Cek Hasil Penelitian tentang Zat Rokok Elektrik atau Vaping

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi rokok elektrik atau vaping dan rokok tembakau atau konvensional. Shutterstock

    Ilustrasi rokok elektrik atau vaping dan rokok tembakau atau konvensional. Shutterstock

    TEMPO.COJakarta - Mengisap vape atau rokok elektrik kini tengah menjadi tren di kalangan masyarakat urban di Indonesia. Pada awalnya, rokok dimaksudkan sebagai alternatif bagi orang yang ingin berhenti merokok karena dianggap memiliki risiko jauh lebih rendah dibandingkan rokok konvensional. Benarkah demikian?

    Masih Sayang Mantan

    Yayasan Pemerhati Kesehatan Publik (YPKP Indonesia) melakukan penelitian terkait dengan Kajian Keamanan dan Risiko Rokok Elektrik di Indonesia. Penelitian kualitatif dilakukan terhadap sembilan jenis cairan atau e-liquid yang digunakan untuk rokok elektrik.

    Adapun penelitian dilakukan oleh Ketua YPKP Indonesia Achmad Syawqie bersama tim peneliti dari Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjajaran. Salah satu tim peneliti dan dosen dari Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjajaran, Amaliya, mengatakan rokok elektrik kini tengah menjadi tren dan alternatif baru untuk penanggulangan ketergantungan rokok.

    “Rotrik (rokok elektrik) dinilai lebih aman karena menggunakan e-liquid dengan kandungan yang tidak berbahaya dan lebih rendah risikonya dibanding rokok konvensional,” kata Amaliya dalam diskusi bersama YPKP Indonesia di Jakarta. Pada rokok elektrik ditemukan kandungan UP Propylene Glycol, USP Glycerin Natural/Vegetable dan pemanis buatan. Namun itu bukanlah zat berbahaya dan aman dikonsumsi manusia.

    “Adapun kemungkinan bahaya yang ditimbulkan hanya saat zat-zat tersebut terdegradasi menjadi zat lain. Namun hal itu hanya didapati pada lima jenis cairan rokok elektrik setelah dipanaskan pada suhu tinggi,” ujar Amaliya.
     
    Melalui kajian tersebut, YPKP Indonesia akan terus mengedukasi perokok aktif hingga komunitas rokok elektrik bahwa pemakaian rokok elektrik bisa menjadi alternatif bagi kecanduan rokok dengan risiko yang lebih rendah. “Namun rokok elektrik hanya disarankan bagi perokok yang ingin berhenti dari kecanduan. Tidak disarankan bagi mereka yang belum pernah merokok,” tutur Amaliya.

    TABLOIDBINTANG

    Berita lainnya:
    Perhatikan Kecukupan Minum Anak untuk Hindari Dehidrasi 
    Menjadi Astronot Ternyata Rawan Masalah Kesehatan 
    Diabetes, Penyakit Pembunuh Nomor 3 di Indonesia


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Cara Memberlakukan Kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar

    Presiden Joko Widodo telah menandatangai PP No 21 Tahun 2020 yang mengatur pelaksanaan Pembatasan Sosial Berskala Besar menghadapi virus corona.