Saran Psikolog agar Anak Tidak Kecanduan Gadget

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi anak dan gadget/gawai. Shutterstock.com

    Ilustrasi anak dan gadget/gawai. Shutterstock.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Meski tahu bahaya gadget pada anak, cukup banyak orang tua yang memutuskan memberikan perangkat elektronik itu kepada anak mereka. Alasannya, mempermudah komunikasi dan supaya anak tidak gagap teknologi.

    Dengan keputusan itu, orang tua harus siap dengan segala konsekuensinya, yaitu anak menjadi ketergantungan pada gadget. Boleh-boleh saja orang tua memberikan fasilitas gawai kepada anak, tapi dengan aturan main tertentu, seperti yang disarankan oleh psikolog anak dari Tiga Generasi, Annelia Sari Sani:

    1. Maksimal dua jam
    Annelia menyarankan anak di atas dua tahun paling banyak menghabiskan waktu di depan gadget (termasuk televisi dan komputer) selama dua jam. Selebihnya, anak harus tetap merasakan bermain di luar rumah untuk belajar berinteraksi, berkomunikasi, dan juga mengenali emosi.

    “Anak belajar dari pengalaman, terutama yang bersentuhan langsung dengan dirinya,” kata Annelia. Misalnya, anak dapat mengenali tekstur rumput dan pasir, yang selama ini ia lihat melalui permainan di gawainya. Anak di bawah dua tahun sebaiknya tidak diperkenalkan pada gadget sama sekali.

    2. Orang tua tak gaptek
    Orang tua sebaiknya menguasai cara mengoperasikan alat elektronik yang akan dipakai anak. Coba semua aplikasi dan permainan yang akan diberi ke anak, untuk melihat bahwa semua sesuai dengan usia anak.

    3. Dampingi anak
    Selalu dampingi anak ketika sedang bermain gadget. Sesekali diskusikan apa yang ia lakukan di dunia maya, untuk menjalin komunikasi. Mendampingi anak bermain gadget berarti mengawasi apa yang ia kerjakan dengan gadget tersebut, bukan hanya duduk di samping anak lalu sibuk dengan perangkat milik sendiri.

    4. Ajari etika dunia maya
    Anak-anak yang memiliki gadget akan berinteraksi dengan orang lain baik melalui pesan singkat atau media sosial. Sebaiknya ajari cara berinteraksi dengan orang-orang yang ada di daftar pertemanannya.

    Beri pemahaman pada anak bahwa tidak semua teman di media sosial berusia sama dengannya. Misalnya, ketika membalas komentar dari paman, gunakan bahasa yang semestinya walaupun tidak bertemu langsung.

    5. Diskusi
    Ketika mendapati konten yang tidak sesuai dengan usia anak, beri ia pemahaman bahwa ia tidak boleh melihat yang seperti itu. Begitu juga ketika melihat informasi yang tidak baik, tanya pendapat anak tentang informasi tersebut dan ajak ia berdiskusi.

    Beri juga pemahaman pada anak untuk tidak sembarangan memberikan identitas seperti nama lengkap, alamat sekolah, alamat rumah dan nama orang tua kepada orang yang tidak dikenal.

    Orang tua pun demikian, hindari mengumbar identitas anak secara berlebihan di dunia maya. Misalnya, berfoto di depan sekolah anak sambil memberi alamat lengkap (baik berupa penjelasan atau memakai fitur lokasi), untuk mencegah kejahatan pada anak.

    6. Tidak bawa gadget saat main
    Biasakan anak main di luar tanpa membawa gadget agar ia menikmati kualitas bermain di luar rumah, begitu juga ketika ia bermain ke rumah teman. Beri pemahaman, misalnya khawatir gadget jatuh saat bermain sepeda, tertinggal, atau bisa terjatuh bila bermain sepeda sambil mengangkat telepon.

    7. Zona tanpa gadget
    Terapkan juga aturan zona tanpa gadget di rumah, misalnya di meja makan. Orang tua harus konsisten memberi contoh kepada anak bahwa tidak boleh bermain gadget saat sedang makan.

    Biasakan tidak membawa gadget ke kamar dan anak tidak boleh bermain gadget di kamar sebelum tidur. Caranya, siapkan satu tempat di luar kamar sebagai “gadget station”. Ajari anak untuk menaruh gadgetnya di tempat itu dalam keadaan mati sebelum pergi tidur. Orang tua pun demikian, menaruh gadgetnya di tempat itu.

    ANTARA

    Berita lainnya:
    Kiat Memilih Minyak Goreng yang Berkualitas
    Mengembalikan Cheongsam ke Bentuk Asalnya 
    Anak Rewel di Depan Umum, Orang Tua Harus Bagaimana


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Rincian Pasal-Pasal yang Diduga Bermasalah di Revisi UU KPK

    Banyak pasal dalam perubahan kedua Undang-Undang Komisi Pemberantasan Korupsi, atau Revisi UU KPK, yang disahkan DPR, berpotensi melemahkan KPK.