Pakai Kebaya Bikin Susah Bergerak, Salah Besar!

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi busana kebaya. TEMPO/Fahmi Ali

    Ilustrasi busana kebaya. TEMPO/Fahmi Ali

    TEMPO.CO, Jakarta - Jika Anda menganggap kebaya hanya cocok dipakai pada momentu tertentu lantaran membuat sulit bergerak, itu salah besar. Lia Natalia membuktikan kalau kebaya tak membuatnya gesit bergerak. Dengan langkah sigap, Lia tetap dapat menaiki tangga menuju halte bus Transjakarta dengan mengenakan kain batik Pekalongan bermotif flora warna terang dibalut kebaya kutu baru dari bahan sifon bermotif bunga. Langkahnya cekatan menaiki tangga demi tangga.

    Di JFW 2017, Wagub Djarot Cerita Waduk Melati

    Perempuan berusia kepala empat itu percaya diri berkebaya di tengah keramaian bus Transjakarta. “Saya sudah biasa melakukan ini. Berkebaya setiap saat, bahkan naik busway atau kereta bukan masalah. Saya bangga mengenakan kebaya busana asli dan indentitas Indonesia,” kata Lia Natalia.

    Lia yang wartawan sebuah media asing mengatakan mulai berkebaya pada September 2014. Lia menyukai kebaya kutubaru. Busana ini membuatnya mendapat terapi positif untuk mengontrol emosi, bisa menyenangkan diri, dan tidak cepat marah. “Positifnya berkebaya bikin selalu positif, enggak cepat marah. Tidak indah, sudah berkebaya terus marah-marah,” kata Lia anggota dan penggagas komunitas Perempuan Berkebaya (PB) di Jakarta.

    Alasan lain yang membuat Lia selalu ingin berkebaya adalah tanggung jawab moral ingin melestarikan kebaya sebagai busana lokal milik negeri sendiri. “Ini bukan sekadar jargon. Ini sebuah komitmen,” kata Lia.

    Sementara itu, Rahmi Hidayati menuturkan kini komunitas Perempuan Berkebaya sudah tersebar di Yogyakarta, Solo, Bogor, Bandung, Banten, Cirebon, dan Bukittinggi. “Anggota yang aktif sekitar 200 orang, tapi di media sosial tercatat lebih dari seribu orang,” kata Rahmi.

    Salah satu penggagas Perempuan Berkebaya ini menerangkan pendirian komunitas ini tercetus ketika acara halalbilhalal tahun 2014 yang dilakukan sekelompok wartawan politik era 1990-an, di rumah seorang wartawati Kompas di Ciledug. “Itu ide spontan. Dengan berkebaya setiap saat, membuat perempuan Indonesia lebih percaya diri mengenakan busana bangsa sendiri,” ujar dia.

    Rahmi menceritakan saat sedang kongko bersama teman-temannya di pusat belanja atau di tempat lain, dengan mengenakan kebaya, mereka merasa selalu seru. Bersama komunitasnya, mereka berfoto tanpa sungkan disaksikan para pengunjung lain.

    Menurut perempuan berkacamata ini, tidak ada persyaratan khusus untuk masuk menjadi anggota komunitas ini, karena sifatnya sangat cair. “Siapa saja yang mencintai kebaya bisa bergabung dan mengikuti kegiatan-kegiatan yang diadakan Perempuan Berkebaya, atau berinisiatif membuat kegiatan bersama teman-teman yang juga cinta kebaya,” kata konsultan humas ini.

    “Berkebayanya juga tak harus setiap hari,” kata Rahmi. Sebab, mungkin ada orang yang bisa dan ada yang karena kondisi tertentu tidak dapat berkebaya setiap hari. “Syarat yang mau bergabung ya mencintai kebaya. Dan biasanya kami kumpul berkebaya bareng saat menghadiri undangan, acara resmi di kantor, hingga kumpul bareng teman. Pokoknya hal ini sudah cukup memperlihatkan kecintaan terhadap kebaya.”

    Komunitas Perempuan Berkebaya ini, kata Rahmi, umumnya berkumpul untuk mempererat silaturahmi, di samping menggelar diskusi mengenai berbagai hal, seperti soal buku HIV dan batik. Atau belajar membatik, belajar tentang nutrisi, hingga naik gunung bersama. “Harapan kami terbesar adalah menjadikan kebaya lebih dikenal hingga ke mancanegara.

    Dengan demikian, warisan budaya Indonesia tetap terjaga, bahkan lebih terkenal,” ujar dia. Menurut dia, dengan semakin dicintainya kebaya, yang digunakan sebagai busana sehari-hari, diharapkan hal ini akan memicu berkembangnya ekonomi kerakyatan, mengingat industri busana melibatkan banyak tenaga kerja.

    Komunitas ini juga sedang berupaya menggandeng berbagai pihak, termasuk akademikus, untuk membuat kajian sejarah kebaya di Indonesia. “Dengan kajian ini, kita bisa mengetahui bagaimana sebenarnya asal-muasal kebaya dan bagaimana penyebarannya di Tanah Air,” kata Rahmi. Ia pun berpendapat bahwa kebaya merupakan warisan budaya bangsa yang harus dijaga dan dilestarikan. Rahmi menepis anggapan bahwa berkebaya mahal dan ribet.

    Sementara itu, artis Christine Hakim mengatakan bersukacita menyaksikan kini banyak perempuan berkebaya dan bisa ditemui di acara-acara, kantor, mal, bioskop, restoran, bahkan acara diskusi atau undangan. “Peran media sosial yang memajang status, komentar, salah satu faktor penggerak tumbuhnya kesadaran untuk berkebaya,” kata artis senior ini.

    Christine menilai kemunculan komunitas Perempuan Berkebaya menjadi daya tarik bagi perempuan lain untuk mengenakan kebaya setiap saat. “Berkebaya itu cantik lho, karena jati diri Indonesia. Saya yakin berkebaya bikin perempuan Indonesia terlihat lebih cantik dan percaya diri,” kata Christine, yang mengaku setiap menghadiri acara ke luar negeri selalu berkebaya.

    Adapun perancang Amy Atmanto menyatakan bahagia menyaksikan semakin banyaknya perempuan berkebaya yang bisa dijumpai setiap saat, di berbagai tempat dan dalam kegiatan apa pun. “Menariknya, banyak remaja yang juga ikut berkebaya. Hal ini bermakna positif, karena mereka makin mencintai busana bangsa sendiri,” ujar Amy.

    HADRIANI P

    Berita lainnya:
    Ladies, Jangan Sering Pakai Baju Dalam Berbahan Sutra
    Bagaimana Cara Bayi Bertransisi dari ASI ke Susu Formula
    Koleksi Iwet Ramadhan Buat Penyintas Kanker di JFW 2017


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Arti Bilangan R(0) dan R(t) untuk Menerapkan New Normal

    Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Suharso Monoarfa mengatakan bahwa suatu daerah dapat melaksanakan New Normal bila memenuhi indikator R(0).