Penjelasan Dokter soal Bahaya Ear Candle

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Terapi ear candle. TEMPO/Ayu Ambong

    Terapi ear candle. TEMPO/Ayu Ambong

    TEMPO.CO, Jakarta - Salah satu kebiasaan yang bisa mengganggu fungsi telinga adalah terapi ear candle, yang biasa dilakukan untuk membersihkan telinga.

    Dokter spesialis THT dan Kepala Leher dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Harim Priyono, mengatakan tidak ada penelitian yang menguatkan manfaat dari ear candle ini. Kotoran yang tersedot saat melakukan ear candle sebenarnya adalah campuran lilin dan abu dari kertas di dalam ear candle itu sendiri. “Telinga punya mekanisme alami untuk membersihkan kotorannya sendiri,” ujarnya.

    Harim menjelaskan ear candle juga berbahaya karena berisiko menimbulkan luka bakar di telinga. Kebiasaan lain yang menurutnya harus dihindari adalah mengorek kuping dengan cotton bud. Kebiasaan ini akan menyebabkan kotoran menumpuk di belakang telinga sehingga semakin sulit dibersihkan.

    Organ pendengaran memang menjadi salah satu organ yang cukup sensitif. Di Indonesia, penderita gangguan pendengaran cukup besar. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga menunjukkan 4,6 persen penduduk Indonesia mengalami ganggaun pendengaran. Sementara itu, setiap tahun sekitar 5.000 bayi di Indonesia lahir dalam keadaan tuli.

    ADVERTISEMENT

    Kondisi ini memberikan dampak yang buruk berupa kesulitan berkomunikasi kepada penderita, keluarga, hingga masyarakat. Tidak heran jika penderita gangguan pendengaran biasanya agak terisolasi.

    Selain menghindari kebiasaan yang dapat merusak telinga, hal penting lainnya adalah mendeteksi sejak dini gangguan pendengaran. Semakin cepat ditangani, semakin cepat juga bisa disembuhkan. Berikut ini beberapa gangguan pendengaran yang sering terjadi pada anak adalah:

    #Usia 3, 9, 12 bulan tidak bereaksi pada suara keras
    #Tidak dapat menirukan suara
    #Tidak menoleh ke arah suara
    #Tidak menunjuk ke arah orang atau obyek yang dikenal saat diminta
    #Tidak memahami frase sederhana dengan mendengar saja, seperti ‘daa-daa’ atau tepuk tangan
    #Tidak menirukan dan menggunakan kata sederhana kepada seseorang yang dikenal dan hal-hal sekitar rumah
    #Pada saat berbicara tidak terdengar seperti anak-anak lainnya
    #Tidak menunjukkan pertumbuhan pada pemahaman dan penggunaan kosa kata

    BISNIS

    Artikel lain:
    7 Kiat Mengontrol Porsi Makan
    Reaksi Tubuh Jika Jarang Bercinta
    Fakta tentang Seksualitas pada Abad Pertengahan


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Gonta-ganti Istilah Kebijakan Pemerintah Atasi Covid-19, dari PSBB sampai PPKM

    Simak sejumlah istilah kebijakan penanganan pandemi Covid-19, mulai dari PSBB hingga PPKM, yang diciptakan pemerintah sejak 20 April 2020.