Dilema Makan Garam, Pisau Bermata Dua yang Dicari dan Dihindari

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi garam. Shutterstock

    Ilustrasi garam. Shutterstock

    TEMPO.CO, Jakarta - Garam seperti pisau bermata dua. Di dapur, kandungan natrium klorida (NaCL) ini dipuja sebagai bumbu masak andalan. Perannya garam dinilai penting sampai ada istilah "seperti sayur tanpa garam" untuk menggambarkan kondisi yang kurang memuaskan.

    Meski demikian, garam justru menjadi bulan-bulanan di dunia kesehatan. Bumbu dapur ini menjadi kambing hitam atas berbagai keluhan penyakit, terutama hipertensi, jenis penyakit yang banyak diderita masyarakat ketika terjadi gangguan sistem peredaran darah yang menyebabkan kenaikan tekanan darah di atas normal hingga 140/90 mmHg.

    Jika dibiarkan hipertensi bisa meningkatkan risiko stroke, gagal ginjal, dan gagal jantung. Walau bisa memicu hipertensi, bukan berarti garam harus dihindari sama sekali. Garam juga memiliki banyak fungsi, mulai dari mencegah kram, yang bisa berakibat fatal bagi jantung, hingga osteoporosis akibat kekurangan mineral yang terkandung dalam garam.

    Para atlet juga sering mengkonsumsi garam untuk mencegah kram. Sementara itu, pada ibu hamil, kekurangan garam bisa menyebabkan janin mengalami kekurangan hormon tiroid yang berguna untuk metabolisme tubuh dan perkembangan otak.

    ADVERTISEMENT

    Ahli gizi dari Rumah Sakit Pusat Pertamina, Indah Titi Sekar Indah mengatakan jika diikonsumsi secara secara proporsional, garam sebenarnya bermanfaat untuk tubuh. Idealnya, konsumsi garam adalah 3.000 miligram NcCL atau setara dengan setengah sendok per hari.

    Namun, mungkinkah mengkonsumsi garam dalam jumlah ideal tersebut? Hal tersebut menjadi sulit karena hampir semua makanan saat ini telah mengandung garam. Dengan demikian, rasanya sulit untuk mengetahui berapa jumlah garam yang dudah dikonsumsi.

    Lalu, bagaimana cara diet garam yang baik? “Bisa mulai dengan tidak menyediakan garam di atas meja makan dan diberlakukan di seluruh rumah,” ujarnya.

    Titi menuturkan ketersediaan garam di atas meja biasanya memicu kita untuk menambahkan garam di makanan yang kita santap. Kebiasaan lain yang harus dihindari adalah mengkonsumsi ikan asin, saus, serta berbagai makanan ringan.

    Terkait dengan hipertensi, dokter spesialis penyakit dalam, Yuda Turana, mengatakan pengetahuan masyarakat dan tenaga kesehatan di Indonesia soal hipertensi saat ini masih rendah. Menurut riset, 60 persen penderita hipertensi justru tidak sadar kalau mereka memiliki penyakit tersebut. Sementara itu, 80 persen di antaranya tidak melakukan kontrol terhadap tekanan darah mereka.

    Hipertensi sebenarnya bukan tanpa gejala. Beberapa pengidap penyakit ini biasanya mengalami sakit kepala terutama di bagian belakang pada pagi hari, pusing, vertigo, telinga yang berdengung, hingga gangguan penglihatan. Hipertensi juga menimbulkan sejumlah gejala seperti jantung berdebar-debar, sulit bernafas setelah bekerja keras, mudah lelah, wajah memerah, dan hidung berdarah. “Hipertensi bisa disebabkan oleh faktor genetik dan lingkungan,” katanya.

    Yuda menjelaskan hipertensi biasanya menyerang pada usia 35-55 tahun. Hipertensi juga bisa diturunkan secara genetik. Dari lingkungan, faktor yang mempengaruhi antara lain dari makanan, obesitas, dan kondisi penyakit lain seperti diabetes melitus.

    BISNIS

    Artikel lain:
    Reaksi Tubuh Jika Jarang Bercinta
    Segera Atasi Stress Dengan Cara ini
    Mau Panjang Umur, tapi Takut ke Dokter, Itulah Generasi X


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aturan Resepsi Pernikahan di PPKM Level 4 dan 3

    Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat, atau PPKM, dengan skema level juga mengatur soal resepsi pernikahan. Simak aturannya.