Terobosan Baru Alat Pacu Jantung Mini Kinerja Maksi

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi alat pacu jantung. shutterstock.com

    Ilustrasi alat pacu jantung. shutterstock.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Irama jantung yang stabil menjadi salah satu pertanda kondisi fisik dan psikologis Anda dalam keadaan baik. Irama atau detak jantung yang mendadak lambat ataupun cepat mesti disiasati dengan cepat. Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, Yoga Yuniadi mengatakan kelainan irama jantung atau aritmia bisa mengakibatkan masalah fatal. “Kelainan ini disebabkan oleh gangguan sinyal listrik,” kata Yoga. “Denyut bisa menjadi lebih cepat atau lebih lambat.”

    Hunian Ideal Pasangan Muda

    Untuk yang denyut jantung yang lambat, menurut Yoga, bisa mengakibatkan stroke atau membuat penderitanya sering tiba-tiba pingsan. Untuk mengatasi masalah irama jantung yang lambat, dokter memasang alat pacu jantung agar denyutnya kembali normal. Alat pacu jantung sudah digunakan sejak 1958. Pertama kali dibuat, ukurannya masih sangat besar, dengan berat 73,4 gram dan ukuran 35 sentimeter kubik. Makin lama ukurannya makin kecil. Sejak dua tahun lalu, ada alat pacu jantung berukuran mini. Beratnya hanya 2 gram dengan ukuran 1 sentimeter kubik, lebih kecil daripada satu ruas jari orang dewasa.

    Operasi yang berlangsung di Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita pada awal Oktober lalu menjadi momentum pertama kalinya alat pacu jantung mini ini dipasang di dalam tubuh empat pasien. Indonesia merupakan negara kedua di Asia Tenggara yang sudah menerapkan alat pacu jantung mini itu setelah Malaysia.

    Alat tersebut tak berbeda jauh dari alat generasi sebelumnya yang mulai dipakai pada 2009. Hanya ukurannya yang mungil dan tanpa kabel. Sementara alat lama seukuran stopwatch, alat pacu jantung mini ini besarnya hanya sepersepuluh dari alat tersebut. Juga tanpa kabel, sehingga bisa langsung diletakkan di dalam jantung. Alat ini tak seperti alat jantung konvensional yang ditanam di bawah kulit dada dan dihubungkan dengan kabel ke jantung.

    Meski ukurannya mini, performanya mumpuni. Baterai alat tersebut bisa bertahan sampai 12 tahun, hampir sama dengan alat pacu jantung sebelumnya. Pemasangannya juga membutuhkan waktu lebih singkat dibanding alat biasa, yakni 5 menit. Jika ditambah dengan waktu memasukkan alat pengantar alias delivery system, total pengerjaannya hanya sekitar 10 menit. Jauh lebih cepat ketimbang pemasangan alat lama, yang sekitar 45 menit hingga satu jam.

    Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah dari Rumah Sakit Mitra Keluarga Bekasi, Faris Basalamah, yang menyaksikan operasi pembenaman alat pacu jantung mini menjelaskan mula-mula tim dokter membius bagian lipatan paha pasien. Setelah baal, lipatan tersebut disayat untuk menjumpai pembuluh darah vena femoralis yang diameternya seukuran jari.

    Vena yang menuju jantung tersebut, kata dia, kemudian dimasuki delivery system untuk mengirim alat pacu jantung mini sampai ke serambi kanan jantung. Setelah pacemaker sampai di jantung, jangkar kecil yang ada di ujung alat tersebut dikaitkan pada dinding jantung. Kalau peranti tersebut sudah tertempel dengan baik, barulah dilepas dan ditinggal.

    Selain ukurannya yang mungil, alat itu punya banyak keunggulan. Salah satunya tak berpotensi menyebabkan trombosis alias pembekuan darah, seperti pada alat lama. Menurut Direktur Utama Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita, Hananto Andriantoro, kabel pada alat lama yang disambungkan ke jantung melalui pembuluh darah berisiko membuat darah membeku. ”Alat yang baru ini tak ada kabelnya, jadi semakin aman,” ujarnya.

