8 Tanda Anak Siap Ditinggal Sendirian di Rumah

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi anak sakit. Shutterstock

    Ilustrasi anak sakit. Shutterstock

    TEMPO.CO, Jakarta - Kesibukan orang tua terkadang memaksa mereka meninggalkan buah hatinya di rumah. Jika di rumah masih ada nenek, kakek, kerabat, atau asisten rumah tangga, mungkin ayah bunda tak terlalu ambil pusing dengan kebutuhan anak selama berada di rumah. Namun bagaimana jika anak tidak memiliki pendamping saat ditinggal. Kondisi ini memaksa anak mengurus dirinya sendiri tanpa bantuan atau pengawasan orang dewasa.

    Sebagian orang mungkin menganggap orang tua kejam jika meninggalkan anak mereka sendirian di rumah. Tapi mengutip Purewow, tindakan ini sebenarnya boleh saja dilakukan untuk melatih tanggung jawab anak. Dengan tinggal sendirian di rumah, anak akan berupaya mengurus diri sendiri dan memenuhi kebutuhannya. (Baca juga: Main Game di Gadget Bersama Anak, Baik atau Buruk?)

    Hanya saja, tak semua anak bisa serta-merta ditinggal sendirian di rumah. Orang tua juga mesti peka kapan saat yang tepat anak bisa berada di rumah tanpa pendampingan dan pengawasan. Perhatikan delapan tanda anak siap sendirian di rumah dan mengurus keperluannya sendiri, minimal selama satu jam:

    1. Anak bisa menelepon dan memberikan informasi
    Coba beri dia tugas untuk menggunakan telepon genggam. Jika anak bisa memakai ponsel dan menghubungi nomor tertentu, maka itu pertanda dia bisa melakukan upaya serupa dalam keadaan darurat atau menelepon orang tua. Praktekkan beberapa kali sampai Anda yakin benar buah hati bisa melakukannya sendiri.

    ADVERTISEMENT

    2. Paham dasar keselamatan
    Ajarkan anak tentang situasi seperti apa yang masuk kategori darurat dan bagaimana menyikapinya. Beri tahu langkah apa saja yang harus dilakukan saat terjadi kebakaran atau aliran listrik padam, dan ingatkan terus agar buah hati Anda tak membukakan pintu kepada orang asing. Selain itu, Anda juga harus menyimpan material berbahaya, seperti lilin dan korek api, jauh dari jangkauan anak.

    3. Tempelkan daftar kontak darurat di tempat strategis
    Jika anak membutuhkan bantuan dan Anda tidak bisa dihubungi, anak harus tahu kepada siapa lagi mereka bisa mengadu atau melapor. Tulis nomor kontak tetangga, kerabat, sahabat, dan polisi di lokasi strategis yang mudah terbaca oleh anak, misalnya di pintu lemari es. Anak setidaknya memiliki akses ke tiga orang dewasa di dekatnya. Masukkan pula nomor kontak itu ke dalam memori telepon yang ada di rumah.

    4. Anak mengetahui kontak dengan cepat
    Ketika orang tua menyebut nama si A misalnya, usahakan agar anak mengetahui siapa si A itu, berapa nomor teleponnya, di mana alamatnya dan informasi lainnya. Langkah ini untuk memastikan anak tahu siapa yang mesti dituju saat kondisi darurat.

    5. Dapat membuat keputusan yang baik
    Jika anak Anda tergolong impulsif, cenderung panik, atau mudah galau, sebaiknya jangan dulu ditinggal sendirian di rumah sampai setidaknya dia berusia 12 tahun.

    6. Anak bisa membuat makanan sendiri
    Sediakan makanan siap saji di dalam lemari es dan usahakan yang tak perlu menggunakan kompor. Atau, Anda bisa memastikan anak dapat mengoperasikan peralatan rumah tangga, seperti microwave, atau alat penanak nasi (rice cooker). Jika anak sudah bisa menyiapkan makanan sendiri, tandanya ia siap mengurusi diri.

    7. Anak mengetahui aturan rumah dan mematuhinya
    Ada atau tidak ada orang tua di rumah, anak tetap menjadi tanggung jawab orang tua. Sampaikan kepada anak tentang aturan dan harapan yang Anda inginkan sebelum meninggalkannya sendirian di rumah. Pastikan dia mengetahui dan mematuhi batasan bermain game, kapan waktunya mengerjakan pekerjaan rumah, dan sebagainya. Jika Anda ingin yakin, pasang kamera pemantau untuk mengetahui situasi di rumah.

    8. Anak menyatakan berani
    Komunikasi adalah kunci pengasuhan. Jika anak mengatakan dia berani sendirian di rumah, ia tak mungkin melakukan tindakan yang membuatnya takut. Namun jika anak menyalakan semua lampu, menyalakan radio atau televisi kecang,atau mengungkapkan kecemasannya dengan cara lain, itu artinya anak belum siap ditinggal sendiri.

    DINA ANDRIANI

    Berita lainnya:

    Kenali Tipe Penjilat di Tempat Kerja
    Kontroversi Soal Selaput Dara Buatan
    Mempersiapkan Mental si Kecil Memiliki Adik


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aturan Resepsi Pernikahan di PPKM Level 4 dan 3

    Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat, atau PPKM, dengan skema level juga mengatur soal resepsi pernikahan. Simak aturannya.