Sering Pakai Headset, Atur Volume dan Durasinya

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi anak kecil kenakan earphone/headset. shutterstock.com

    Ilustrasi anak kecil kenakan earphone/headset. shutterstock.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Orang yang gemar mendengarkan musik atau menyaksikan video dari ponsel cerdas pasti sering menggunakan earphone atau headset.

    Meningkatnya pemakaian earphone telah mengubah gaya hidup masyarakat. Tak ada salahnya memang memanfaatkan kecanggihan teknologi. Namun, terlalu sering menggunakan headset ternyata berdampak sangat serius bagi kesehatan.

    Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 2015 memperkirakan miliaran anak muda di dunia berisiko menderita gangguan pendengaran akibat mendengar sesuatu secara tidak aman. Tak kurang dari 43 juta orang dalam rentang usia 12-35 tahun di negara berpenghasilan menengah hingga tinggi, hidup dengan gangguan pendengaran.

    Fakta itu terungkap dalam diskusi Hari Pendengaran Sedunia yang diadakan Kementerian Kesehatan di Jakarta. Gangguan pendengaran pada mereka yang berusia 12-35 tahun itu disebabkan oleh beberapa faktor.

    ADVERTISEMENT

    Ketua Perhimpunan Ahli THT Bedah Kepala Leher dr. Soekirman Soekin, Sp.T.H.T.K.L, M.Kes mengatakan bisa jadi penyebabnya mereka terpapar tingkat suara tidak aman akibat penggunaan perangkat audio personal. "Kasus yang disebabkan faktor ini mencapai 50 persen," kata Soekirman.

    Penyebab kedua, menurut dia, mereka terpapar tingkat suara yang berpotensi merusak, seperti hingar-bingar di klab malam, diskotik, atau bar. Soekirman kemudian membeberkan lima fakta menarik soal penggunaan headset pada masyarakat Indonesia:

    1. Di Indonesia, jumlah pengguna aktif telepon pintar terus meningkat. Lembaga riset digital marketing E-marketer memperkirakan pada 2018 jumlah pengguna aktif telepon pintar di Indonesia lebih dari 100 juta orang. Angka sebanyak itu menempatkan Indonesia sebagai negara dengan pengguna aktif telepon pintar ke-empat terbesar di dunia setelah Tiongkok, India, dan Amerika.

    2. Perilaku mendengarkan tidak aman, seperti mendengar musik melalui earphone dengan volume berlebih dalam durasi panjang, dapat menyebabkan gangguan pendengaran akibat bising atau GPAB. GPAB dapat bersifat sementara atau permanen.

    3. Faktor risiko penyebab GPAB adalah paparan bising yang cukup keras (lebih dari 85 desibel) dalam jangka waktu lama dan berulang-ulang. Selain itu, GPAB juga dapat disebabkan oleh bising yang berasal dari lingkungan kerja dan tempat tinggal.

    4. Pencegahan GPAB dapat dilakukan dengan membatasi volume dan durasi penggunaan perangkat audio. Idealnya seseorang dapat mendengar musik dengan volume maksimal 60 persen dan durasi maksimal 60 menit.  

    5. Pencegahan dapat dilakukan dengan menghindari lingkungan bising, menghindari suara keras, menggunakan alat pelindung pendengaran ketika sedang bekerja, serta mengurangi waktu paparan bising dengan mengatur waktu kerja.

    TABLOIDBINTANG

    Berita lainnya:
    Endang Indriani, Tokoh Inspiratif di Balik Blog Just Try & Taste
    Resep Bersihkan Komedo dengan Ampas Kopi dan Baking Soda


    Kristen Bell dan Dax Shephard Harmonis Berkat Couple Therapy


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PPKM Darurat vs PPKM Level 4: Beda Istilah Sama Rasa

    Instruksi Mendagri bahwa PPKM Level 4 adalah pemberlakukan pembatasan kegiatan di Jawa dan Bali yang disesuaikan dengan level situasi pandemi.