5 Kiat Sukses dari Bos Snapchat Evan Spiegel  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • SnapChat (Foto: nbcbayarea)

    SnapChat (Foto: nbcbayarea)

    TEMPO.COJakarta - Snapchat tengah menjadi tren, terutama di kalangan anak muda. Aplikasi berbasis video dan chat ini digagas Evan Spiegel, pemuda asal Amerika Serikat berusia 26 tahun. Di usianya yang masih muda, juga dengan kekayaan sekitar Rp 27,3 triliun, tak ayal Spiegel disebut-sebut sebagai salah satu miliarder termuda di dunia.

    Beberapa waktu lalu, Spiegel, yang menjabat sebagai CEO Snapchat, sempat mengisi pidato kelulusan di Universitas Southern California Marshall, Los Angeles, Amerika Serikat. Dalam pidatonya, dia membagikan beberapa kiat untuk mendapatkan karier yang sukses.

    1. Jangan takut berbeda 
    Spiegel menekankan, tak perlu takut menjadi berbeda. Dia berkisah, suatu kali ia menghadiri acara wisuda di Universitas Stanford dan pura-pura ikut melakukan selebrasi kelulusan. Padahal saat itu ia belum lulus kuliah. Dia melakukan itu agar terlihat sama seperti teman-temannya.

    “Saya berjalan ke podium kelulusan hanya untuk menerima ijazah kosong sebagai formalitas,” ujarnya. Spiegel merasa itu sangat konyol. “Saya kemudian menyadari betapa konyolnya sandiwara kelulusan saya itu. Kita terkadang melakukan hal bodoh agar terhindar terlihat berbeda dari orang lain."

    Setelah pengalaman tersebut, ia memutuskan meninggalkan kuliahnya dan mengembangkan Snapchat. Lewat cerita tersebut, Spiegel ingin menyampaikan tak ada salahnya terlihat berbeda. Tapi bukan berarti ia menyarankan para mahasiswa tidak menyelesaikan studi seperti dia. 

    2. Percaya diri dan buktikan kemampuan
    Ketika Spiegel membuat Snapchat, banyak orang meragukan aplikasi yang digemari kaum selebritas Hollywood itu bakal sukses. Namun, karena rasa percaya diri dan terus mengembangkan Snapchat, aplikasi tersebut kini telah digunakan lebih dari 100 juta orang per harinya.

    Hikmahnya, Anda harus percaya diri atas apa yang Anda kerjakan. Selain itu, tunjukkan pada orang-orang bahwa Anda punya kemampuan yang tak bisa dianggap enteng.     

    3. Jangan takut pada tantangan dan terus berusaha
    Saat Anda berada di dunia kerja, akan ada banyak tantangan yang datang. Saat mendapatkan tantangan, Anda dituntut untuk bisa mencari solusi. Ada masanya Anda merasa stres dan putus asa karena tak kunjung mendapat jalan keluar. Tapi jangan pernah menyerah dan teruslah mencari solusi. “Ingat, tidak ada yang tahu mengenai hasil akhir dari usaha kita. Yang terpenting, terus berusaha,” ujar Spiegel. 

    4. Temukan sesuatu yang tak rela dilepaskan 
    Spiegel pernah menolak tawaran senilai US$ 3 miliar atau setara dengan Rp 38,9 triliun dari Facebook saat merintis Snapchat. Kecintaan terhadap Snapchat-lah yang membuat dia enggan menjualnya.

    “Cara untuk menemukan sesuatu yang benar-benar Anda cintai adalah bila Anda tak rela melepas atau menjual hal tersebut. Banyak yang mempertanyakan mengapa saya dulu tak mau menjual Snapchat, padahal belum tentu aplikasi itu akan sukses,” ujarnya.

    “Terlepas dari Anda akan menjual ide Anda atau tidak, Anda akan belajar sesuatu yang berharga mengenai diri Anda. Jika Anda rela menjualnya, Anda akan tahu bahwa hal tersebut mungkin bukanlah mimpi Anda. Carilah apa yang benar-benar Anda sukai dan cintai,” kata Spiegel.

    5. Kesalahan dan kegagalan itu wajar 
    Kesalahan dan kegagalan adalah sesuatu yang wajar. Saat itu terjadi, segera minta maaf. “Kita pasti akan melakukan banyak kesalahan. Jangan sampai Anda tidak mengakui kesalahan Anda. Saat Anda membuat kesalahan, segera minta maaf dan berdoa agar dimaafkan,” ujarnya. Jadikan kesalahan atau kegagalan sebagai pelajaran agar kelak hal tersebut tidak terulang lagi.

    TABLOID BINTANG

    Berita lainnya:
    Berburu #JaketJokowi, Zara: Tunggu Stok Berikutnya 
    Syukur dan Berbahagialah Anda dengan Kelebihan Manusia 
    Anemia Ternyata Bukanlah Penyakit Akibat Kurang Darah


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kebijakan Lockdown Merupakan Kewenangan Pemerintah Pusat

    Presiden Joko Widodo menegaskan kebijakan lockdown merupakan wewenang pusat. Lockdown adalah salah satu jenis karantina dalam Undang-undang.