orang lain, jangan katakan “tidak” kepada diri sendiri. Jika Anda adalah orang yang baik hati, belajarlah untuk bersikap baik kepada diri sendiri juga. Ada banyak orang di sekitar yang bisa memanfaatkan kebaikan Anda. Terkadang, saat membantu orang lain, Anda mungkin mendapati diri dalam masalah karena meremehkan diri sendiri dengan memberi terlalu banyak waktu kepada orang lain.

    5. Membenci orang lain
    Kecemburuan dan kebencian adalah faktor utama yang membuat Anda jauh dari kebahagiaan. Berhentilah menebar kebencian terhadap orang lain dan fokus pada kehidupan Anda sendiri. Alih-alih merasa cemburu kepada orang lain, Anda harus bahagia dengan kesuksesan mereka dan mencoba mengerjakan hidup Anda sendiri. Berbagi kebahagiaan juga akan membuat Anda bahagia daripada memikirkan apa yang tidak penting.

    6. Selalu menyesal
    Setiap orang memiliki masa lalu, dan jika masa lalu Anda tidak begitu membahagiakan, cobalah belajar dari itu daripada memikirkannya lagi dan lagi. Ini akan mencuri kebahagiaan Anda di masa sekarang. Masa lalu adalah bagian hidup yang tidak dapat Anda ubah. Jika terus menyesali masa lalu, Anda bisa merusak masa depan Anda.

    7. Kebiasaan buruk
    Kebiasaan buruk akan membuat Anda tidak bahagia karena akan menjauhkan dari waktu berkualitas yang bisa Anda habiskan dengan teman terbaik dan keluarga. Mengapa membuang waktu hanya untuk melakukan kebiasaan buruk? Anda tidak akan pernah merasa bahagia jika berada di bawah pengaruh kebiasaan buruk apa pun.

    8. Berbohong
    Menjadi jujur kepada diri sendiri dan orang lain akan membuat Anda merasa bahagia. Berbohong hanya akan merusak kedamaian batin, dan Anda akan terus memikirkannya. Anda juga akan hidup dalam ketakutan tertangkap basah oleh orang yang dibohongi. Jadi, untuk menjadi bahagia, jadilah orang yang benar dan jujur.

    BOLDSKY | LUCIANA

    Baca juga:
    Belajar Kolaborasi Suami-Istri dari Emmanuel Macron dan Brigitte
    CLBK Itu Berbahaya, Ada Cara Menghindarinya
    May Day, Upaya jika Diperlakukan Semena-mena di Tempat Kerja

     


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PPKM Darurat vs PPKM Level 4: Beda Istilah Sama Rasa

    Instruksi Mendagri bahwa PPKM Level 4 adalah pemberlakukan pembatasan kegiatan di Jawa dan Bali yang disesuaikan dengan level situasi pandemi.