Menikmati Tradisi Gastronomi Prancis di Amuz Cafe

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Chef Gilles Marx di dapur Amuz Cafe Jakarta. TEMPO/ Martha Warta Silaban

    Chef Gilles Marx di dapur Amuz Cafe Jakarta. TEMPO/ Martha Warta Silaban

    TEMPO.CO, Jakarta - Sup krim kepiting, sepiring escargot alias bekicot, telur rebus, dan seiris daging sapi mengawali petualangan lidah di Amuz Café, Jakarta. Hidangan ini adalah sajian penggugah selera bagi pengunjung restoran yang ingin menikmati tradisi menu Prancis. Tradisi inilah yang dipamerkan di 2.000 restoran di seluruh dunia dalam Festival Makanan Prancis atau Good France. Khusus di Amuz Café, ada delapan pilihan menu yang terbagi dalam empat set hidangan.

    Pendiri restoran ini, Gilles Marx, mengatakan jumlah menu tahun ini berkurang dibanding pada tahun sebelumnya, yang menawarkan 5 set. Alasannya, banyak makanan berlebih ketika hidangan disajikan dalam lima set menu. Ia berharap, dengan pengurangan ini, pengunjung dapat menyantap semua suguhan. Perbedaan lainnya, menu disediakan dalam dua pilihan, yakni klasik dan kasual. “Lebih baik dan lebih murah,” ucap dia.

    Gilles mengatakan menu kasual di restorannya adalah sup kepiting, tortellini (pasta) kepiting, dan ikan baramundi. Adapun menu klasik terdiri atas escargot dengan rebusan telur dan seiris daging sapi serta semur daging kambing. “Adanya kejutan pada menu sebelum penutup juga menjadi pembeda pada tahun ini,” kata dia.

    Duta Besar Prancis Jean-Charles Berthonnet dan istrinya, Caroline Berthonnet, tampak menikmati setiap menu yang ditawarkan koki Gilles. Jean juga beberapa kali terlihat memotret suasana santap malam tersebut. Hasilnya kemudian ia unggah ke akun Twitter miliknya. “Makanan dan suasana malamnya persis seperti di Prancis,” ucap Jean. Ia menambahkan, tradisi makan malam yang dimulai dengan makanan pembuka hingga penutup lumrah bagi keluarga Prancis. “Sekaligus untuk berdiskusi tentang banyak hal di luar makanan.”

    Menurut Berthonnet, masyarakat Indonesia tidak perlu pergi jauh untuk menikmati tradisi gastronomi Prancis yang pada 2010 ditetapkan UNESCO sebagai warisan budaya tak terlihat negara itu. Sebab, ada 35 restoran di Jakarta, Tangerang, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, Bali, dan Surabaya yang ikut dalam festival Good France. Festival pada tahun ini diharapkan dapat memecahkan rekor dunia lantaran diikuti oleh 2.000 restoran di 180 negara dengan 2.000 menu.

    Di Jakarta, restoran peserta Festival Good France 2017 antara lain Anigre, Bistro Baron, Le Monde au Balon, Lyon, dan Olivier. Di Bandung, ada restoran Bilbao, Hilton Bandung-Fresco, dan Streats Ibis Style Bandung Braga. Di Yogyakarta, terdapat LokaLoka Bistro dan Mediterrane Paprika. Di Surabaya, ada restoran Citrus Lee, The Consulate, dan Vis a Vis-JW Marriot. Adapun di Bali, masakan disuguhkan di Husk, Jimbaran Garden Intercontinental Bali Resort, dan Mozaiq Restaurant.

    Chef Eric Lowell dari Postro Bistreau menyatakan bangga karena dapat menyajikan menu spesial tiga set hidangan yang dapat dinikmati masyarakat Indonesia. “Orang Indonesia bisa makan berjam-jam sambilngobrol bersama keluarga untuk menyantap menu makan malam spesial ala Prancis,” kata Lowell.

    Salah seorang perwakilan dari restoran Nusa Gastronomy Jakarta, Don Dominggo, menyatakan baru pertama kali mengikuti festival ini. Meski bukan restoran masakan Prancis, Nusa Gastronomy menyediakan enam setmenu makan malam. Restoran ini juga memadukan cita rasa Prancis dengan Indonesia, seperti yang terlihat pada menu kerabu daging dan sup ikan kuah kuning, ayam kulat pelawan dan daging babanci, serta perpaduan keju dangke dengan kue-kue tradisional Indonesia, seperti klepon.

    MARTHA WARTA SILABAN


    Berita lainnya:

    Aneka Cokelat dengan Cita Rasa Prancis di Cacaote

    Mau Jajal Makanan Prancis, Kunjungi 37 Restoran Berikut

    Lily Gunawan, Dokter Gigi yang Banting Setir ke Bisnis Teh


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.