Ngobrol Cantik Bareng Tina Talisa

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Tina Talisa. TEMPO/M Iqbal Ichsan

    Tina Talisa. TEMPO/M Iqbal Ichsan

    TEMPO.CO, Jakarta - Lama tak muncul di layar televisi, nama Tina Talisa kembali mencuat. Sosoknya yang penuh senyum ini, didapuk menjadi moderator acara Debat Publik Pilkada II DKI Jakarta pada 27 Januari 2017 lalu. Bersama

    Prof. Dr. Eko Prasojo, mantan Wakil Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi periode 2011-2014, mereka berdua tampil harmonis memandu acara Debat Pilkada DKI Jakarta, yang melibatkan tiga pasang calon gubernur dan calon wakil gubernur.

    Kegiatan menjadi moderator bukanlah hal baru bagi istri Amrinur Okta Jaya ini. Selepas undur diri dari dunia jurnalistik pada 2014 karena anaknya sakit, mantan Puteri Indonesia 2003 ini menjadi pekerja lepas untuk kegiatan moderator dan Master of Ceremony di berbagai acara, baik komersil maupun politik dan kepartaian.

    Selain itu, lulusan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjajaran ini juga mendirikan klinik gigi bersama rekan-rekan seangkatannya. Perempuan kelahiran 37 tahun lalu ini juga mendirikan perusahaan konsultan komunikasi yang lokasi kantornya hanya 7 menit dari rumahnya di kawasan Bintaro, Tangerang Selatan. “Saya hanya ingin punya waktu yang lebih bisa diatur bersama keluarga,” kata perempuan yang tengah hamil 7 minggu ini.

    Berikut hasil wawancara dengan Tina Talisa, sesaat setelah mantan Mojang Jawa Barat 2003 ini menjadi moderator di acara Rapat Pimpinan Polri di Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK), Jakarta Selatan, pada Rabu 25 Januari 2017 lalu :

    Apa saja persiapan Anda menjelang Debat Publik Pilkada II ini? Apalagi kali ini Anda didampingi oleh seorang akademisi. 
    Ada 3 persiapan saya menjelang Debat Pilkada II ini. Pertama, persiapan content, yakni mengajak masyarakat mengenal program-program dari masing-masing pasangan calon sehingga mereka yakin untuk  memberikan suaranya pada tanggal 15 Februari mendatang di Tempat Pemungutan Suara.

    Kedua, persiapan fisik. Dari segi fisik harus ada persiapan yang prima untuk saya, karena durasi debat yang lebih panjang dibanding debat perdana. Bagi saya pribadi, kondisi saya saat ini sedang hamil muda sehingga saya harus memastikan bahwa kondisi saya betul-betul prima.

    Ketiga, persiapan mental karena saya dan Prof Eko harus menjadi pasangan moderator sehingga ini bukan Prof Eko sendiri atau Tina Talisa sendiri. Tetapi bagaimana Prof Eko dan saya memadukan peran masing-masing sebagai moderator dalam debat yang kedua ini.

    Keempat, mengantisipasi semangat publik yang hadir. Sekarang jumlah yang hadir dari pendukung pasangan calon juga bertambah menjadi masing-masing 120 orang. Di debat pertama, kami melihat antusiasme sangat besar sehingga kami meyakini di debat selanjutnya, antusiasmenya minimal sama atau meningkat. Apalagi hari pemungutan suara semakin dekat.

    Saya mohon doa kepada seluruh masyarakt DKI, supaya acara ini bisa berjalan dengan baik dan memberi kesempatan kepada masing-masing pasangan calon secara adil dan berimbang. 

    Siapa calon favorit Anda di Pilkada DKI Jakarta besok? 
    Saya tidak punya hak pilih di DKI. Jadi saya moderator Debat Pilkada DKI yang akan memilih di Banten karena KTP saya di Tangerang Selatan, Banten.

    Anda sudah sering menjadi moderator di berbagai acara. Apa tugas terberat menjadi moderator kali ini?
    Saya dikontak beberapa hari sebelum keputusan akhir dari KPUD DKI. Keputusannya sendiri diambil pada Hari Senin. Saya ditanya kesediaan saya sebagai salah satu calon nama yang diusulkan sebagai moderator. Saya tanya, seperti apa mekanismenya? Ternyata nggak beda jauh dengan Debat Pilpres.

    Waktu Debat Pilpres 2013, saya masih di redaksi tv. Saya tahu bagaimana proses di KPU, karena stasiun tv Indosiar-SCTV tempat saya bekerja, adalah stasiun tv pertama yang menyiarkan Debat Pilpres saat itu. Jadi kami tahu bahwa moderator itu harus disepakati oleh seluruh pasangan calon dan juga lembaga penyiaran yang menyiarkannya. Ternyata sama prosesnya. Jadi saya bilang, kalo semua pengambil keputusan ok, saya siap. Saya dikabari berselang hari kemudian, bahwa moderatornya adalah saya dan Prof Eko. Ini adalah bentuk penyegaran dari KPUD DKI bahwa moderator debatnya 2 orang.

