Pertimbangkan Hal Ini Sebelum Memarahi Anak di Depan Umum

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi orang tua memarahi anak/anak menangis. Shutterstock.com

    Ilustrasi orang tua memarahi anak/anak menangis. Shutterstock.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Seringkali orang tua memarahi anaknya di tempat umum seolah tidak ada orang lain yang memperhatikan. Luapan emosi orang tua dengan suara yang tinggi, teriakan atau bahkan dengan sedikit kekerasan fisik. Seperti menarik keras atau mendorong. Ayah Bunda haruskah memarahi anak di depan umum?

    Menurut Anggia Chrisanti, konselor dan terapis dari Biro Konsultasi Psikologi Westaria, memarahi anak seharusnya tidak ada lagi dalam kamus orang tua zaman sekarang. Apalagi di depan umum.

    “Mengubah perilaku menjadi lebih baik, harus dengan marah? Sepertinya tidak,” kata Anggia. “Andai memang harus marah saat itu juga, hanya boleh jika berada dalam kondisi tertentu. Misal, mendesak, anak keterlaluan, dan lain-lain,” ujarnya.

    Anggia menyarankan para orang tua untuk lebih dulu membuat mempertimbangkan hal berikut sebelum memarahi anak:

    ADVERTISEMENT

    1. Seberapa penting?
    Seberapa penting mengubah perilaku anak saat itu juga? Di depan umum? Sebegitu pentingnya kah sehingga tidak bisa menunggu jeda sebentar sampai tidak dilihat banyak orang? Kalau Anda yakin penting banget harus melakukannya saat itu juga, maka lakukan.

    2. Seberapa segera?
    Tentu masih erat kaitannya dengan seberapa penting tadi. Artinya, jangan marah menjadi amarah. Marah, Anda fokus pada masalahnya. Amarah, Anda meluapkan emosi negatif. Bisa kepada anak atau jangan-jangan malah bukan tentang anak.

    Marah seharusnya bisa menunggu. Sebentar saja, saat anak cukup tenang, saat anak tidak terpancing emosi, dan saat tidak banyak orang.

    3. Seberapa sepadan?
    Andai sepenting itu (nomor 1) dan harus sesegera itu (nomor 2), tanyakan kembali seberapa sepadan marah Anda yang tujuannya menasehati/memberitahu/mengubah perilaku, dengan risiko trauma anak di masa mendatang. Sakit hati, malu, sedih, takut, bahkan dendam.

    Jika Anda rasa cukup sepadan, lakukanlah. Jika tidak, tahan diri sebentar. Cari waktu yang lebih baik, kondisi yang lebih tenang, cara dan kata yang lebih baik atau lebih efektif.

    TABLOIDBINTANG

    Berita lainnya:
    6 Jenis Kanker yang Menyerang Anak
    Atur Intonasi Suara dalam Mendisiplinkan Anak, Jangan Teriak
    3 Mitos Seputar Bayi Kuning pada Bayi Baru Lahir


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PPKM Darurat vs PPKM Level 4: Beda Istilah Sama Rasa

    Instruksi Mendagri bahwa PPKM Level 4 adalah pemberlakukan pembatasan kegiatan di Jawa dan Bali yang disesuaikan dengan level situasi pandemi.