Selasa, 20 Februari 2018

Kartini dan 5 Perempuan Pahlawan Emansipasi

Oleh :

Tempo.co

Kamis, 20 April 2017 16:00 WIB
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kartini dan 5 Perempuan Pahlawan Emansipasi

    Kartini, Feminis dari Balik Tembok

    TEMPO.CO, Jakarta - Kartini menulis surat kepada sahabat penanya, Stella Zeehandelaar di Belanda pada 23 Agustus 1900. Dalam surat itu Kartini menulis, “Aku akan mengajari anak-anakku, baik laki-laki maupun perempuan untuk saling menghormati sebagai sesama dan membesarkan mereka dengan perlakuan sama sesuai dengan bakat mereka masing-masing.”

    Perjuangan Kartini memang bukan seperti Cut Nyak Dien atau Christina Martha Tiahahu yang memilih angkat senjata melawan penjajah. Kartini yang memiliki nama kecil Trinil berjuang dengan caranya sendiri: mengabarkan kepada dunia apa yang terjadi pada zamannya dan berusaha membuat orang –khususnya kaum perempuan, agar ‘melek’ pendidikan. (Baca: Dian Sastro Ambil 3 Ajaran Penting dari Kartini)

    Selain Kartini, ada beberapa nama pahlawan perempuan yang juga menginginkan Indonesia bebas dari penjajah serta memiliki persamaan hak baik bagi laki-laki maupun perempuan. Pada zaman itu, mereka yang menginginkan Indonesia maju memiliki kesempatan yang lebih besar dibandingnya orang biasa. Sebab, mereka umumnya berasal dari keluarga priyayi atau aktivis pergerakan. (Baca juga: Kartini, Siapakah Dia?)

    Mengutip buku Kumpulan Pahlawan Indonesia Terlengkap karya Mirnawati dan Perempuan dan Politik Dalam Islam dari Zaitunah Subhan, serta sumber lainnya, berikut ini nama pahlawan perempuan yang juga berjuang untuk pendidikan dan kesetaraan kaum perempuan dan laki-laki.

    1. Siti Aisyah We Tenriolle

    Dari tanah Bugis, Sulawesi Selatan ada Siti Aisyah We Tenriolle. Ia adalah Datu (Ratu) Kerajaan Tanete (kini Barru), Sulawesi Selatan pada tahun 1855.

    Terlahir dari keluarga bangsawan Bugis, Siti Aisyah berhasil menerjemahkan epos I La Galigo dari bahasa Bugis Kuno ke bahasa Bugis umum. Epos panjang, peninggalan nenek moyang orang Bugis ini diakui sebagai warisan sastra dunia. Isinya tentang kisah cinta Sawerigading sang tokoh utama beserta adat-istiadat masyarakat Bugis kala itu.

    Tidak hanya cerdas di bidang sastra, Siti Aisyah juga piawai dalam bidang pemerintahan serta pendidikan. Dia mendirikan sekolah bagi rakyatnya, sekolah untuk laki-laki maupun perempuan.

    2. Maria Yosephine Walanda Maramis

    Maria Yosephine Walanda Maramis lahir pada tahun 1872 di Minahasa. Sama seperti gadis di daerah lainnya, Maria Yosephine tidak diizinkan bersekolah tinggi. Mereka harus tinggal di rumah untuk menunggu saat menikah.

    Namun pergaulannya dengan kaum terpelajar memperluas pengetahuan dan membangkitkan hasratnya memajukan kaum wanita Minahasa. Mereka harus memperoleh pendidikan yang cukup agar kelak dapat mengurus rumah tangga dan mendidik anak-anaknya.

    Perkawinannya dengan Yoseph Frederik Calusung Walanda -seorang guru pada tahun 1890, membuka peluang mewujudkan cita-citanya. Pada 1917, bersama suami dan orang terpelajar lainnya, Maria Yosephine mendirikan organisasi Percintaan Ibu Kepada Anak Turunannya (PIKAT). Organisasi ini cikal bakal berdirinya sekolah rumah tangga untuk mendidik anak-anak perempuan.

