Private Barber, Profesi Kekinian yang Menjanjikan

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Barber Shop. facebook.com

    Barber Shop. facebook.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Jika Anda perhatikan dengan seksama, saat ini semakin banyak dibuka gerai barber shop atau gerai pangkas rambut khusus pria. Di sela-sela booming bisnis itu, muncul ide-ide kreatif dari sebagian generasi milenial membuka jasa male grooming yang lebih private, yang memanfaatkan tren pria pesolek dengan caranya sendiri.

    Mereka memilih menjadi tukang pangkas pribadi atau home-delivery barber demi membidik segmen pasar yang lebih eksklusif; seperti para selebritas, ekspatriat, atau bahkan pejabat negara.

    Salah satu anak muda kreatif yang memilih menjadi private barber spesialis adalah Nikasius Dirgahayu yang sudah memiliki beberapa pelanggan setia, antara lain Raffi Ahmad, Raditya Dika, Dennis Adhiswara, Adipati Dolken, hingga pejabat negara seperti Hidayat Nur Wahid.

    Pria yang akrab disapa Nick itu mengawali kariernya sejak akhir 2012. Mulanya, lulusan Institut Kesenian Jakarta (IKJ) ini sering dimintai tolong memangkas rambut teman-temannya. Dia pun belajar tentang hair styling secara otodidak dari pengalaman itu.

    “Pertama kali saya dibayar seharga Rp 50 ribu. Dari sana lantas saya semakin menemukan passion saya di dunia tata rambut. Akhirnya saya mulai belajar langsung dari tiga barber profesional asal Amerika Serikat untuk meningkatkan teknik styling,” ujarnya.

    Di tengah booming salon kekinian khusus pria sejak 2012, Nick justru memilih untuk menjajakan jasanya dengan sistem home delivery. Tujuannya adalah untuk menjaga kualitas kerja dan kepuasan pelanggan.

    “Kalau kita bicara barbershop, saat ini banyak sekali salon yang mempekerjakan tukang pangkas ala kadarnya dengan kemampuan memotong rambut dan styling yang biasa-biasa saja. Hanya saja mereka ditunjang interior bagus dan ruangan ber-AC,” ujarnya.

    Sebuah barbershop, menurut Nick, seharusnya bukan sekadar tempat untuk pangkas rambut, tetapi juga tempat bersosialisasi, mengobrol, menemukan teman baru, dan berinteraksi. Kiblat barbershop yang ideal itu adalah Amerika Serikat.

    “Jadi ada koneksi yang bagus antara barber dengan konsumen. Beda dengan di sini. Di barbershop, ketika orang mengantri, mereka tidak bicara satu sama lain. Selesai potong rambut, lalu sudah begitu saja. Hubungannya hanya sebatas bisnis,” tuturnya.

    Hal itu juga menjadi alasan mengapa dia memutuskan menjadi private barber. Sebab, dia bisa membangun kedekatan dengan konsumennya. Dia bisa menganggap konsumennya sebagai teman untuk saling curhat dan membangun relasi yang lebih personal.

    Selain itu, dia bisa mendapatkan konsumen pria dandy yang lebih eksklusif. Mulai dari selebritas, pejabat, hingga ekspatriat. Namun demikian, dia juga meladeni permintaan dari pasien di rumah sakit atau warga manula yang sudah tidak mampu keluar rumah lagi.

    BISNIS

    Berita lainnya:
    7 Hal yang Dibenci Kaum Lajang
    Mau Kurus? Berhenti Makan Setelah Kenyang 80 Persen
    Lukman Sardi Tampil Satu Frame Bersama 2 Artis Ini


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Wabah Virus Corona Datang, 13.430 Narapidana Melenggang

    Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly memutuskan pembebasan sejumlah narapidana dan anak demi mengurangi penyebaran virus corona di penjara