Flip Burger, Burger Tanpa Sayur

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Flip Burger. TEMPO/Frannoto

    Flip Burger. TEMPO/Frannoto

    TEMPO.CO, Jakarta - Setangkup besar burger tanpa sayur ala restoran Flip Burger di Jalan Senopati, Jakarta Selatan. Cheese burger dengan daging yang lembut nikmat di lidah sekaligus mengenyangkan perut.

    Beroperasi pada 19 Agustus 2016, restoran ini menjual rata-rata 700 burger per hari. "Kami buka dari pukul 10 pagi hingga 10 malam. Kalau malam Minggu, antrean pengunjung panjang," kata Fitri Febriani, karyawan Flip Burger.

    Pembeli biasanya memesan burger smacker yang porsi daging sapinya dua kali lipat dibanding burger biasa. Tinggal pilih, mau varian double patty, double cheese, atau beef bacon. Semua burger smacker diberi saus barbeque.

    Ketebalan smacker kurang-lebih sama dengan burger waralaba asal Amerika Serikat yang populer di Indonesia. Bedanya, semua menu Flip Burger tidak berisi sayur. Jadi, jangan berharap akan menemukan selada, tomat, atau mentimun dalam burger yang Anda pesan. "Semua enggak ada sayuran," ujar Fitri.

    Tapi ia tidak tahu pasti alasan tidak adanya sayuran di setiap jenis burger Flip Burger. Bagi mereka yang perlu protein, Flip Burger menjadi sangat pas karena burgernya berisi keju, daging sapi, atau ikan.

    Burger di restoran ini dihargai dari Rp 30 ribu untuk beef burger hingga Rp 55 ribu untuk smacker burger. Sedangkan camilan dibanderol dari Rp 15 ribu untuk kentang goreng dan Rp 20 ribu untuk bacon cheese tots fries. "Camilan favorit kami adalah chicken skin atau kulit ayam yang digoreng kering," kata dia.

    Menurut Fitri, adanya kata "bacon" di beberapa menu kerap menjadi pertanyaan pengunjung. Banyak yang mengira menu tersebut tidak halal. "Tapi kami jelaskan bahwa bacon itu maksudnya daging sapi," ujar perempuan 19 tahun ini.

    Sedangkan untuk minuman, Flip Burger membebaskan pengunjung restoran menambah minuman ringan sepuasnya. Minuman ringan atau teh dihargai Rp 17 ribu. Sedangkan kopi, cappuccino, dan es krim dihargai Rp 25 ribu per porsi.

    Sayangnya, harga es krim yang relatif mahal tersebut tidak sebanding dengan kualitasnya. Esnya mudah mencair dan ukuran gelasnya terlalu kecil. Cita rasanya juga tidak lebih enak daripada es krim yang dijual di restoran cepat saji ternama yang hanya Rp 6.000. Kelebihannya hanya pada penambahan tiga potong kecil brownies di dalam es krim.

    Tempo mengamati sejumlah pengemudi ojek online turut meramaikan antrean di restoran berkapasitas 50 orang itu. Salah seorang pengemudi ojek bernama Neko, 33 tahun, mengatakan setiap hari mengantarkan pesanan Flip Burger ke pelanggannya. "Sehari bisa 2-3 kali mengantar ke kawasan Senopati. Bahkan pernah ke Kalimalang dan Bintaro," kata dia.

    Biasanya, menu yang dipesan adalah smacker, cheese burger, dan double cheese burger. Neko berujar, perlakuan yang sama antara pengemudi ojek dan pengunjung biasa menjadi alasan dia selalu bersedia membelikan pesanan pelanggan. "Pelayanan tidak dipisahkan antara pelanggan dengan Go-Jek. Jadi, tidak makan waktu," kata dia.

    Nilai minus restoran ini terletak pada sirkulasi udara yang kurang memadai. Akibatnya, asap dari dapur berkumpul di dalam restoran dan mengganggu pengunjung. Sekitar dua jam Tempo berada di lokasi, mata terasa perih. Dapur dengan konsep terbuka itu tidak didukung dengan peletakan pintu dan jendela yang baik.

    KORAN TEMPO

    Berita lainnya:
    Resep Chicken Kung Pao dan Naripan Steamboat
    Puding Alpukat Cokelat yang Manis di Lidah 
    Panggang Ikan Pari Pedas Manis


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Polemik Aturan Ketenagakerjaan Dalam RUU Cipta Kerja

    Perubahan aturan ketenagakerjaan menurut pemerintah harus dilakukan agar mengundang investasi.