    Selanjutnya: Nyi Siti Walidah Ahmad Dahlan, Dewi Sartika, dan H. R Rasuna Said

    3. Nyi Siti Walidah Ahmad Dahlan

    Ia terlahir dari keluarga pemuka Agama Islam dan penghulu resmi Keraton, Kyai Haji Fadhil pada 1872. Siti Walidah mendapatkan pendidikan agama dari orang tuanya yang merupakan pejabat agama di Keraton Yogyakarta. Ia tidak pernah mengenyam pendidikan umum kecuali pendidikan agama yang didapat dari ayahnya.

    Pernikahannya dengan Kyai Ahmad Dahlan dan kedekatannya dengan tokoh-tokoh Muhammadiyah membuat dia mempunyai pandangan yang luas. Pada 1914, Siti Walidah turut merintis kelompok pengajian wanita Sopo Tresno (Siapa Cinta). Dia membuka asrama dan sekolah-sekolah putri serta mengadakan kursus pelajaran Islam dan pemberantasan buta huruf bagi kaum perempuan. Siti Walidah juga mendirikan rumah-rumah miskin dan anak yatim perempuan serta menerbitkan majalah bagi kaum wanita.

    4. Dewi Sartika

    Di tanah Sunda, ada Dewi Sartika yang terlahir dari keluarga priyayi Nyi Raden Ayu Rajapermas dan Raden Somanagara pada 4 Desember 1884. Nyi Raden Ayu Rajapermas juga dikenal sebagai pahlawan dari Pasundan yang diabadikan sebagai nama jalan.

    Tak banyak literatur yang menceritakan tentang perjuangan Nyi Raden Rajapermas. Ibu dari Dewi Sartika ini melanggar adat karena mengizinkan putri mereka mengenyam pendidikan di sekolah Belanda. Nyi Raden Rajapermas juga pernah dibuang Belanda ke Ternate bersama suaminya.

    Lantaran pernah belajar di sekolah Belanda, Dewi Sartika juga memiliki wawasan tentang budaya Barat dari nyonya Asisten Residen Belanda. Sejak usia 10 tahun, Dewi Sartika sudah mulai mengajar. Bermodalkan papan bilik kandang, arang, dan pecahan genting sebagai alat bantu belajar, dia mengajarkan anak-anak pembantu untuk bisa baca-tulis, dan belajar bahasa Belanda di lingkungan kepatihan Cicalengka.

    Kegigihan Dewi Sartika merintis pendidikan bagi kaum perempuan juga mendapat dukungan dari keluarga, hingga akhirnya berdiri Sakola Istri (Sekolah Perempuan) pertama se-Hindia Belanda. Sekolah itu beroperasi di ruangan pendopo Kabupaten Bandung pada 16 Januari 1904.

    5. H. R Rasuna Said

    Di daerah Maninjau, Agam, Sumatra Barat, terdapat seorang penggerak wanita yang berperan dalam bidang pendidikan, pemberdayaan wanita dan jurnalisme nasional. Dialah Hajjah Rangkayo Rasuna Said yang lahir pada 15 September 1910. Namanya kini menjadi nama jalan protokol di Ibu Kota.

    Ayah H. R. Rasuna Said adalah seorang saudagar Minang yang juga aktivis pergerakan. H.R Rasuna Said dikenal sebagai sosok yang berkemauan keras dan memiliki pengetahuan luas. Pemikirannya kritis, pidato dan tulisannya tajam, bersifat anti-kolonialisme. Dia juga memperjuangkan persamaan hak antara laki-laki dan perempuan.

    Di masa kecilnya, H. R. Rasuna Said menjadi satu-satunya santri perempuan. Perjuangan membela kaum perempuan tak hanya dia wujudkan dengan mengajar di Diniyah Putri tapi juga melalui jalur politik dengan bergabung di Sarekat Rakyat dan Persatuan Muslimin Indonesia.

    H. R. Rasuna Said menjadi wanita pertama yang menjalani hukuman penjara karena dijerat Speek Delict pada 1932. Speek Delict merupakan delik hukum pemerintahan Belanda yang isinya menjerat mereka yang berbicara menentang Belanda.

    DINA ANDRIANI


     

     

    Selengkapnya
    Grafis

    Pilkada 2018, Ada 8 Provinsi Rawan Politik Identitas

    Komisioner Badan Pengawas Pemilihan Umum, Rahmat Bagja, mengatakan ada 8 provinsi penyelenggara Pilkada 2018 yang dianggap rawan politik identitas.