Ini Bahayanya Operasi Plastik

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Meski berkali-kali aktris dan penyanyi Scarlett Johansson membantah telah melakukan operasi plastik, namun beberapa dokter kecantikan meyakini bahwa ia telah melakukan trasformasi pada beberapa bagian tubuhnya. Seperti operasi plastik pada hidung dan juga pembesaran payudara. Berikut perubahan penampilannya sebelum (kiri) dan setelah operasi. sofeminine.co.uk

    Meski berkali-kali aktris dan penyanyi Scarlett Johansson membantah telah melakukan operasi plastik, namun beberapa dokter kecantikan meyakini bahwa ia telah melakukan trasformasi pada beberapa bagian tubuhnya. Seperti operasi plastik pada hidung dan juga pembesaran payudara. Berikut perubahan penampilannya sebelum (kiri) dan setelah operasi. sofeminine.co.uk

    TEMPO.CO, Jakarta - Banyak orang yang rela merogoh kocek dalam-dalam untuk memperbaiki penampilan lewat bedah plastik. Padahal, selain butuh biaya besar, ada begitu banyak bahaya yang menyertai operasi plastik namum para pemburu kesempurnaan fisik itu tidak peduli.

    Menurut American Society for Aesthetic Plastic Surgery (ASAPS), pada 2015 ada 2 juta tindakan bedah plastik, atau naik 7 persen dibanding tahun sebelumnya. Dan kegilaan pada bedah plastik tidak menunjukkan tanda-tanda menyurut. 

    Jumlah tindakan operasi plastik telah naik 500 persen sejak 1997, kala pertama ASAPS mulai mendata. Kepada Fox News, tiga pakar bedah plastik mengungkapkan opini mereka dan jenis tindakan yang sering tidak mereka sarankan pada pasien.

    1. Suntik minyak silikon
    Meski pihak yang berwenang telah meyetujui tindakan ini untuk mengatasi jerawat lama dan bekas luka, Dr. Manish Shah menyatakan kebanyakan pakar bedah plastik tidak menyarankan prosedur ini dalam operasi. Pasalnya, bila suntikan ini menyebabkan infeksi atau peradangan, maka akibatnya adalah berbagai komplikasi. Tak seperti implant padat, minyak silikon ini bisa dibuang dengan mudah.

    2. Membuang kelenjar
    Menurut Shah, ketika seseorang ingin memperbaiki penampilan dengan mengangkat wajah dan leher yang turun, dua kelenjar sering harus dibuang dari garis rahang. Kebanyakan pasien memang ingin kelenjar itu dibuang padahal dampaknya bisa sangat berbahaya dan bisa berakibat mulut kering selamanya atau pendarahan yang bisa menyulitkan pasien sulit bernapas di malam hari.

    3. Membuang rusuk
    Membuang beberapa batang tulang rusuk atau ribrosections untuk membuat pinggang lebih ramping sering tidak disarankan para pakar bedah plastik. Menurut Shah, tindakan ini berisiko tertusuknya paru-paru, serta kerusakan ginjal dan organ-organ lain.

    4. Membuang lemak pipi
    Dr. Jason Moche dari Divisi Operasi Plastik dan Rekonstruksi Wajah di Universitas Columbia, Amerika Serikat, mengaku ia dan pakar bedah plastik lain sering keberatan membuang lapisan lemak dari pipi pasien.

    “Mereka memang akan tampak lebih baik, tapi yang jelas wajah pasien akan terlihat sangat tirus karena volume pipi yang akan menyusut seiring pertambahan usia,” jelas Moche.

    5. Penggunaan benang
    Dalam prosedur ini, para dokter akan memasukkan semacam benang ke sela kulit, yang akan mereka gunakan untuk menarik wajah pasien. Akan tetapi, menurut Moche, cara ini bisa menyebabkan benjolan-benjolan yang tidak rata di kulit. Yang lebih buruk, benang itu sulit dibuang bila suatu hari nanti pasien ingin melepasnya.

    6. Prosedur tidak standar
    Dr. Kevin H. Small, direktur bagian operasi plastik di NY Bariatric Group di Amerika Serikat mengaku sangat menentang prosedur yang tak sesuai peraturan dan tidak aman. Contohnya adalah suntik silikon atau pemasangan implant yang tidak aman. Ia bahkan mendengar ada pasien yang diperbesar bokongnya, tentu saja di tempat operasi plastik yang tidak terjamin, dengan cara menyuntikan semen.

    PIPIT

    Baca juga:
    Deena Abdulaziz Al-Saud, Putri Arab Saudi yang Nyentrik
    6 Gejala Serangan Jantung yang Kerap Diabaikan
    Proses Penuaan Kulit Terjadi Mulai Usia 30, Itu Keliru


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.