Bahaya Pakai Kemasan Plastik pada Ibu Hamil

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi minum dari botol. Shutterstock.com

    Ilustrasi minum dari botol. Shutterstock.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Seringkali kita malas membawa botol minum sendiri, sehingga membeli air minum kemasan. Namun, sebuah penelitian menunjukkan ibu hamil yang mengkonsumsi air dari botol plastik akan beresiko melahirkan anak obesitas.

    Peneliti menemukan di dalam botol plastik terdapat kandungan Bisphenol-A (BPA), yang dapat menghalangi aktivitas hormon natural dalam tubuh. Bayi yang terpapar BPA menjadi kurang responsif terhadap hormon pengontrol nafsu makan.

    BPA adalah zat kimia yang terkandung di berbagai kemasan pangan dari polikarbonat. Zat ini dapat menghalangi aktivitas sistem endokrin (kumpulan kelenjar penghasil hormon).

    Penelitian terbaru ini dilakukan oleh Lembaga Endokrin di Washington DC terhadap induk tikus hamil yang terpapar dan tidak terpapar BPA. Peneliti menemukan bayi tikus dari induk yang terpapar BPA menjadi kurang sensitif terhadap hormon leptin (hormon rasa kenyang).

    ADVERTISEMENT

    Leptin bertugas mengirim sinyal ke hipotalamus di otak untuk menekan rasa lapar. Penulis penelitian ini, Dr. Alfonso Abizaid, menjelaskan paparan BPA kepada bayi tikus memperlambat responsnya terhadap hormon leptin secara permanen, sehingga bayi tikus itu beresiko menderita obesitas ketika dewasa.

    Induk tikus hamil yang tidak terpapar BPA, disuntikkan hormon estrogen buatan, yaitu diethylstilbestrol (DES). Bayi induk tersebut kemudian dibandingkan dengan bayi dari induk yang terpapar BPA.

    Umumnya, anak tikus pada umur delapan hari akan mengalami lonjakan hormon leptin pada tubuh mereka. Namun, pada bayi tikus dari induk yang terpapar BPA mengalami penundaan lonjakan leptin dua hari lebih lama, sedangkan bayi dengan induk yang disuntikkan DES sama sekali tidak mengalami lonjakan leptin.

    Kedua bayi tikus tersebut kemudian diberi hormon leptin selama dua hari, lalu dibandingkan dengan bayi-bayi tikus dengan induk tanpa paparan BPA atau DES. Hasilnya, berat badan bayi tikus dari induk yang tidak terpapar BPA bisa turun lebih cepat daripada bayi tidur yang induknya terpapar BPA atau DES.

    BPA merupakan zat yang ditemukan di dalam ribuan produk sehari-hari. Menurut penelitian lainnya, zat BPA sudah umum ditemukan di tubuh manusia akibat maraknya penggunaan zat tersebut di berbagai produk.

    BPA juga disebutkan menjadi penyebab kanker, diabestes, Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD), dan autisme. “Ini membuat kita sadar bahwa faktor lingkungan dapat meningkatkan resiko obesitas dan penyakit jantung,” ujar Dr. Abizaid.

    DAILYMAIL | ZARA AMELIA

    Berita lainnya:

    My Destiny, Parfum dengan Kandungan Batu Mineral
    Ladies, Segera Bersihkan Organ Intim Setelah Bersenggama
    Wajib Tahu, Maag Bukan Dipicu Telat Makan atau Masuk Angin


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aturan Makan di Warteg saat PPKM Level 4 dan 3 di Jawa - Bali

    Pemerintah membuat aturan yang terkesan lucu pada penerapan PPKM Level 4 dan 3 soal makan di warteg. Mendagri Tito Karnavian ikut memberikan pendapat.