Budaya Egaliter dalam Nagaya Donggala

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Desainer Nieta Hidayani menampilkan koleksi Nagaya Donggala, kreasi kain tenun donggala yang berasal dari Sulawesi Tengah di IFW 2017. TEMPO/Nia Pratiwi

    Desainer Nieta Hidayani menampilkan koleksi Nagaya Donggala, kreasi kain tenun donggala yang berasal dari Sulawesi Tengah di IFW 2017. TEMPO/Nia Pratiwi

    TEMPO.CO, Jakarta - Kain tenun yang berasal dari seluruh daerah Indonesia menjadi inspirasi utama dalam gelaran Indonesia Fashion Week (IFW) 2017. Salah satunya kain tenun khas Sulawesi Tengah, Donggala yang dikreasikan oleh desainer Nieta Hidayani dalam fashion show bertema Tenoen Etnik.

    Nieta Hidayani menampilkan 16 koleksi pakaian muslim yang diberi nama Nagaya Donggala. Nagaya dalam bahasa Donggala mempunyai arti “cantik”. “Kain tenun donggala dari Sulawesi Tengah ini daerah yang egaliter, tidak mendiskriminasi siapa pun yang memakainya,” ujar Nieta.

    Ini berarti siapa saja, dari golongan manapun, pria dan wanita, tua dan muda, bahkan anak-anak dapat memakainya. Kain tenun donggala memiliki keragaman motif, seperti motif bunga mawar, bunga anyelir, buya bomba subi kumbaja, bunga subi, dan perpaduan bunga subi dan bomba.


    Desainer Nieta Hidayani menampilkan koleksi Nagaya Donggala, kreasi kain tenun donggala yang berasal dari Sulawesi Tengah di IFW 2017. TEMPO/Nia Pratiwi

    ADVERTISEMENT

    Warna-warna kain tenun yang sudah ada sejak 200 tahun lalu ini sangat lembut, seperti pink muda, ungu muda serta abu-abu muda. Warna-warna pastel itu kemudian dipadukan dengan kain organdy sutra dan Mikado sehingga terlihat elegan, anggun, dan feminin. Selain itu, kain tenun Donggala ini tidak mudah luntur.

    Sesuai ciri khasnya, koleksi Nagaya Donggala milik Nieta Hidayani juga menonjolkan desain yang sederhana, namun tetap elegan dan unik. Proses pembuatan koleksinya ini membutuhkan waktu 3 bulan sejak proses penenunan.

    Nieta mengungkapkan kesulitannya adalah penenun kain ini masih sedikit. “Tidak mudah juga memesan warna kain yang sebelumnya dipakai, sehingga setiap kain selalu beda hasilnya. Penenun juga membutuhkan waktu yang banyak” ujarnya.

    NIA PRATIWI

    Berita lainnya:

    Raffi Ahmad Bikin `Panas` Panggung IFW 2017
    Lady Gaga Duta Merek Koleksi Terbaru Tiffany & Co
    Tata Krama yang Wajib Diketahui Mulai Buka Mata sampai Tidur


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Klaim Landai Angka Kasus Harian Covid-19, Angka itu Mengelabui Kita

    Pemerintah klaim kasus harian Covid-19 mulai melandai. Lalu mengapa pendiri LaporCovid-19 mengatakan bahwa angka itu tak ada artinya?