Ayah-Bunda, Mari Pelajari 5 Bahasa Kasih Anak

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi keluarga. Shutterstock

    Ilustrasi keluarga. Shutterstock

    TEMPO.CO, Jakarta - Hubungan orang tua dan anak yang erat menjadi kunci keluarga bahagia. Terutama pada anak-anak usia balita, ikatan antara orang tua dan anak yang erat sangat berperan dalam pembentukan karakter dan tumbuh kembang optimal anak. Ikatan itu sangat menentukan kepribadian anak di masa depan. Sebab itu, orang tua harus menghabiskan waktu berkualitas bersama dengan anak.

    “Yang dimaksud dengan waktu keluarga berkualitas adalah waktu yang dihabiskan dengan memberikan perhatian penuh tanpa gangguan, khususnya gadget,” kata psikolog anak Elizabeth Santosa di Jakarta, “Dengan menghabiskan waktu bersama keluarga, anak dapat belajar tentang makna dan nilai keluarga serta lebih mengenal siapa dirinya.”

    Menurutnya Elizabeth, salah satu langkah yang dapat dilakukan orang tua untuk menciptakan waktu berkualitas tersebut adalah dengan menerapkan Bahasa Kasih Anak (Love Languages of Children), yang terdiri dari afirmasi, waktu berkualitas, sentuhan fisik, memberikan apresiasi, serta melayani atau membantu. “Setiap anak memiliki tipe bahasa kasih yang berbeda-beda. Ada yang suka dipeluk, dipuji, atau diberi hadiah,” ucap Elizabeth.

    Bahasa Kasih afirmasi adalah menyampaikan kata-kata yang memotivasi atau mendukung anak. Misalnya, ketika berhasil menghabiskan makanannya, anak diberi pujian melalui kata-kata positif. “Setelah selesai makan, anak pasti suka kalau dibilang ‘Anak mama hebat!,” jelas Elizabeth.

    Sementara, Bahasa Kasih waktu berkualitas dilakukan dengan menjadi pendengar yang baik untuk anak serta memfokuskan perhatian kepada mereka. ”Banyak orang tua hanya menemani anak saja, tetapi mereka tidak fokus kepada anaknya,” katanya. “Orang tua tidak fokus dan sering terditraksi oleh gadget.” Ketika menerapkan waktu berkualitas, orang tua harus menjauhkan segala keperluan dan memusatkan segalanya kepada anak agar mereka merasa dicintai dan diperhatikan. “Hanya 10 atau 15 menit itu tidak apa-apa, asalkan everything is about him or her, perhatikan anak, kagumi mereka.”

    Melalui Bahasa Kasih sentuhan fisik, anak lebih memilih untuk diperhatikan dan dicintai melalui pelukan, belaian, dan kontak fisik lainnya. “Semua anak pasti suka dielus-elus, tapi ada anak yang paling suka dibelai oleh orang tuanya, sampai-sampai ketika sakit, hanya dielus-elus saja punggungnya, penyakit tersebut langsung sembuh,” ujarElizabeth. “Contohnya, anak laki-laki suka bergulat dengan ayah atau saudaranya karena itu merupakan bentuk keintiman dan kemesraan baginya.”

    Selanjutnya, memberikan apresiasi juga merupakan salah satu bentuk perhatian dan cinta orang tua kepada anak. “Misalnya, setelah berhasil mengerjakan sesuatu yang baik, beri dia reward atau surprise,” kata Elizabeth. “Tidak usah hadiah mahal, cukup dengan memasak makanan kesukaannya, pasti dia merasa mamanya perhatian.”

    Terakhir, Bahasa Kasih juga bisa diungkapkan melalui bantuan. Dengan membantu anak mengerjakan sesuatu, maka akan timbul rasa percaya kepada orang tua, sehingga ikatan erat antara orang tua dan anak akan terbentuk. Menurut Elizabeth, banyak anak yang kerap meminta bantuan orang tua untuk menarik perhatian mereka.

    “Mereka tahu bahwa mereka bisa, tapi ada kebutuhan untuk dipenuhi,” katanya. “Jadi, orang tua diminta untuk menemani anaknya, tapi jangan membantu sampai selesai. Kita mendampinginya, Cuma jangan penuhi sampai mereka tidak melakukan apa pun, ajari mereka untuk mandiri.”

    Eliabeth mengimbau orang tua giat mengidentifikasi tipe Bahasa Kasih yang sesuai untuk anak. “Untuk anak 5 tahun, perlu distimulasi semua jenis Bahasa Kasih,” katanya. “Namun, ketika lebih dewasa, orang tua harus mengenal tipe Bahasa Kasih dengan mengetahui karakteristik dan kepribadian anak.”

    Untuk mengidentifikasi Bahasa Kasih anak, Elizabeth menyarankan untuk memulainya dari diri sendiri dan pasangan. “Orang tua harus saling mengidentifikasi Bahasa Kasih mereka sendiri karena biasanya hal tersebut menurun kepada anaknya,” ucap Elizabeth. “Dengan mengidentifikasi Bahasa Kasih diri dan pasangan, hubungan suami istri akan semakin erat.”

    ZARA AMELIA

    Berita lainnya:
    Menjajal Saus Heboh di Hooters Jakarta
    5 Kesalahan yang Sering Dilakukan Saat Mandi
    Fakta Tentang Mereka yang Lahir di Malam Hari


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Cara Sukses yang Harus Diadopsi Pengusaha di Masa Pandemi Covid-19

    Banyak bisnis menderita di 2020 akibat pandemi Covid-19.