Etika Izin Sakit, Perhatikan 5 Pertimbangannya  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi wanita sakit. shutterstock.com

    Ilustrasi wanita sakit. shutterstock.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Kita mungkin pernah mengalami, tiba-tiba meminta izin kepada bos lewat telepon atau pesan instan untuk tidak masuk karena sakit. Padahal dalam beberapa kasus, tak jarang peminta izin itu sebenarnya dalam kondisi baik-baik saja atau tidak mengalami sakit serius yang memang membutuhkan istirahat.

    Isi Tas Wanita Sukses

    Sebelum memutuskan untuk meminta izin tidak masuk kerja, dan apakah kita memang lebih baik tinggal di rumah saja, coba perhatikan dan pertimbangkan lima hal berikut ini, seperti dilansir Very Well.

    1. Apa gejalanya?
    Apakah kita mengalami demam, penyakit berpotensi menular, atau gejala tertentu lain? Apakah temperatur tubuh di atas 39 derajat Celsius? Jika ya, sebaiknya kita memang tinggal di rumah saja agar tidak menularkan penyakit pada rekan-rekan.

    Apakah kita juga batuk tanpa henti, muntah-muntah, diare, mengalami masalah kulit yang menular, kelelahan luar biasa yang membuat kita tak kuat bangun? Bila ya, memang lebih baik di rumah saja untuk memulihkan diri.

    2. Bagaimana kondisi?
    Bila kita merasa kondisi begitu buruk sehingga sulit untuk produktif, sebaiknya tak usah masuk kerja. Mungkin bila beristirahat di rumah, kondisi tersebut akan membaik daripada memaksakan diri tetap bekerja tapi hasilnya tidak maksimal.

    3. Apakah ada cuti sakit?
    Andaikan ada cuti sakit yang diberikan kantor, ambil saja. Jika tidak, keadaan itulah yang sulit. Ada saat-saat tertentu di mana kita tak bisa bekerja, tak peduli apakah ada cuti sakit atau tidak. Bila kita mengalami pilek biasa atau hanya sakit ringan, tak perlulah mengambil cuti sakit.

    4. Apakah penyakitnya berbahaya buat orang lain?
    Bila diagnosis dokter menyatakan penyakit kita menular, sebaiknya kita memang tidak usah masuk kerja karena berpotensi menyebarkan penyakit kepada teman-teman kantor atau orang-orang di perjalanan. Pilek memang menular, tapi tidak membahayakan orang lain, kecuali bila kita bekerja di tempat yang berinteraksi intensif dengan anak-anak, lanjut usia, dan orang-orang yang sistem kekebalan tubuhnya lemah.

    5. Apa pekerjaan kita?
    Bila kita bekerja di tempat yang banyak orang, mungkin tinggal di rumah saat merasa tidak enak badan perlu dipikir ulang. Pertimbangan yang sama juga bisa diambil oleh mereka yang bekerja di bidang layanan publik, seperti karyawan restoran atau toko.

    PIPIT

    Berita lainnya:
    Tipe Rekan Kerja yang Bikin Anda Jengkel
    Perjalanan Karier Mereka yang Berusia 21 Tahun ke Bawah
    Bagaimana Bentuk Alis yang Tepat untuk Wajah Oval, Bulat, dan Persegi?


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Mereka Boleh Tetap Bekerja Saat DKI Jakarta Berstatus PSBB

    PSBB di Jakarta dilaksanakan selama empatbelas hari dan dapat diperpanjang. Meski demikian, ada juga beberapa bidang yang mendapat pengecualian.