Simak 7 Kebohongan yang Sering Dilakukan, Apa Dampaknya?  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Magforwomen.com

    Magforwomen.com

    TEMPO.COJakarta - Disadari atau tidak, kita sering berbohong dengan tujuan baik dan menyenangkan orang lain serta tidak merasa bersalah telah melakukannya. Kebohongan itu tak akan merusak hubungan dengan orang lain sehingga kita bisa terus melakukannya.

    Namun sadarkah kita bahwa biar bagaimanapun kebohongan tetap kebohongan? Kita mungkin tak menyadari dampak berbohong meski sebenarnya mempengaruhi hidup secara langsung. Berikut ini tujuh kebohongan yang sering kita lontarkan tanpa merasa bersalah, seperti dilansir India Times.

    1. “Baik”
    Itulah jawaban yang sering kita berikan bila ada yang menanyakan kabar. Padahal itulah kebohongan terburuk yang kita katakan pada diri sendiri dan orang lain. Pasalnya, tak selalu saat mengucapkan kata tersebut kita dalam kondisi baik. Lebih baik katakan saja kondisi atau perasaan dengan jujur.

    2. “Saya tak akan bilang siapa-siapa”
    Kalimat ini sering kita janjikan pada orang yang sedang curhat atau menceritakan sebuah rahasia. Padahal kenyataannya tidak demikian. Kelak kita akan menceritakan kisah teman tersebut kepada pasangan atau sahabat. Bila kita tak pernah berusaha belajar menyimpan rahasia, dan kalimat tersebut bisa menikam teman dari belakang.

    ADVERTISEMENT

    3. “Saya akan mulai besok”
    Inilah kalimat yang kerap terdengar bila kita ingin melakukan sesuatu yang baik, misalnya berhenti merokok, rutin berolahraga, atau merapikan kamar tidur. Besok pun berubah menjadi minggu depan, bulan depan, tahun depan, dan seterusnya. Bila kita berusaha mengubah sesuatu yang vital, inilah kalimat yang paling berbahaya.

    4. “Saya sudah lupa”
    Melupakan kisah lalu dan move on sering diakui mereka yang sudah putus dari pasangan. Padahal, kenyataannya, mereka masih mengintip-intip media sosial sang mantan, ingin tahu yang mantan lakukan, dan cemburu saat mantan punya pacar baru.

    5. “Tak ada pertanyaan” 
    Tak memberikan pertanyaan saat presentasi atau mendengarkan pengarahan. Tapi kita terlalu malu atau gengsi untuk bertanya. Tidak mendapatkan jawaban atas segala keraguan adalah kerugian besar.

    6. “Saya senang melakukannya”
    Kalimat yang selalu kita lontarkan bila ada yang meminta tolong. Padahal dalam hati kita menggerutu karena merasa terganggu, apalagi kalau permintaan dianggap menyusahkan. Kita mengucapkan kalimat tersebut hanya karena tak kuasa menolak.

    7. “Tak akan terjadi”
    Biasanya diucapkan orang yang kurang percaya diri dan penuh keraguan atau yang senang mengabaikan peringatan.

    PIPIT

    Baca juga :
    TPS Juga Bisa Jadi Sarana Anak Belajar Cinta Negara
    Sandiaga Bersyukur Didukung Keluarga, Ini Kata Mien Uno
    Apple Pekerjakan Tim Khusus Obati Diabetes 


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aturan Makan di Warteg saat PPKM Level 4 dan 3 di Jawa - Bali

    Pemerintah membuat aturan yang terkesan lucu pada penerapan PPKM Level 4 dan 3 soal makan di warteg. Mendagri Tito Karnavian ikut memberikan pendapat.