4 Mitos Pengaturan Keuangan

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi menghitung uang. shutterstock.com

    Ilustrasi menghitung uang. shutterstock.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Mengatur keuangan merupakan hal penting, terutama bagi mereka yang sudah berkeluarga. Namun, ada beberapa anggapan terkait pengaturan keuangan yang tidak sepenuhnya benar. Berikut beberapa anggapan yang kerap kali dijadikan prinsip utama dalam mengatur keuangan, tetapi sebenarnya kurang tepat.

    1. Kartu Kredit itu Bahaya
    Anggapan di atas salah besar. Bila digunakan dengan bijaksana, kartu kredit akan anda perlukan, terutama untuk membeli mobil, rumah, atau tagihan-tagihan. Tanpa kartu kredit, anda akan beresiko membayar hutang melewati waktu yang ditentukan, sehingga akan menunggak.

    Untuk menghindari tunggakan hutang karena penggunaan kartu kredit, mulai dengan saldo rendah dan gunakan hanya sesekali dalam setahun. Pilihlah kartu kredit dengan biaya tahunan yang rendah. Berhati-hatilah jika anda memilih kartu kredit yang menawarkan banyak promo, karena semakin banyak promo maka semakin tinggi pula suku bunga dan fine print – tulisan kecil yang berisi informasi mengenai suku bunga atau persyaratan lainnya yang bisa berubah sesuai kondisi bank – nya.

    2. Lebih Baik Beli daripada Sewa
    Hal tersebut tidak selalu benar. Untuk membeli sesuatu, anda harus menyiapkan uang dengan jumlah banyak. Contohnya, membeli rumah dianggap lebih baik daripada mengontrak atau menyewa. Namun, untuk membeli rumah tentunya anda harus menyiapkan bujet yang besar. Selain itu, apabila anda hidup seorang diri atau sebagai pasangan, menyewa rumah lebih baik daripada membeli karena ada pajak tanah dan bangunan yang harus dibayar.

    ADVERTISEMENT

    3. Kebiasaan Minum Kopi Bikin Bangkrut
    Ada anggapan bahwa kecintaan anda pada kopi menjadi salah satu penyebab banyaknya pengeluaran. Taruhlah jika anda memangkas kopi seharga Rp 40.000 per hari, ketika ditabung hingga setahun uang kopi anda akan berhasil mencapai Rp 15.000.000.

    Namun, menurut perencana finansial Cathy Derus, menghilangkan kebiasaan dengan alasan untuk menabung malahan cenderung akan menggiring anda untuk suatu hari menghabiskan uang tersebut secara tidak bijaksana karena ada perasaan tertekan. Daripada memfokuskan diri ke hal kecil untuk dipangkas, lebih baik pikirkan cara untuk mendapatkan uang lebih banyak, seperti melakukan kerja sampingan atau menambah keterampilan untuk meningkatkan kualitas diri dan menargetkan lahan pekerjaan dengan pendapatan yang lebih baik.

    4. Menyiapkan Tabungan Darurat Hingga 6 Kali Biaya Hidup itu Penting!
    Kebanyakan menganggap bahwa setiap orang harus memiliki dana darurat yang bisa mencukupi ideal biaya hidup selama 3 - 6 bulan atau lebih untuk dipakai ketika kita tidak memiliki penghasilan. Di Amerika, hanya 28 persen orang yang berhasil melakukan hal ini. Menurut perencana finansial Sophia Bera, lebih baik mulailah menabung pelan-pelan dengan jumlah kecil. Pilih produk deposito agar anda bisa lebih bijaksana dalam menarik tabungan anda. 

    COSMOPOLITAN | ZARA AMELIA 

    Baca juga:
    Mencari Titik Terbaik untuk Memakai Parfum, Dimana Saja?
    Sembilan Produk Kosmetik yang Tak Bermanfaat
    Kurangnya Edukasi Botox untuk Atasi Keriput


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PPKM Darurat vs PPKM Level 4: Beda Istilah Sama Rasa

    Instruksi Mendagri bahwa PPKM Level 4 adalah pemberlakukan pembatasan kegiatan di Jawa dan Bali yang disesuaikan dengan level situasi pandemi.