    Bagaimana pembagian porsi kerja dengan Prof. Eko Prasojo?
    Iya ada pembagian peran. Ini prinsipnya seperti waktu saya masih jadi penyiar radio. Kalau kita siaran berpasangan, itu artinya 2 orang masing-masing. Meski kita berdua belum pernah bersiaran, tetapi kami mengupayaka semaksimal mungkin bisa saling mengisi seperti dua orang yang saling bersahabat.

    Titik berikutnya adalah soal content. Kami mempelajari lebih dalam soal visi misi, terutama berkaitan dengan tema kita soal reformasi birokrasi, penataan fasilitas public dan kawasan perkotaan. Perumusan pertanyaannya dilakukan oleh panelis. Sebagai tim perumus, mereka punya keahlian di bidang yang berkaitan dengan tema. Tugas moderator sebenarnya adalah menyampaikan pertanyaan yang akan ditanyakan.

    Ada diskusi khusus mengingat Prof Eko bukan orang yang akrab dengan kamera?
    Prof Eko itu punya kemampuan public speaking yang baik karena beliau dosen sekaligus mantan wakil menteri. Jadi sebetulnya, public speaking dalam bidang yang beda. Kalau saya, mungkin penampil di depan publik. Sedangakan beliau di komunitasnya. Tinggal bagaimana memindahkan gaya itu ke depan kamera dan dibatasi durasi.

    Perlu ada latihan khusus?
    Kami intensif bertemu sampai hari H. Karena apa yang kami komunikasikan itu amanahnya besar. Warga DKI harus punya kesempatan lewat debat ini, sehingga mereka punya pilihan dan menggunakan suaranya utuk mencoblos pemimpin.

    Ira Koesno, sang moderator Debat Pilkada I dinilai sukses menghidupkan suasana debat. Anda tidak khawatir akan dibanding-bandingkan dengannya?
    Saya kagum dengan Ira Koesno sejak saya masih kuliah. Saat dia kemarin tampil prima, memukau, sudah seusai dengan prediksi banyak orang. Mbak Ira sudah menetapkan standar yang amat tinggi dalam melakukan peran sebagai moderator debat.

    Yang saya yakini, Tina dan Ira orangnya beda. Saya akan berusaha yang terbaik untuk jadi moderator. Saya tidak akan pilih menjadi Ira Koesno. Kalau kita tampil mengikuti gaya orang, capek. 2 tahun saya nggak aktif siaran. Saya sudah sampaikan ke KPUD bahwa saya akan tetap menjadi saya seperti yang ibu bapak kenal.

    Perasaan deg-deg an sudah pasti ada. Itu artinya saya harus mempersiapkan diri lebih baik lagi. Justru kalo saya santai, berarti ada yang salah dengan diri saya.

    Resiko dan konsekuensi apapun harus saya terima. Setelah penampil pertama dalam kondisi yang baik dan dikagumi, pasti ada perbandingan dengan penerusnya. Menurut saya itu hal yang wajar. Kita harus siap untuk dinilai oleh audience-nya.

    Ada konsultasi khusus dengan Ira Koesno mengingat dia tergolong sukses sebagai moderator di acara Debat Pilkada I?
    Saya mau konsultasi terutama bagian kondisi audience-nya. Antusiasme dari pendukung. Bagaimana mbak Ira melihat langsug dari semangat itu dari masing-masing pasangan calon. Itu jadi titik utama bagaimana kita mengendalikan suasana

    Anda dikenal murah senyum. Padahal dalam memandu debat, Anda diharuskan serius. Ada tip khusus?
    Ada pengalaman nggak enak misalnya saya biasa senyum, tetapi kalau saya paksakan nggak senyum, saya khawatirr itu bukan saya. Jadi kelihatan galak banget. Setiap orang punya gaya yang berbeda. Itu nggak bisa disamaratakan. Seperti gaya senyum, pengelolaan komunikasi nonverbal, juga pengelolaan emosi.

    Senyum harus seimbang. Saya harus memastikan ujung suara saya sama utk semua pasangan calon. Misal yang 1 merendah, yang lain juga harus merendah. Pengalaman saya menjadi moderator untuk banyak daerah, pesan bisa dimultitafsirkan. Sebetulnya debat itu urusan obyektif, namun urusan subyektifitasnya tinggi banget.

    Sekarang kegiatan sehari-hari apa saja?
    Saya masih menjadi brand ambassador Tolak Angin, juga menjadi tim pemasaran di arah.com. Keputusan berhenti jadi jurnalis itu 2014. Liputan terakhir saya tentang pelantikan Presiden Joko Widodo di indosiar. Alasan berhenti, karena alasan domestik, anak saya sakit. Jadi saya memilih tidak pakai mikir, saya langsung bilang suami saya kalau saya mau berhenti kerja. Selain itu, saya memang punya niat memiliki usaha.

