Kartini, Siapakah Dia?

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Aktris Christine Hakim dan Ayushita melihat karya mural dalam pameran

    Aktris Christine Hakim dan Ayushita melihat karya mural dalam pameran "Para Perempuan Kartini" di Gedung TEMPO, Jakarta, 4 Maret 2017. TEMPO/Rully Kesuma

    TEMPO.CO, Jakarta - Banyak orang mengenal sosok Kartini sebagai pahlawan pembela perempuan atau yang gencar mencanangkan emansipasi di Indonesia. Raden Adjeng Kartini lahir di Jepara, Jawa Tengah, 21 April 1879, dan meninggal di Rembang, Jawa Tengah, 17 September 1904, pada umur 25 tahun.

    Tokoh Jawa dan Pahlawan Nasional Kartini diketahui sebagai pelopor kebangkitan perempuan pribumi. Pada akhirnya, sosok itu dikenal sebagai perempuan yang tegas, berambisi, dan bertekad mencapai keinginannya. Padahal, banyak hal lain yang ada dalam diri Kartini.

    Kartini berasal dari kalangan priyayi atau kelas bangsawan Jawa. Ia merupakan putri dari Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, seorang patih yang diangkat menjadi bupati Jepara segera setelah Kartini lahir.

    Kartini adalah putri dari istri pertama, tapi bukan istri utama. Ibunya bernama M.A. Ngasirah, putri dari Nyai Haji Siti Aminah dan Kiai Haji Madirono, seorang guru agama di Telukawur, Jepara. Dari sisi ayahnya, silsilah Kartini dapat dilacak hingga Hamengku Buwana VI.

    ADVERTISEMENT

    Garis keturunan Bupati Sosroningrat bahkan dapat ditilik kembali ke istana Kerajaan Majapahit. Semenjak Pangeran Dangirin menjadi bupati Surabaya pada abad ke-18, nenek moyang Sosroningrat mengisi banyak posisi penting di Pangreh Praja.

    Ayah Kartini pada mulanya seorang wedana di Mayong. Peraturan kolonial waktu itu mengharuskan seorang bupati beristrikan seorang bangsawan. Karena M.A. Ngasirah bukanlah bangsawan tinggi, maka ayahnya menikah lagi dengan Raden Adjeng Woerjan (Moerjam), keturunan langsung Raja Madura. Setelah perkawinan itu, ayah Kartini diangkat menjadi bupati di Jepara menggantikan kedudukan ayah kandung R.A. Woerjan, R.A.A. Tjitrowikromo.

    Kartini adalah anak ke-5 dari 11 bersaudara kandung dan tiri. Dari semua saudara sekandung, Kartini adalah anak perempuan tertua. Kakeknya, Pangeran Ario Tjondronegoro IV, diangkat bupati dalam usia 25 tahun dan dikenal pada pertengahan abad ke-19 sebagai salah satu bupati pertama yang memberi pendidikan Barat kepada anak-anaknya.

    Kakak Kartini, Sosrokartono, adalah seorang yang pintar dalam bidang bahasa. Sampai usia 12 tahun, Kartini dibolehkan bersekolah di Europese Lagere School (ELS). Di sini Kartini belajar bahasa Belanda. Namun setelah usia 12 tahun, ia harus tinggal di rumah karena perempuan pada masa itu mesti dipingit setelah mengalami menstruasi pertama.

    Lantaran Kartini bisa berbahasa Belanda, maka di rumah ia mulai belajar sendiri dan menulis surat kepada teman-teman korespondensi yang berasal dari Belanda. Salah satunya adalah Rosa Abendanon yang banyak mendukungnya. Dari buku-buku, koran, dan majalah Eropa, Kartini tertarik pada kemajuan berpikir perempuan Eropa. Timbul keinginannya untuk memajukan perempuan pribumi karena ia melihat perempuan pribumi berada pada status sosial rendah.

    BISNIS

    Artikel lain:
    Problem Calon Pengantin Menjelang Pernikahan
    Christine Hakim, Emansipasi Bukan Berarti Harus Bersaing

    Motivasi Muncul Karena Rasa Lapar dan Aman, Ini Teorinya


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Potongan Janggal Hukuman Djoko Tjandra, Komisi Yudisial akan Ikut Turun Tangan

    Pengadilan Tinggi DKI Jakarta mengabulkan banding terdakwa Djoko Tjandra atas kasus suap status red notice. Sejumlah kontroversi mewarnai putusan itu.