Anak Kurang Gizi, Jangan Buru-buru Dijejali Suplemen  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi anak tidak mau makan. shutterstock.com

    Ilustrasi anak tidak mau makan. shutterstock.com

    TEMPO.COJakarta - Pemberian suplemen memang tidak dianjurkan secara membabi-buta. Menurut dokter anak Yoga Devaera, suplemen disesuaikan dengan apa yang kurang pada anak. Misalnya, anak dengan tubuh kurang berat, alias underweight, diberi suplemen penambah nafsu makan yang berisi ekstrak sayur dan buah. "Kalau anak kurus karena kurang protein," katanya.

    Spesialis nutrisi anak dan penyakit metabolik ini mengatakan rata-rata masalah gizi anak Indonesia adalah kurangnya zat besi dan seng. Kondisi tersebut bisa dideteksi dengan melihat kadar hemoglobin dalam darah. 

    "Tanda awal adalah wajah yang pucat," ujar Yoga. Kalau sudah parah, memang harus dibawa ke dokter. Tapi, sebelum kebablasan, dia menyarankan untuk memantau pola makan si kecil. Kalau kurang salah satu zat gizi, cari sumber yang sama yang bisa melengkapinya.

    Ambil contohnya ikan karena terkadang ada anak yang memang alergi terhadap ikan. "Tapi jangan langsung dipukul rata dia alergi semua ikan. Bisa saja hanya satu jenis ikan," ujar Yoga.

    Dia menyarankan agar kekurangan itu ditambal dengan telur atau minyak canola yang kaya nutrisi yang sama. "Itu adalah cara pemberian suplemennya," kata pengajar di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia ini.

    Suplementasi, kata dia, berjalan lebih baik dengan variasi makanan. Tidak mau makan nasi, ada pilihan sumber karbohidrat lain, yaitu kentang, singkong, atau ubi. "Makan itu proses belajar bagi anak, bukan instan," ujar Yoga. 

    Bila anak menolak atau muntah ketika dikenalkan pada satu makanan, orang tua dan pengasuh tidak boleh menyerah. Sebab, zat baru yang masuk ke lidah anak masih dianggap asing, baik bentuk maupun rasanya. "Kalau sudah lebih dari tiga kali dia menolak, memang dia tidak mau," ujarnya.

    Orang tua dan pengasuh, tutur Yoga, harus mengenalkan jenis makanan secara berurutan dalam pertumbuhan anak. Dari yang cair, bertekstur halus, hingga sedikit kasar. Kalau terlewat salah satu proses, anak biasanya kesulitan menelan, yang terlihat dengan cara dia mengemut makanan. 

    Mengemut itu menunjukkan anak sudah kenyang atau dia tidak mampu mengunyah makanan yang diberikan. Jadi jangan melewatkan proses belajar makan agar kelak tidak ada masalah gizi.

    KORAN TEMPO

    Berita lainnya:
    Ketumbar, Manfaat dan Rasa Terbaiknya Ternyata Ada pada Akar
    Vitamin C Jeruk Jepang Yuzu 3 Kali Lebih Banyak dari Lemon
    Banyak Celah di Brokoli, Bagaimana Cara Mengolahnya?


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    New Normal, Cara Baru dalam Bekerja demi Menghindari Covid-19

    Pemerintah menerbitkan panduan menerapkan new normal dalam bekerja demi keberlangsungan dunia usaha. Perlu juga menerapkan sejumlah perlilaku sehat.