    Alat lama yang ditanam di bawah kulit tersebut juga rentan menimbulkan infeksi dan kurang nyaman dipakai. Menurut Yoga Yuniadi, untuk orang tua yang kurus, alat yang ditanam di bawah kulit bisa menonjol. Lecet sedikit bisa mengakibatkan infeksi. Di Indonesia, kasus infeksi tersebut berkisar 0,2-1 persen dari total alat yang dipasang (sekitar 400 alat per tahun). Jika begini, alat harus dicabut dan diganti dengan yang baru. Masalah infeksi ini belum ditemukan pada pemasangan alat yang baru.

    Keunggulan lain, meskipun ukurannya kecil, daya tahan baterainya cukup lama, sampai 12 tahun. Kalau baterainya habis, alat yang baru bisa dipasang lagi, tanpa mencabut alat lama. Jantung bisa menerima maksimal tiga alat yang sama. Jika dihitung, pasien bisa terbantu sampai 36 tahun. ”Namun, karena alat ini baru dua tahun, belum ada pengalaman habis baterai,” kata Yoga.

    Di negara lain, seperti Amerika Serikat, alat tersebut bisa diatur dari jarak jauh dengan menggunakan sensor. Kecepatan pengaturan iramanya dan output baterainya bisa disesuaikan, tergantung kondisi pasien. Misalnya, dari 60 denyut per menit, menjadi 90 denyut, disesuaikan dengan aktivitas pasiennya. ”Alat ini kecil-kecil cabe rawit,” ujarnya. Maka tak mengherankan jika harganya cukup mahal. Sementara alat biasa harganya berkisar Rp 30-70 juta, alat pacu jantung mini ini Rp 130-150 juta.

    Di Indonesia, pengaturan jarak jauh belum bisa dilakukan karena belum ada pengaturan pada frekuensi medis. Jika dipaksakan, malah bisa bahaya. ”Malah nanti alatnya jadi melambat karena kebocoran frekuensi,” kata Yoga.

    Tapi tak semua orang yang bermasalah dengan perlambatan irama jantung disarankan menggunakan alat baru ini. Bayi yang menderita kelainan irama jantung bawaan, misalnya, belum diperbolehkan menggunakannya. Sebab, sampai sekarang, jantung baru bisa menerima tiga alat tersebut, atau jika diakumulasi umur alat tersebut sekitar 36 tahun. Sedangkan bayi masih memiliki harapan hidup panjang. Ada kemungkinan melebihi tiga kali pemasangan alat pacu tersebut.

    Untuk pasien yang memerlukan bantuan listrik pada dua kamar jantung, alat pacu jantung mini ini juga belum bisa menjadi solusi. Menurut Yoga, peranti tersebut baru bisa memacu satu kamar jantung, bilik saja atau serambi saja. Jantung memiliki empat ruang, yakni bilik kanan dan kiri serta serambi kanan dan kiri. Berapa ruang yang dibantu dengan alat, tergantung masalah pada jantung. Misalnya, pada kelainan bawaan yang membuat anatomi jantung berubah sehingga akses ke bilik atau serambi menjadi sulit, bilik dan serambi mesti dibantu sekaligus. Untuk kebutuhan seperti ini, alat pacu jantung konvensional masih menjadi jawaban.

    NUR ALFIYAH

    Berita lainnya:
    Yuk, Kita Mulai Makan yang Bersih
    RA Jeans, Lini Busana Milik Raffi-Gigi, Go International
    Shirin Gerami, Atlet Triathlon Berhijab Pertama dari Iran


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Wabah Virus Corona Datang, 13.430 Narapidana Melenggang

    Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly memutuskan pembebasan sejumlah narapidana dan anak demi mengurangi penyebaran virus corona di penjara