Kesalahan dalam Membuat Kriteria Pasangan Idaman

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi wanita cemberut. shutterstock.com

    Ilustrasi wanita cemberut. shutterstock.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Bagi Anda yang masih lajang, mungkin sesekali masih ada yang iseng bertanya, "Mana pasanganmu?". Pertanyaan yang mudah, namun sulit untuk dijawab.

    Bukannya Anda betah berlama-lama melajang, tapi mencari dan mendapatkan pasangan terbaik dan ideal bukan urusan mudah. Siapa pun juga tak mau asal 'laku'. Tapi, apa benar karena alasan mencari yang terbaik itu membuat Anda masih melajang juga sampai sekarang?

    Salah satu kesalahan umum dalam mencari pasangan ideal adalah membuat daftar kriteria yang panjang nan sulit, namun tidak diikuti dengan usaha untuk mencapainya. "Kesalahan umum adalah membuat kriteria yang terlalu tinggi dibandingkan dengan posisi kita," kata Jet Veetlev, konsultan cinta dan hubungan yang juga co-founder situs kelascinta.com di Jakarta, Sabtu, 11 Februari 2017.

    Ibarat ingin masuk sekolah unggulan dengan nilai di bawah standar, tanpa ada usaha belajar keras, tentu akan berujung kegagalan. "Tingkatkan kualitas Anda. Boleh saja mau pasangan yang seperti ini dan itu, yang penting bisa memposisikan diri agar selevel dengan itu."

    Selain itu, Jet mengingatkan untuk tidak membuat kriteria yang terlalu umum, misalnya ingin pasangan yang baik, humoris, perhatian dan pintar. Lebih baik buat kriteria yang lebih detil dan spesifik agar tahu di mana bisa mencari pasangan idaman Anda.

    Jet mencontohkan kriteria yang lebih rinci: punya hobi membaca, bertubuh atletis, dan bekerja sebagai dokter. Kemudian, cari jalan untuk mewujudkan agar pasangan idaman tak hanya jadi angan. "Misalnya ingin punya suami dokter, apakah Anda punya teman dokter yang bisa mengenalkan pada teman-temannya?"

    ANTARA

    Berita lainnya:
    Resep Es Lolipop Rasa Stroberi
    5 Persiapan Wajib Menjelang Wawancara Kerja


    Tip Supaya Anak Mengerjakan PR dengan Gembira


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.