Kini Saatnya Busana Muslim Tak Feminin

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Model mengenakan pakaian dari rancangan desainer Jenahara pada Jakarta Fashion Week 2017 di Senayan City, Jakarta, 22 Oktober 2016. ANTARA FOTO

    Model mengenakan pakaian dari rancangan desainer Jenahara pada Jakarta Fashion Week 2017 di Senayan City, Jakarta, 22 Oktober 2016. ANTARA FOTO

    TEMPO.CO, Jakarta - Suara deru sepeda motor 1.000 cc hingga lagu punk yang puitis menjadi musik pengiring pertunjukan pilihan para perancang busana muslim (modest wear) generasi muda yang merupakan rangkaian perhelatan Jakarta Week Fashion di Jakarta, akhir Oktober lalu. Pilihan musik ini pun sesuai dengan tema koleksi yang mereka buat. Sudah dapat ditebak, koleksinya bakal bernuansa rock and roll.

    Tipe Karyawan

    Norma Moi mengusung tema Road Chic untuk koleksi Norma Hauri. Tapi kita tak bakal menemukan corak atau pernak-pernik serba bunga yang menampilkan kesan chic. Juga tak menemukan hiasan aneka batuan mahal semacam berlian sebagai pengganti payet. Norma mengganti semuanya dengan hiasan berbau sepeda motor. Rantai menjadi pengganti embellishment bunga. Pelindung lutut dan lengan diubah menjadi aksesori yang memperkaya tampilan celana dan atasan. Tentu saja busana ini  tetap layak pakai (wearable), meski berubah fungsi menjadi pemanis busana.



    Norma Hauri

    Norma yang berkolaborasi dengan UTIC, perusahaan yang menangani pewarnaan material asal Jepang, banyak membubuhi busananya dengan zipper atau ritsleting. Ritsleting itu ia sematkan di lutut, pangkal paha, betis, selangkang, dada, dan di berbagai tempat lainnya. Seakan ritsleting adalah aksesori andalannya untuk koleksi Spring/Summer 2017.

    Norma menyandingkannya dengan hijab bergaya pemotor gede (bikers). Selembar kain melingkar di kepala persis seperti penunggang motor gede melilitkan slayer. Ada juga hijab yang dibuat mirip kupluk alas helm—pelindung sebelum memakai helm—yang terbuat dari kulit.

    Norma tak tanggung-tanggung menampilkan citra pemotor gede perempuan (ladies biker) di tahun 1950-an. Dia membuat sarung tangan dan jaket kulit untuk melengkapi 24 koleksi yang ditampilkan. Presentasinya semakin kuat dengan sepatu bergaya bot yang menutupi kaki para model.

    Dia memilih motif zigzag atau chevron untuk diaplikasikan di organza. Selain sebagai simbol marka jalan, chevron identik dengan kecepatan yang identik dengan biker. Norma getol mengusung komunitas ladies biker karena sesuai dengan semangat pemberdayaan perempuan (empowering women) yang dibawa labelnya. “Komunitas itu menggambarkan sebuah kemandirian dan free spirit yang kuat dari perempuan,” kata dia.

    Ladies bikers itu dipresentasikan dalam warna hijau tua, merah dan hitam. Busananya kebanyakan berupa padanan atasan-bawahan dengan luaran berupa cape coat menjuntai atau beraksen belt dan jaket. Tapi ada juga gaun hitam dari bahan anti-air yang menjadi adikarya (masterpiece) koleksinya.

    Koleksi lain yang jauh dari kata ultrafeminin adalah milik Jenahara Nasution melalui label Jenahara Black Label. Alih-alih menyematkan motif bunga, Jehan justru menyematkan kalimat berdaya (powerfull) milik Patti Smith, The Godmother of Punk Rock.

    Jenahara menggunakan kombinasi hitam dan rantai untuk mengeluarkan aroma punk rock. Warna hitam kian menonjol berkat kemeja putih yang menjadi “atasan”. Koleksi yang ditonjolkan berupa celana hitam loose. Supaya nyaman digunakan sehari-hari, Jehan menggunakan bahan katun dan gabardine.

    Ciri khas Jenahara muncul lewat garis desain yang lurus, tegas, dan minimalis. Ini membuat busananya mudah dipadu-padankan. “Selama ini perempuan berhijab selalu digambarkan dengan style yang sangat feminin dan anggun. Lewat koleksi ini saya ingin menunjukkan bahwa berhijab juga bisa punya karakter yang beda,” kata dia.

    Karakter yang beda juga muncul dari koleksi Anandia Putri lewat label I.K.Y.K yang bertema Sinsa Utility. Koleksinya tetap khas, ukuran gombrong (oversized). Kesan pemberontakan (rebel) tetap terlihat meski busananya dominan cokelat. Ini paling jelas terlihat di luaran yang punya detail kain-kain yang bisa diikat seperti hanbok. “Saya ingin tunjukkan bahwa modest wear bisa tetap gaya dipakai pria dan wanita, dan diterima berbagai kalangan,” kata dia.

    Desainer lainnya, Rani Hatta, juga menyemarakkan tren modest wear yang berani tampil beda. Oversized sweater, bomber jacket, sweater dress, wideleg pants, t-shirt, dan hoodie adalah sebagian koleksi yang terinspirasi oleh seragam anak SMA. Koleksinya menonjol berkat paduan warna hitam, putih dan abu-abu. Koleksi sporty ala Rani Hatta ini merupakan koleksi Spring/Summer 2017.

    Jadi, sudah terbayang kan busana muslim yang bakal membanjiri tahun depan.

    DINI PRAMITA

    Berita lainnya:
    Waspadai 5 Bahaya Kencan Online
    Cara Mencuci Bantal dengan Mesin Cuci
    #JaketJokowi dan Teka-teki Kenapa Berjaket


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Cegah Covid-19, Kenali Masker Kain, Bedah, N95, dan Respirator

    Seorang dokter spesialis paru RSUP Persahabatan membenarkan efektifitas masker untuk menangkal Covid-19. Tiap jenis masker memiliki karakter berbeda.