Dian Sastro Ambil 3 Ajaran Penting dari Kartini  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Dian Sastrowardoyo bersama Acha Septriasa membacakan fragmen dialog Kartini karya Leila Chudori dalam acara

    Dian Sastrowardoyo bersama Acha Septriasa membacakan fragmen dialog Kartini karya Leila Chudori dalam acara "Panggung Para Perempuan Kartini". TEMPO/Maria Fransisca

    TEMPO.CO, Jakarta - Dian Sastro mengambil tiga pelajaran penting setelah berakting sebagai Kartini dalam film Kartini, yang disutradarai Hanung Bramantyo. Sebelum melakoni sosok Kartini, Dian mempelajari berbagai referensi tentang perempuan yang dianggap sebagai salah satu pendorong emansipasi wanita pada masanya itu.

    Dian mengatakan mengambil pelajaran tentang kelas kasta, kesetaraan gender, dan kritik atas warisan budaya yang sudah tidak relevan. "Kita memperingati dobrakan-dobrakan yang dibuat Ibu Kartini," katanya dalam acara Panggung Para Perempuan Kartini di Museum Bank Indonesia, Jakarta, Selasa, 11 April 2017.

    Baca: Hari Kartini, Raline Shah: Pendidikan Bekal Mencari Jodoh

    Mengenai kelas kasta, Dian mengatakan sangat kentara bagaimana pembedaan antara orang yang berdarah ningrat atau kaum bangsawan dengan rakyat biasa. "Sekarang kan kita tidak mengalaminya lagi," ujarnya. "Salah satu yang didobrak dan dilawan oleh Kartini adalah feodalisme."

    Pelajaran kedua dari Kartini, menurut Dian, adalah kesetaraan gender, khususnya di bidang pendidikan. "Bagi Kartini, kesetaraan gender merupakan hak rakyat Indonesia, baik perempuan maupun laki-laki, untuk merasakan pendidikan secara formal di sekolah," ucapnya. Dengan terbukanya kesempatan bersekolah saat ini, Dian berharap semua orang memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya.

    Baca juga: Kutipan Surat Kartini Ini Menyentuh Hati Maudy Ayunda

    Dian menilai Kartini juga tak segan mengkritisi warisan nenek moyang yang berlaku pada masa itu. "Banyak sekali pakem Jawa yang dikritik Kartini," tuturnya. Sejumlah pakem yang dikritisi Kartini, menurut Dian, merupakan warisan budaya yang dianggap kontraproduktif dan melanggengkan feodalisme, misalnya memberikan upeti kepada pimpinan atau bangsawan serta tradisi menyembah.

    Artikel terkait: Dian Sastrowardoyo: Saya Selalu Memandang Diri sebagai Feminis

    "Kalau yang seperti ini diteruskan atau dibiarkan, sama halnya dengan memeras kaum petani," katanya. "Kenapa juga manusia harus disembah-sembah. Sama sekali enggak terlalu penting dan bikin capek saja."

    MARIA FRANSISCA

    Berita lainnya:
    Alasan Disarankan Bilas Sebelum Berenang
    6 Tanda Pasanganmu Memikirkan Wanita Lain
    Nagita Slavina Anggun Sekaligus Tak `Jaim` Meski Pakai Kebaya


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    UMP 2020 Naik 8,51 Persen, Upah Minimum DKI Jakarta Tertinggi

    Kementerian Ketenagakerjaan mengumumkan kenaikan UMP 2020 sebesar 8,51 persen. Provinsi DKI Jakarta memiliki upah minimum provinsi tertinggi.