    Tahun 2012 saya membangun klinik gigi Senyum Ceria. Sekarang cabangnya ada 4. Saya juga membangun kantor konsultan komunikasi di bidang Public Relations dan Production House, yang jaraknya cuma 7 menit dari rumah di Bintaro. Saya pengen punya waktu yang lebih bisa diatur sama keluarga. Lebih aturable.

    Di arah.com saya menjadi marketing yang lebih banyak ketemu orang di luar. Senin - Jumat, saya baru berangkat siang setelah mengantar dan menjemput anak sekolah, baru beraktifitas. Saya juga baru pulang dari Korea untuk urusan klinik, karena ada produk implant gigi. Latar belakang pendidikan S1 saya memang Sarjana Kedokteran Gigi, sedangkan S2 saya Magister Komunikasi Politik.

    Anda sedang hamil kedua tapi tidak terlihat. Bagaimana cara menjaga berat bada supaya tetap stabil?
    Saya justru hamil yang sekarang memang lebih rileks. Saya pemakan segala. Lagi hamil saya makan yang pedes dan asam. Saya juga makan lebih dari 3x sehari. Bahkan kalau perlu, 1 jam sekali harus makan.

    Selama hamil, saya tetap makan karbohidrat meski nggak takut bobotnya naik 18 kg seperti saat hamil yang pertama. Siang hari, saya makan nasi tetap porsinya sedikit, cuma lebih sering. Sejam kemudian, saya sudah lapar lagi dan makan lagi.

    Seperti wanita hamil umumnya, di trimester pertama dan kedua ini saya juga muntah-muntah. Makan lalu muntah. Capek sebentar lalu makan lagi. Tapi syukur, saya kayaknya ‘hamil kerbau’, karena bisa makan apa aja. Air putih suka banget tapi pas hamil, pengen minum yang ada rasanya. Maka saya memberi lemon pada air putih yang saya minum. 

    Ada perbedaan khusus dalam kehamilan kali ini?
    Perubahan lain, saya di minggu awal kurang suka daging, buah, dan ikan. Daging kok sepertinya kurang pas di lidah. Biasanya saya makan semua. Setelah 4 bulan baru keliatan membengkaknya. Saya nggak ngidam. Saya beberapa hari lalu pengen makan rujak atau asinan pedas jam 12 malam. Saya bikin saja sendiri, ditemani suami saya.

    Sehari kira-kira makan berat 2x hanya siang dan malam. Tp hamil ini jadi 3x makannya. Pagi cuma buah selama lagi nggak hamil. Pas hamil, pagi saya makan buah, kurang nendang. Lanjuts makan crackers, masih belum kenyang juga. Saya minta dibuatikan mie goreng rumahan, dibawa makan di jalan habis, kok belum kenyang jg. Akhinya saya ngemil cemilan. Jadi di mobil siaga terus makanan.

    Acara debat makan waktu 2 jam. Anda bilang suka lapar. Lalu apa yang akan Anda lakukan?
    Menjadi moderator 2 jam harus siap-siap coklat di dekat saya. Setiap waktu rehat, saya harus makan coklat. Selain enak rasanya, bikin kenyang, juga ada hormon endorphin yang bikin bahagia. Jadi acara debat terdiri atas 6 segmen, waktu rehat di antaranya masing-masing 5 menit. Lumayan itu, ada waktu 30 menit buat saya untuk makan.

    Ada pilihan busana untuk tampil di acara debat?
    Untuk busana, catatan saya dan Prof Eko adalah, bahwa kami berdua akan memilih warna yang tidak mengindikasikan ke nuansa politik seperti hitam, krem, atau abu-abu. Soal makeup, saya serahkan saja ke makeup artist. Karena style mbak Ira dari dulu seperti itu. Awet cantiknya. Saya mah nggak rajin ke dokter kulit.

    Kabarnya honor moderator Debat Pilkada II ini besar sekali. Anda mencari tahu soal honor nggak?
    Soal honor, saya sampai sekarang nggak tahu. Beda dengan kegiatan yang komersil, saya perlu tahu besaran honornya di depan. Tetapi untuk debat ini, buat saya ini amanah. Bagaimana kita berusaha membantu masyarakat untuk lebih mengenal calon pemimpinnya.

    DA CANDRANINGRUM

    Baca juga:
    Begini Cara Tina Talisa Menikmati 'Hamil Kerbau' nya
    Anak Bisa Belajar dari Gadget, Dokter: Itu Ngaco
    Kiat Memilih Minyak Goreng yang Berkualitas


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    6 Rumor yang Jadi Nyata pada Kelahiran GoTo, Hasil Merger Gojek dan Tokopedia

    Dua tahun setelah kabar angin soal merger Gojek dengan Tokopedia berhembus, akhirnya penggabungan dua perusahaan itu resmi dan lantas melahirkan GoTo.