Tangan Terampil Martha Puri Natasande di Ideku Handmade

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Martha Puri Natasande. instagram.com

    Martha Puri Natasande. instagram.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Martha Puri Natasande, 31 tahun, masih ingat pengalamannya di sekolah dasar. Sekali waktu, ia melihat teman sekolahnya memamerkan pensil lucu dan cantik yang dibeli saat berkunjung ke Disneyland.

    Bukannya merajuk meminta dibelikan barang yang sama kepada orang tuanya, Martha kecil justru terpancing untuk mencipta. Ia lalu membuat hiasan pensil dari buah pinus kering. Saat pensil berhiaskan pinus itu dibawa ke sekolah, teman-temannya tertarik dan bersedia membeli mahal.

    “Sampai ditawar Rp 1.000 satu. Uang jajanku saja waktu itu enggak sampai segitu,” ucap pemilik akun Instagram @idekuhandmade ini ketika ditemui di bengkel kerjanya di Bumi Serpong Damai, Tangerang Selatan, 11 Januari 2017. Padahal niat awal Martha membuat hiasan pensil adalah ingin mempunyai pensil yang berbeda.

    Keasyikan Martha dengan dunia pernak-pernik terus berlanjut. Memasuki bangku sekolah menengah atas, dia kemudian menjual kalung dari manik-manik buatannya sendiri. Awalnya, Martha berniat membeli kalung dari manik-manik yang sedang tren saat itu. Tapi kawannya, yang tahu tentang keahlian Martha membuat kerajinan tangan, mengusulkan untuk membuat sendiri kalung serupa.

    Harga satu kalung yang dijual di pasar saat itu setara dengan harga bahan-bahan kalung yang dapat digunakan Martha untuk membuat 10 kalung serupa. Selain memiliki kalung baru untuk dikenakan sendiri, Marta menitipkan sisa kalung buatannya ke beberapa butik di kawasan Kemang, Jakarta Selatan. “Untung-untungan aja. Ada yang beli, syukur. Enggak juga enggak apa-apa,” ujar dia.

    Kebiasaan membuat kerajinan tangan berlanjut hingga ia dewasa. Martha pun selalu membuat sendiri kado yang ingin ia berikan kepada para sahabatnya. Terlihat lebih merepotkan, tapi menurut sarjana bidang desain komunikasi visual ini, sesuatu yang dibuat sendiri memberi nilai lebih. “Soalnya, kalau kasih kado barang jadi (yang dibeli di toko), kesannya jadi biasa saja,” Martha menuturkan.

    Pada akhir 2008, seorang sepupu menyuruh Martha menjual hasil karyanya melalui situs belanja online, Multiply. Produk awal Martha adalah beberapa barang kreatif, seperti bingkai kayu yang ditambahi pernak-pernik dari kain. Ia ingat, begitu lini produknya tayang di Multiply, keesokan paginya datang SMS dari luar kota yang menyatakan ingin membeli produk tersebut. “Aku ingat banget jam 06.00 pagi ada yang kirim SMS mau beli barangku. Aku pikir, barang aneh gini ada yang suka juga, ya,” ujarnya terkekeh.

    Martha memulai bisnisnya dengan modal perdana Rp 500 ribu. Setelah sukses dengan produk pertama, ia menambah modal menjadi Rp 1,5 juta. Uang dari ayahnya tersebut ia jadikan modal untuk membeli segala bahan dan perlengkapan menggambar. Sebagai pengelola hasil penjualan, Martha meminta ibunya menjadi manajer keuangan. Sejak saat itu, Martha tak pernah lagi mencari modal dari pinjaman.

    Bisnis pernak-pernik buatan tangan Martha terus berkembang sembari ia menjalani karier sebagai desainer grafis di sebuah stasiun televisi. Merasa tak bisa lagi memperlakukan bisnisnya sebagai pekerjaan sampingan, pada 2010 Martha memutuskan berhenti dari pekerjaannya. “Waktu saya minta restu ayah untuk berhenti bekerja, saya malah ditanya, kenapa baru sekarang,” dia mengungkapkan.

    Sejak saat itu, penjualan Ideku Handmade yang bertumpu pada media sosial terus membesar. Kini, ia telah mempekerjakan tujuh orang karyawan. Selain mengandalkan karyawan, Martha sering melibatkan tetangga-tetangganya untuk membantu menjahit, membuat pola, atau mewarnai kain.

    Saat ini Martha lebih berfokus memproduksi benda-benda buatan tangan dalam jumlah besar, seperti suvenir pernikahan. Dan ia tetap membuat semua benda itu dengan tangannya sendiri.
    Untuk menunjang bisnisnya, Martha mengembangkan kanal YouTube bernama Ideku Handmade. Ia pun rutin mengisi acara kreatif di sebuah televisi swasta dan kelas pembuatan kerajinan tangan serta melukis di atas kain dan kertas.

    MARTHA PURI NATASANDE
    Lahir: Jakarta, 19 Mei 1985
    Perusahaan: Ideku Handmade
    Status: Menikah
    Pendidikan:
    -SD Strada Wiyatasana
    -SMP Strada Marga Mulia
    -SMU St. Fr. Asisi
    -S-1 Interstudi Komunikasi Visual (2003-2007)

    AISHA SHAIDRA

    Berita lainnya:

    Salma Hayek Bilang Anaknya Dua, Salah Satunya Suaminya

    Tanpa Sadar Kamu Jadi Penganut `Latte Style`, Kenali Cirinya
    Publik Sorot Melania dan Ivanka, Jangan Lupa Tiffany Trump


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Demo Revisi UU KPK Berujung Rusuh, Ada 1.365 Orang Ditangkap

    Demonstrasi di DPR soal Revisi UU KPK pada September 2019 dilakukan mahasiswa, buruh, dan pelajar. Dari 1.365 orang yang ditangkapi, 179 ditahan.