Waspadalah, Wanita Lebih Rentan Menderita Batu Empedu

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi sakit perut. Shutterstock

    Ilustrasi sakit perut. Shutterstock

    TEMPO.CO, Jakarta - Stroke, serangan jantung, dan sirosis hati (liver) paling sering dianggap sebagai jenis-jenis penyakit yang sangat menakutkan. Kita kerap melupakan fungsi penting cairan empedu dalam kantung empedu.

    Bila lalai dan empedu terganggu, atau mengalami peradangan, nyawa bisa jadi taruhan. Cairan empedu berasal dari pemecahan sel darah merah dan lipid atau lemak lalu dimasukkan ke dalam organ hati (liver) melalui saluran empedu.

    Cairan empedu itu tersimpan dalam kandung empedu. Jika tidak ada makanan yang masuk ke tubuh, cairan empedu disimpan di kandung empedu. Fungsinya, membantu penyerapan lemak makanan.

    Fungsi lain yang tidak kalah penting adalah menyerap vitamin yang larut ke dalam lemak, yakni vitamin A, D, E, dan K. Penjelasan sederhananya adalah empedu diproduksi tiap hari oleh tubuh dan harus dikeluarkan setiap hari pula. Ketika kita makan, empedu dikeluarkan untuk membantu mencerna makanan.

    Ketika kita berpuasa, selama berjam-jam tidak ada makanan yang masuk ke tubuh. Maka, empedu tidak akan keluar dan cairan itu mengendap di dalam kandung empedu, lama-lama, makin pekat dan mengkristal (supersaturasi).

    Kristal itu kemudian mengendap menjadi bongkahan yang disebut batu empedu. Gangguan yang kerap dialami adalah peradangan dan batu yang memicu infeksi.

    “Kalau batunya besar, maka akan mengganggu sistem pencernaan tubuh. Fungsinya pun juga terganggu. Untuk cairan empedu nyaris tidak ada gangguan kecuali jika ada gangguan liver akut yang menyebabkan sumbatan. Penyebab lain, adanya batu di dalam hati yang disebut kolestasis intrahepati,” urai dr. Erik Rohmando Purba, Sp.PD dari RSU Bunda.

    Pertanyaan awam yang kemudian muncul, apakah gangguan empedu punya gejala kasat mata? Jawabannya tergantung apakah gangguan itu disertai peradangan atau tidak. Kalau hanya ada batu, gejala yang muncul berupa rasa nyeri di kuadran kanan bawah tubuh dan mual.

    Kalau batunya menyumbat saluran empedu dan menyebabkan infeksi, gejala yang muncul berupa kulit menguning disertai mual dan muntah hebat, dan demam, sementara nyeri semakin menjadi. Kalau sudah begini, Erik menyarankan pasien segera dilarikan ke rumah sakit.

    Kemungkinan besar, batunya telah menyumbat saluran empedu dan penderita memasuki fase kronis. Jika tidak ditolong dengan cepat, ia akan mengalami fase sepsis bilier.

    “Sepsis artinya radang yang berat. Bilier artinya saluran empedu. Setiap infeksi membutuhkan cairan yang kuat. Maka pasien harus diinfus, diberi simptomatik (obat mual dan muntah). Kalau ia muntah hebat, biasanya pasien disarankan berpuasa seraya diberi makanan intravena, yakni, makanan dimasukan ke dalam tubuh melalui infus, dan antibiotik,” jelas Erik.

    “Perempuan lebih berisiko terkena batu empedu ketimbang laki-laki, dengan perbandingan 3:1 karena faktor estogren yang membuatnya lebih rentan terhadap batu empedu. Saya harap para perempuan lebih waspada," tuturnya.

    TABLOIDBINTANG

    Artikel lain:
    Para Ibu Lebih Rentan Sakit, tapi Juga Lebih Tangguh
    Alasan Kenapa Wanita Asia Merawat Kulit dengan Teh Hijau
    Perubahan Warna dan Nutrisi ASI dalam 1 Tahun


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aturan Skuter Listrik Pasca Insiden GrabWheels Belum Ada Rujukan

    Pemerintah Provinsi DKI berencana mengeluarkan aturan soal skuter listrik setelah insiden dua pengguna layanan GrabWheels tewas tertabrak.