Informasi Keliru Bikin Diabetesi Malas Pakai Insulin

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi diabetes. shutterstock.com

    Ilustrasi diabetes. shutterstock.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Penggunaan insulin di Indonesia masih belum memenuhi harapan. Ketua Persatuan Diabetes Indonesia (Persadia) Cabang Medan, Sumatera Utara, Syarifuddin Ritonga menyatakan tidak mudah untuk menawarkan insulin kepada penderita diabetes meskipun obat itu diperlukan untuk menurunkan kadar gula darah.

    "Tidak mudah untuk menawarkan insulin pada penderita diabetes karena sebagian besar dari penderita kurang mendapatkan informasi yang baik dan benar tentang insulin," kata Syarifuddin di Medan, Selasa (15/11/2016).

    Dari penelitian diketahui sekitar 54,5 persen pasien diabetes tanpa insulin menyatakan khawatir memakai insulin, dan 27 persen menolak saat ditawarkan insulin (UKPDS). 

    Menurut Syarifuddin, banyak penderita diabetes mendapat informasi yang salah mengenai insulin. Kebanyakan informasi yang salah itu diperoleh dari kalangan nonmedis. "Untuk itu, perlu ada klarifikasi dan diseminasi informasi yang benar tentang insulin sehingga diharapkan masyarakat lebih mudah menerima insulin jika memang diperlukan untuk pengobatan diabetes mereka," katanya.

    Ia mengatakan dalam keadaan tertentu insulin merupakan satu-satunya pilihan untuk dapat menurunkan kadar gula darah secara cepat pada penderita diabetes tipe 1, misal karena gagal dengan obat minum dan dalam keadaan kritis.

    Untuk penderita diabetes tipe 2 -- lebih dari 95 persen penderita diabetes merupakan tipe 2 -- secara umum bisa menggunakan obat minum disertai dengan perencanaan makan dan olah raga. Namun, ketika didiagnosis kemampuan pankreas memproduksi insulin hanya 50 persen maka seringkali penderita diabetes tipe 2 pada akhirnya juga butuh insulin, begitu menurut Syarifuddin.

    Syarifuddin menambahkan, terjadinya gula darah yang tinggi akibat pabrik insulin, yaitu pankreas, tidak mampu memproduksi insulin (disebut insulin endogen ) sesuai dengan kebutuhan tubuh. Pada saat yang sama sel-sel tubuh kurang sensitif dengan insulin sehingga dibutuhkan insulin yang lebih banyak untuk memasukkan gula darah ke dalam sel.

    Selain itu, diabetes adalah penyakit kronis yang ditandai dengan kadar gula darah tinggi yang berkepanjangan sehingga sering mengakibatkan beragam penyakit aterosklerosis atau penyempitan pembuluh darah yang berujung pada serangan jantung, stroke, penyakit pembuluh darah perifer, gagal ginjal kronis, kebutaan, amputasi, dan lain-lain.

    "Jika gagal dimasukkan ke dalam sel maka gula darah akan tetap disirkulasi pembuluh darah dan bila diukur kadarnya tinggi, itulah yang disebut dengan diabetes," katanya.

    Beragam usaha untuk menentukan gula darah telah diupayakan, baik dalam bentuk obat minum maupun obat injeksi. Obat minum juga tersedia dalam beragam cara kerja, ada yang meningkatkan kepekaan sel-sel tubuh terhadap insulin.

    "Di sisi lain ada juga usaha meningkatkan kadar insulin itu sendiri dengan menambah insulin dari luar tubuh dan sampai saat ini insulin eksogen baru tersedia dalam bentuk suntikan," kata dosen senior Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip) Universitas Medan Area (UMA) itu.

    BISNIS

    Artikel lain:
    Jor-joran Minum Obat Pelangsing, Pahami tentang Metabolisme
    Mengenali Negeri dengan Kemudahan Menjadi Warganegara
    Lemon Bisa buat Mengecat Rambut dan Mengusir Kuman Lho


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ada 283 Jenazah Dikuburkan dengan SOP Covid-19 di DKI Jakarta

    Anies Baswedan menyebut Dinas Kehutanan dan Pertamanan telah mengubur 283 jenazah dengan SOP Covid-19. Jumlah penguburan melonjak pada Maret 2020.