Bila Karier Mandek

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi karyawan marah/jengkel. Shutterstock

    Ilustrasi karyawan marah/jengkel. Shutterstock

    TEMPO.CO, Jakarta - Setiap perusahaan memiliki aturan soal jenjang karier karyawan. Hal ini bisa menjadi kompetisi yang sehat di antara mereka. Karyawan akan berlomba memberikan yang terbaik untuk perusahaan. Namun, bagaimana jika aturan tersebut hanya berlaku di atas kertas?

    Kusuma mengetahui kariernya mentok di kantornya. Padahal jabatan tertinggi, yaitu wakil pimpinan, tinggal satu tingkat lagi. Aturan perusahaan pun tak menghambat kariernya. "Budaya di perusahaanlah yang menghambat karier saya," ujar perempuan asal Bekasi ini kepada Tempo. Posisi sebagai wakil pimpinan perusahaan seolah hanya bisa diisi oleh laki-laki. Padahal, menurut dia, posisi itu juga bisa diisi oleh perempuan.

    Namun, Kusuma tak pernah memprotes atau mempertanyakannya. "Itu kan hak prerogatif pimpinan umum," katanya. Meski merasa diperlakukan kurang adil, Kusuma memilih bertahan. Namun, ia tak menampik kesempatan untuk "cabut" dari perusahaan jika ada tawaran pekerjaan lain yang lebih menarik.

    Menurut konsultan dari lembaga psikologi PSYCHOdiarra, Diding Supendi Saputra, kasus seperti ini sering terjadi karena komunikasi yang buruk antara bos dan anak buah. Diding menceritakan tentang seorang manajer keuangan yang pernah berkonsultasi di lembaganya karena kariernya terhambat. Sebut saja namanya Lucky. Kebetulan direktur keuangan tempat perusahaan Lucky bekerja mengundurkan diri.

    ADVERTISEMENT

    Anehnya, direktur utama bukannya mengangkat karyawan bagian keuangan, melainkan malah membuka lowongan untuk posisi itu. Tak ayal Lucky, yang mampu menduduki jabatan itu, merasa kariernya dihambat. Maka Lucky pun merencanakan kerja yang kelak bisa menunjukkan kemampuannya. Dia lalu mengusulkan rencana itu kepada direktur utama dengan tembusan komisaris perusahaan. Akhirnya, kedua atasannya tahu bahwa si manajer keuangan layak diangkat sebagai direktur keuangan.

    Awalnya Lucky menganggap kariernya dihambat oleh direktur utama. Lalu ia curhat kepada Diding. Dari konsultasi itu, Diding berkesimpulan bahwa Lucky kurang berkomunikasi dengan direktur utama. "Yang muncul selalu persepsi negatif," kata Diding kepada Tempo. Persepsi inilah yang belakangan diubah sehingga memotivasi Lucky untuk melakukan sesuatu yang positif. Hasilnya, Lucky membuat agenda kerja yang bisa membuktikan kemampuannya.

    Menurut Diding, otak manusia memuat alam sadar, area kritis, serta ambang bawah sadar dan tidak sadar. Ambang bawah sadar dan tidak sadar 80 persen mendominasi perilaku manusia. Namun, manusia cenderung mengisi ambang bawah sadar itu dengan persepsi negatif, seperti berkecil hati, takut, merasa dihalangi, dan tidak percaya diri. "Maka persepsi itulah yang kami ubah," katanya.

    Sebenarnya mengubah ambang bawah sadar bisa dilakukan sendiri, dengan berprasangka baik kepada orang lain atau selalu mengambil hikmah dari setiap kejadian yang melahirkan persepsi positif. Jika persepsi lahir, ia akan menghasilkan energi, dan melahirkan kepercayaan diri.

    Dengan rasa percaya diri yang kuat, orang mampu mensugesti diri bahwa ia bisa melakukan sesuatu yang selama ini ia yakini tak bisa dilakukan. Sugesti ini akan membimbing tindakan dan menentukan strategi. Seperti yang dilakukan Lucky dengan membuat usulan kerja yang membuatnya sering berkomunikasi dengan direktur utama dan komisaris. Padahal awalnya ia tak berani melakukannya.

    Menurut Diding, seseorang sering salah persepsi. Ia merasa kariernya terhambat, padahal faktanya tidak. "Padahal hambatan itu ia ciptakan sendiri," kata Diding. Menurut dia, dalam dunia karier saat ini hampir tidak ada pimpinan yang menghambat karier anak buahnya.

    Bahkan jenjang karier telah disampaikan secara terbuka kepada karyawan dengan segala hak dan kewajibannya. Karyawan bisa menanyakan saat hak dan kewajiban telah tertunaikan, namun jabatan tidak naik. Proses bertanya inilah, menurut Diding, salah satu bentuk komunikasi yang perlu dilakukan karyawan dengan atasan.

    Namun, Diding tak menampik adanya perusahaan yang pimpinannya menghambat karier anak buah tanpa penjelasan. "Kalau yang seperti ini, ini namanya bos menzalimi anak buah," katanya. Karena itu, karyawan harus berusaha "melawan", namun dengan cara yang halus.

    "Jangan melawan perbuatan buruk dengan perbuatan buruk. Sebab, perlakuan buruk hanya menambah karier seseorang semakin tak berkembang," katanya. Lebih baik karyawan berupaya mengenali sifat dan keinginan pimpinan. Jika kita yakin telah mengenal dengan baik, langkah selanjutnya ialah menjalin komunikasi dan bertanya secara baik-baik mengapa kariernya mandek.

    KORAN TEMPO

    Berita lainnya:
    Waspadai Panggilan Kerja Abal-abal
    Benarkah Generasi Sekarang Tak Peduli Masa Depan?
    5 Cara Jadikan Senin Hari yang Favorit


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Warga Tak Punya NIK Bisa Divaksinasi, Simak Caranya

    Demi mencapai target tinggi untuk vaksinasi Covid-19, Kementerian Kesehatan memutuskan warga yang tak punya NIK tetap dapat divaksin. Ini caranya...