Angkringan dengan Suasana Desa di Waroeng Pati

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Waroeng Pati. tabloidbintang.com

    Waroeng Pati. tabloidbintang.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Waroeng Pati, restoran dengan bangunan tradisional Jawa Joglo berukir ornamen Kudus menyajikan berbagai menu khas Jawa lengkap di tengah kota kecil Pati, Jawa Tengah. Mulai dari hidangan pembukan, menu utama, hingga hidangan pencuci mulut, dan berbagai minuman segar. Suasana yang ditawarkan khas bernuansa tradisional Jawa yang sederhana namun berkelas.

    Waroeng Pati mengadopsi nuansa warungan yang terasa akrab. Mereka mempertahankan meja yang biasanya dipakai untuk memajang menu andalan. Waroeng Pati menawarkan Soto Kemiri dan Nasi Gandul sebagai hidangan utama. Dari meja tersebut, pengunjung bisa melihat rupa soto kemiri dan nasi gandul beserta bahan yang digunakan.

    Selain Soto Kemiri dan Nasi Gandul, ada Nasi Batu yang berwujud nasi beserta lauk pauk yang disajikan dalam wadah batu. Sebelum memesan hidangan utama, pengunjung bisa mencicipikue putri mandi sebagai pembuka. Kuenya legit ini terbuat dari tepung ketan berisi parutan kelapa bersaus santan kental yang tidak terlalu manis sehingga tak eneg.

    Tahu gimbalnya juga unik, berupa irisan tahu dan sayuran bersaus yang disajikan dengan udang kipas goreng renyah. Jika butuh minuman yang segar, pengunjung bisa memesan si hitam manis, variasi es berupa jelly mocha, nata de coco, nangka, selasih dan cincau yang disiram saus cocopandan.

    ADVERTISEMENT

    Pengunjung juga bisa memandang arsitektur Waroeng Pati dan lingkungan di sekitarnya dari area outdoor. Adapun angkringan di dalam ruangan berpenyejuk udara berkapasitas 150 kursi dan bisa dipakai untuk standing party sampai 200 orang.

    TABLOIDBINTANG

    Berita lainnya:

    Bakmi Jawa di Tanah Pasundan
    Renyah dan Gurihnya Keripik Bit


    Bakso Beranak, Inovasi dalam Semangkuk Bakso

     


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Klaim Landai Angka Kasus Harian Covid-19, Angka itu Mengelabui Kita

    Pemerintah klaim kasus harian Covid-19 mulai melandai. Lalu mengapa pendiri LaporCovid-19 mengatakan bahwa angka itu tak ada artinya?