Kapan Si Kecil Siap Memulai Toilet Training?

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi balita menggunakan toilet training. motherhow.com

    Ilustrasi balita menggunakan toilet training. motherhow.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketika anak sudah bisa melepas popok dan tidak mengompol sembarangan, kemungkinan mereka sudah bisa mulai toilet training. Proses toilet training atau melatih anak menggunakan toilet untuk buang air menjadi salah satu fase yang terbilang gampang-gampang susah.

    Ada anak yang mampu menguasai toilet training dalam beberapa hari, namun ada pula yang butuh waktu agak lama. Umumnya, semakin muda usia anak memulai toilet training, semakin lama waktu yang dibutuhkan untuk menguasainya. Logikanya, di usia yang masih muda, anak belum bisa memahami betul instruksi, insting, dan menahan keinginan buang air secara sadar.

    Agar Anda tak panik dan bingung menghadapi masa toilet training anak, pelajari langkah dasar yang harus Anda ketahui:

    A. Amati kesiapan anak
        
    Ketika anak memasuki usia setahun, mereka mulai bisa merasakan ketika kandung kemih atau rektumnya penuh. Namun, di usia ini umumnya mereka belum mampu berkomunikasi dan menyampaikan keinginannya secara baik. Umumnya anak mulai siap melakukan toilet training ketika berusia 18 bulan, tetapi ada pula anak yang tak juga tertarik dengan proses tersebut hingga usia 3 tahun.

    Kapan saat yang tepat memulai toilet training? Amatilah kesiapan anak, juga kesiapan Anda sendiri. Bagaimana mengetahui tanda-tanda bahwa anak sudah siap dilatih toilet training? Coba amati hal-hal berikut:

    - Bisakah mereka mengikuti instruksi sederhana?
    - Bisakah mereka berjalan dan duduk dengan tegak?
    - Bisakah mereka melepas celana sendiri?

    B. Belilah peralatan pendukung
        
    Selain kesiapan mental, Anda butuh perlengkapan untuk mendukung kesuksesan toilet training. Belilah dudukan toilet ukuran mini sehingga anak bisa duduk dengan nyaman ketika buang air. Dudukan toilet mini yang khusus disediakan untuknya membuat anak merasakan sensasi menjadi orang dewasa. Kalau perlu ajak mereka memilih dudukan toilet dengan gambar kesukaan. Dengan begitu mereka akan bersemangat menggunakan benda yang tentu masih asing itu.

    C. Ciptakan rutinitas
        
    Jadikan kegiatan buang air di toilet menjadi hal yang rutin, sehingga anak akan terbiasa dengan pola kegiatan itu. Di awal masa toilet training, cobalah melepas popok setiap pagi, sambil mengajak mereka buang air di toilet. Ulangi setiap hari. Ketika anak sudah terbiasa tidak mengompol di pagi hari, tingkatkan intensitasnya di siang, sore, dan malam hari. Buang air di malam hari biasanya paling sulit. Ajaklah anak buang air di toilet setiap sebelum tidur. Semakin sering melakukannya, anak akan semakin paham, sudah seharusnya buang air dilakukan di toilet.

    D. Demonstrasikan langkahnya
        
    Anak adalah peniru ulung. Mereka melakukan apa pun yang mereka lihat. Dalam hal ini, belajar menggunakan toilet akan lebih mudah dengan menirukan apa yang mereka lihat. Jika anak Anda laki-laki, biar sang ayah yang mendemonstrasikannya. Begitu pula bila anak Anda perempuan, tentu saja ibu yang mengajarinya. Tentu saja Anda tak harus benar-benar buang air, tetapi contohkan bagaimana cara duduk atau jongkok di toilet dan bagaimana membersihkannya.

    E. Jelaskan caranya
        
    Selain memberi contoh, memberi penjelasan tentang tata cara buang air di toilet juga penting. Ajari mengapa dan bagaimana harus duduk atau jongkok, mengapa harus segera dibersihkan dan bagaimana cara membersihkannya, dan apa akibatnya bila tidak tertib melakukannya.

    F. Foster the habit

        
    Maksudnya, pertahankan terus kebiasaan itu. Toilet training harus dilakukan tanpa bosan, tanpa ada jeda. Melakukannya secara tidak konsisten akan membuat anak berpikir toilet training hanya dilakukan di saat-saat tertentu saja, bukan sesuatu yang harus dijadikan kebiasaan.

    G. Gunakan tempat yang aman
        
    Pastikan kamar mandi Anda aman untuk toilet training karena kamar mandi merupakan lokasi yang riskan kecelakaan. Pastikan lantainya tidak licin, pasang benda yang bisa dijadikan pegangan ketika anak melakukan toilet training, atau paling tidak Anda harus pasang badan untuk dijadikan tumpuan. Jangan sampai terjadi hal yang tidak diinginkan.

    H. Hentikan membanding-bandingkan

        
    Kesiapan dan kemampuan anak melakukan toilet training berbeda-beda. Mungkin anak Anda sedikit lebih cepat atau justru lebih lambat daripada yang lain, itu sah-sah saja. Jangan terpengaruh dengan cerita orang sehingga terlalu memaksakan diri dan anak hingga menciptakan tekanan. Lakukan dengan santai saja.

    I. Insting harus dipertajam

        
    Anda harus mempertajam insting, kapan saatnya anak buang air. Anda mungkin sering terkecoh di masa-masa awal. Namun semakin lama insting Anda pasti terasah dan biasa mengenali waktu-waktu "genting" itu.

    J. Jangan menyerah
        
    Bila Anda merasa segala usaha Anda belum berhasil, jangan pernah menyerah. Suatu hari, anak pasti bisa!

    TABLOIDBINTANG

    Berita lainnya:
    Kunci Sederhana Jantung Sehat: Ikan Salmon
    Manisan Bola Bit yang Menawan
    Sejarah Gigi Palsu Ternyata sudah Berjalan 4 Abad


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Wabah Virus Corona Datang, 13.430 Narapidana Melenggang

    Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly memutuskan pembebasan sejumlah narapidana dan anak demi mengurangi penyebaran virus corona di penjara