Mana Lebih Berbahaya, Main Ponsel atau Marah Saat Mengemudi?  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • redericknewspost.com

    redericknewspost.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Jika Anda terbiasa menyetir mobil untuk beraktivitas sehari-hari di kota besar, pastinya kemacetan adalah sahabat rutin. Potensi stres ketika berkendara pun tidak terelakkan.

    Sebagian orang mengatasi kebosanan dan stres saat terjebak kemacetan dengan bermain ponsel pintar atau mendengarkan lagu. Namun, tidak banyak yang mengetahui cara ampuh menetralisir stres di jalan terletak pada mekanisme pengendalian emosi.

    Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Universitas Houston di Texas, Amerika Serikat,  ingin membuktikan apa saja yang membuyarkan konsentrasi pengemudi serta bagaimana cara mengatasinya. Eksperimen dilakukan terhadap 59 pengemudi dengan menggunakan simulator berkendara.

    Kepala peneliti, Ioannis Pavlidis, mengatakan gangguan konsentrasi pengemudi dipicu oleh tiga faktor, yaitu emosional murni, kognitif, serta fisik/sensorimotor. Masing-masing memberi dampak berbeda terhadap perilaku mengemudi.

    ADVERTISEMENT

    Setiap subyek penelitian menjalani beberapa tahapan tes di mesin simulator. Pada tahapan pertama, kebanyakan dari mereka fokus untuk membiasakan diri dengan setir pada mobil. Alat sensor merekam adanya tingkatan stres tahap awal pada sistem saraf mereka.

    Kedua, mesin simulator berkendara tersebut mengubah sudut setir dan haluan kemudi ke kiri atau kanan saat sedang dijalankan pengemudi. Hal ini meningkatkan level stres pada pengemudi empat kali lebih tinggi. Pada tahapan ini, stres lebih dipicu oleh faktor kognitif karena pengemudi merasa kesulitan menyetir dan faktor emosional karena situasi menyetir yang menantang membuat pengemudi berada di bawah tekanan emosi.

    Ketiga, para pengemudi dipersilakan menggunakan ponsel untuk mengirim pesan atau chatting sambil berkendara. Pada tahapan ini, terjadi stres yang dipicu oleh faktor sensorimotor. Tahapan keempat adalah mensimulasi gabungan faktor kognitif, emosional, dan sensorimotor sebagai pemicu stres saat berkendara.

    Dari keempat tahapan simulasi tersebut, didapatkan hasil bahwa setiap pengemudi berubah menjadi grogi saat mengendalikan setir di bawah tekanan stres. Namun, hanya gangguan sensorimotor yang menunjukkan ancaman paling berbahaya bagi keselamatan.

    Dengan kata lain, aktivitas fisik seperti bermain ponsel saat sedang menyetir paling rawan bagi keselamatan pengemudi. Sebaliknya, faktor emosional dan kognitif lebih mudah dikendalikan dan justru dapat meningkatkan kewaspadaan pengemudi.

    Ioannis menjelaskan stres di jalanan yang berasal dari tekanan mental dan emosional justru akan membuat pandangan pengemudi fokus ke depan dan terkonsentrasi. Bahkan, trayek kemudi mereka menjadi lebih lurus dibandingkan saat kondisi normal.

    Hal tersebut mengindikasikan bahwa pengemudi memiliki mekanisme adaptasi terhadap stres emosional dan kognitif, sehingga mereka masih tetap bisa memberi perhatian ekstra pada jalan, bahkan di saat pikiran mereka sedang sibuk. “Di tengah kondisi stres, sistem di otak pengemudi sudah terisi penuh, karena menyetir itu  sendiri adalah aktivitas yang membutuhkan sumber daya psikofisiologis,” jelas Ioannis, dikutip dari Reuters.

    Di samping itu, lanjut dia, jika Anda menambahkan faktor stres lain, baik kognitif, emosional, maupun fisik, hal tersebut akan meningkatkan beban sistem otak lebih jauh dan membuat tugas menyetir menjadi lebih sulit. Lebih lanjut, dia menyebutkan faktor stres emosional dan kognitif berpotensi membahayakan keselamatan pengemudi, tapi bisa berbalik menjadi manfaat apabila dapat ditangani dengan baik.

    “Sebaliknya, pengemudi yang tidak dapat mengatasi stres emosional dan kognitif bisa langsung mengalami kecelakaan, karena konsentrasi mereka terpecah," katanya. "Hal ini biasanya terjadi saat pengemudi sekaligus melakukan aktivitas sensorimotor seperti bermain ponsel."

    Secara ilmiah, melakukan kegiatan seperti mengirim teks saat mengemudi membuyarkan mekanisme "autopilot" pada seorang pengemudi sebab konsentrasi mereka terbelah dengan kegiatan lain yang memaksa pandangan teralihkan dari jalan dan tangan mereka dari setir. “Pengendalian kendaraan yang baik membutuhkan kedua tangan yang stabil pada setir. Gangguan seperti memegang ponsel akan mempengaruhi stabilitas dan membuat pengemudi menjadi grogi atau setir tidak stabil,” jelas Despina Stavrinos dari Universitas Alabama.

    Menurutnya, jika pandangan pengemudi tidak terkonsentrasi di jalanan, kemungkinan besar mereka salah mengambil sikap pada setir saat tiba-tiba muncul potensi kecelakaan di depan mata. Akibatnya, insiden pun tak bisa dihindari.

    Tip terbaik untuk menyetir dengan aman adalah jangan menjalankan kemudi saat Anda sedang marah atau emosi, apalagi di tengah situasi jalanan Ibukota yang karut marut. Ambil waktu beberapa saat untuk meredakan emosi sebelum kembali berpacu di jalanan.

    Selain itu, ada baiknya mulailah mengurangi frekuensi bermain ponsel karena membuat kecanduan dan dapat merusak konsentrasi, tidak hanya pada saat menyetir tapi pada seluruh aspek kehidupan. Sayangnya, penyakit kecanduan ponsel masih banyak dijumpai di sekitar kita.

    BISNIS

    Artikel lain:
    7 Tanda Seorang Penggila Belanja
    Pertanda Cinta Bertepuk Sebelah Tangan
    Putri Raja Arab, Ada yang Seperti Kehilangan Jiwa


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Klaim Landai Angka Kasus Harian Covid-19, Angka itu Mengelabui Kita

    Pemerintah klaim kasus harian Covid-19 mulai melandai. Lalu mengapa pendiri LaporCovid-19 mengatakan bahwa angka itu tak ada artinya?