Awas, Stres Bisa Memicu Obesitas

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi perempuan gemuk/obesitas. Shutterstock

    Ilustrasi perempuan gemuk/obesitas. Shutterstock

    TEMPO.CO, Jakarta - Stres yang berkelanjutan bukan cuma mengundang darah tinggi, penyakit jantung, dan insomnia, tetapi juga bisa membuat orang mengalami kelebihan berat badan. Demikian menurut studi yang dimuat di jurnal Obesity.  

    Penelitian yang dipimpin oleh Sarah Jackson dari Institute of Epidemiology and Health, University College London ini mempelajari 2.500 pria dan wanita berusia 54 dan lebih tua selama sekitar empat tahun.

    Mereka mengambil sampel rambut masing-masing partisipan untuk mengukur kadar kortisol, hormon yang dilepaskan ke dalam aliran darah pada saat stres. Jika seseorang sedang mengalami stres jangka panjang, maka tingkat kortisolnya akan jauh lebih tinggi.

    Para peneliti juga mengumpulkan data berat badan partisipan dan membandingkannya dengan kadar kortisol. Hasil penelitian menunjukkan, mereka yang memiliki kadar kortisol lebih tinggi cenderung memiliki lingkar pinggang lebih besar.

    ADVERTISEMENT

    Temuan ini memberikan bukti yang konsisten bahwa stres jangka panjang berhubungan dengan resiko obesitas yang lebih tinggi.

    Berdasarkan kesimpulan itu, Jackson menyarankan orang-orang harus menemukan cara-cara yang lebih baik untuk mengelola stres mereka.

    ANTARA

    Berita lainnya:
    Poffertjes, Kue Empuk Lambang Keakraban Keluarga
    Pahami Karakter Berbagai Reuni sebelum Mendatanginya
    Uma Hapsari: Sepatu Keren Tidak Harus Mahal


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aturan Pernikahan dan Hajatan saat PPKM Level 4 dan 3, Ada Sanksi jika Melanggar

    Pemerintah mengatur resepsi pernikahan saat PPKM Level 4 dan lebih rendah. Aturan itu diikuti sanksi bagi pelaku usaha, perorangan, dan kepala daerah.